Allah Itu Maha Agung Maka Agungkanlah!

Allah Itu Maha Agung Maka Agungkanlah!

Kewajiban terbesar secara akal dan dalil adalah mengetahui hakikat sang Pencipta yang Maha Esa. Dialah Sang Pencipta dan Sang Pengatur alam semesta. Pada setiap makhluk terdapat tanda-tanda keagungan Sang Pencipta. Keagungan-Nya terlihat dalam menjadikan dan menciptakan segala sesuatu. Jika setiap orang mengamati dirinya sendiri secara seksama, maka akan dirasakannya keagungan Sang Pencipta. Dialah Allah ta’ala.

Merasakan keagungan Allah biasa dengan meneliti diri sendiri itulah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat:21)

Dan Nabi Nuh ‘alaihis salam telah berkata kepada kaumnya:

مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

Mengapa kamu tidak percaya akan keagungan Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”.[1] (Nuh:13-14).

Ibnu ‘Abbas juga menafsirkan ayat tersebut “mengapa kalian tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan?”

 

Keagungan Allah Terpancar pada Ciptaan-Nya

Nabi Nuh ‘‘alaihis salam mengarahkan kaumnya untuk melihat kepada diri mereka masing-masing. Tujuannya apa? Agar mereka mengetahui hakikat Allah atas mereka. Melihat keadaan diri sendiri sudah cukup memberikan pengetahuan tentang ciptaan Allah dan keagungan-Nya. Apalagi kalau memperhatikan seluruh makhluk yang ada di langit mupun di bumi!

Karena itu orang yang tidak bisa merasakan keagungan Allah dalam ciptaan-Nya berarti hanya melihat dengan mata kepala semata tanpa menyertakan akalnya. Penglihatannya hanya lewat begitu saja tanpa penghayatan, pengamatan, dan pikiran. Allah ta’ala berfirman,

وَكَأَيِّن مِّن آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.” (Yusuf:105).

Tanda-tanda keagungan Allah itu terbentang di alam raya ini. Tetapi ketika akal sudah dipalingkan dan hati telah membeku maka beragam tanda itu menjadi tidak berguna baginya. Hati yang lalai menyebabkan lemahnya rasa pengagungan terhadap Allah, bahkan akan mudah bermaksiat dan kufur kepada-Nya. Orang semacam ini akan merasa tidak berdosa untuk bahkan mencela dan menghina Sang Pencipta.

Kondisi hati dan akal itulah yang menjadikan seseorang mau mengagungkan Allah atau meremehkan bahkan mencela. Hati dan akal yang lurus menjadikan seseorang mampu merasakan keagungan Allah, sehingga akan berbakti kepada-Nya. Sebaliknya, ketika tidak mampu merasakan keagungan-Nya maka menjadi mudah bermaksiat kepada-Nya dan meremehkan-Nya.

Oleh karena itu kita dapati orang-orang musyrik justru menyembah patung-patung dan kufur kepada yang Sang Pencipta. Allah ta’ala berfirman menjelaskan akan kesalahan ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al-Hajj:73-74).

 

Bentuk-Bentuk Mengagungkan Allah

Dari bentuk pengagungan kepada Allah yaitu mengetahui sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya, serta memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya, dan menghayati nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita, dan mengambil pelajaran dari keadaan umat-umat terdahulu, serta balasan bagi orang-orang yang berdusta, percaya, beriman, dan kafir.

Di antarnya juga yaitu mengetahui syari’at-syari’at Allah, perintah-perintah-Nya, dan larangan-larangan-Nya, serta mengagungkan syariat-Nya dengan mengerjakannya, dengan itu dapat menghidupkan iman dalam hati, karena iman itu memiliki panas dan bara, panas itu akan menjadi dingin serta bara akan padam apabila seseorang beriman dengannya, menyeru tanpa menyelisihi apa yang ia serukan, serta melarang tanpa menyelisihi apa yang dilarang, oleh karenanya Allah ta’ala berfirman tentang pengagungan qurban dan haji:

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj:32)

Mengagungkan perintah serta larangan merupakan bentuk pengagungan terhadap yang memerintah. Oleh karena itu tidak akan muncul sebuah kekufuran, pembangkangan, dan hinaan kepada Allah kecuali sebelumnya terbiasa mengabaikan dan meremehkan perintah dan larangan-larangan-Nya.

Beragam bentuk penghinaan kepada Allah ta’ala sering terdengar di berbagai tempat. Dilakukan oleh orang-orang yang berpaling dari-Nya. Pelakunya adalah orang yang tidak mengetahui hakikat Allah, terbiasa mengabaikan perintah dan larangan-Nya. Mereka menyifati Allah dan menuduh-Nya dengan ucapan yang memerahkan telinga seorang mukmin. Parahnya perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengira mereka adalah muslim, karena mereka membaca syahadat kadang juga sholat. Sepertinya memang setan yang mengendalikan mulut mereka. Ketika ditegur berkilah bahwa mereka tidak bermaksud menghina. Mereka mengatakan tidak ada keinginan untuk merendahkan Sang Pencipta. Mereka beralasan hanya bercanda dan bergurau.

Gejala semacam itu perlu dipaparkan dan dijelaskan. Agar tampak benderang bahaya & kerusakan akal sehat. Sehingga menjadi jelas dan tidak disimpangkan setiap syariat yang Allah turunkan. Dengan begitu terputus jalan upaya setan dan para pembantunya. Semuanya itu juga merupakan bentuk pengagungan kepada Sang Pencipta. Sebagai upaya penyucian kepada Sang Pencipta dari segala bentuk pencelaan yang keluar dari lisan yang diinginkan nafsu yang buruk.

Jadi bisa disimpulkan yang dimaksud mencela adalah sebuah perkataan dan perbuatan yang mempunyai nilai meremehkan atau mengurangi keagungan Allah. Dalam hal ini kaum muslimin tidak ada yang berselisih bahwa hukumnya kafir. Entah itu dilakukan secara serius, bergurau, main-main, bercanda, lupa atau karena kebodohan. Semuanya sama, tidak ada bedanya. Bukankah hukum itu itu dilihat lahiriahnya? Sebagaimana kaidah ushul fiqh menyebutkan: اَلعِبْرَةُ بِالظَاهِرِ

 

Disadur secara bebas  oleh Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari Ta’zhimullahu Ta’ala wa Hukmu Syatimihi karya Abdul ‘Aziz bin Marzuq at-Tharifi—halaman 6-11—terbitan Maktabah Darul Minhaj Cetakan Pertama 1434 H. Riyadh.

Edited by @rimoesta

[1] Lihat juga surat Al-Mukminun ayat 12, 13 dan 14

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )