ANAK YANG MELAKNAT ORANG TUANYA. MUNGKINKAH?

ANAK YANG MELAKNAT ORANG TUANYA. MUNGKINKAH?

 

Melaknat kedua orang tua, na’udzubillah min dzalik, termasuk dosa yang paling besar. Bentuknya seperti mengata-ngatai orang tua dengan: kurang ajar, celaka kamu, neraka, bangsat dan sebagainya. Kewajiban anak adalah berlaku selalu birrul walidain meski telah menjadi orang tua bahkan sampai orang tuanya tersebut meninggal.

عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ قَالَ قُلْنَا لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبِرْنَا بِشَيْءٍ أَسَرَّهُ إِلَيْكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا أَسَرَّ إِلَيَّ شَيْئًا كَتَمَهُ النَّاسَ وَلَكِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).

Abu At-Thufail pernah bertanya kepada Ali bin Abu Thalib, “Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang pernah dirahasiakan Rasulullah kepadamu!” Ali menjawab, “Beliau tidak pernah merahasiakan kepadaku sesuatu pun dari manusia, akan tetapi saya mendengar Beliau bersabda, “Allah mengutuk orang yang menyembelih untuk selain Allah, dan mengutuk orang yang melindungi tindak kejahatan, mengutuk orang yang mencaci kedua orang tuanya, dan mengutuk orang yang memindahkan tanda batas tanah.” (Hadits Riwayat Muslim).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ. (رَوَاهُ الْبُخَارِي)

Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya termasuk dari dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri,” Beliau ditanya; “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela/melaknat ayahnya dan ibunya.” (Hadits Riwayat al-Bukhari).

Hadits ini adalah ancaman yang sangat keras bagi pendurhaka. Laknat adalah mendoakan agar dijauhkan dari nikmat dan rahmat. Bagaimana kalau laknat itu ditujukan kepada orang tua?! Tentu dalam Islam ia termasuk orang yang akhlaknya paling rusak dan berdosa besar.

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، يَقُولُ : “ مِنَ الْكَبَائِرِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَسْتَسِبَّ الرَّجُلُ لِوَالِدِهِ “. (رَوَاهُ الْبُخَارِي)

Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash berkata, “Termasuk dosa-dosa besar di sisi Allah ta’ala adalah seseorang menjadi sebab kedua orang tuanya dicaci maki.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).

Melaknat orang tua ada yang langsung, ini mungkin jarang terjadi. Yang sering terjadi adalah seseorang melaknat orang tua orang lain; kemudian orang tersebut balas melaknat orang tuanya. Ini termasuk melaknat tidak langsung. Perbuatan inilah yang sering terjadi; mereka tidak malu dan tidak takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam majelis saling melaknat dan membuka aib orang tua masing-masing. Tentu ini merupakan perbuatan yang menunjukkan lemah agamanya, buruk keimanannya, dan merupakan tabiat yang hina.

Bagaimana seseorang melaknat orang tuanya sendiri?

Memang aneh, sangat jarang terjadi, bahkan hampir mustahil ada seorang anak berani melaknat orang tuanya. Itu merupakan sejelek-jelek akhlak yang tidak mungkin. Dijelaskan dalam hadits di atas bahwa melaknat atau mencela kedua orang tua itu bisa langsung atau tidak langsung. Keduanya sebagaimana hadits itu dosanya sama; yaitu dosa besar.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ. (رَوَاهُ التُّرْمُذِي).

“Bukanlah termasuk mukmin (yang baik) orang yang selalu mengungkap aib/mencela, sering melaknat, berperangai buruk, dan berbuat jahat/kotor.” (Hadits Riwayat at-Tirmidzi)

Hadits tersebut menegaskan bahwa keburukan-keburukan itu bukanlah akhlak dan sifat seorang mukmin. Bagaimana mungkin seorang mukmin melakukan hal itu, kepada orang lain saja tidak boleh, apalagi kepada orang tua. Tentu sikap itu sangat jelek. Orang tua di rumah menyiapkan keperluan anak, seperti makan, pakaian, pendidikan dan lain-lainnya, tiba-tiba ada laknat dari orang lain karena perbuatan anaknya tersebut.

Hadits di bawah ini mengarahkan umat Islam agar seseorang memilih teman duduk yang baik dan meninggalkan yang buruk. Kedua kondisi tersebut akan mempengaruhinya:

…نَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً. (رَوَاهُ الْبُخَارِي).

“… Sedangkan pandai besi yang sedang mengipas api dapat membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari)

Orang yang durhaka kepada kedua orang tua perlu dijauhi, seperti pandai besi ketika mengipas atau meniup api tidak boleh dekat-dekat nanti kena baunya atau apinya.

قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ لِابْنِ مِهْرَانِ :لَا تَصْحَبَنَّ عَاقًّا٫ فَإِنَّهُ لَنْ يَقْبَلَكَ وَقَدْ عَقَّ وَالِدَيْهِ

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Ibnu Mihran, “Janganlah kamu bersahabat dengan orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, karena sungguh dia tidak akan bisa menerima kamu, karena dengan kedua orang tuanya saja sungguh dia telah durhaka.” (Al-Mustathraf fi kulli fannin mustazhraf, karya al-Absyihi 2/20).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang orang yang membodoh-bodohkan, menghina, atau merendahkan orang tuanya. Dijawab oleh Syaikh: Apabila ada orang yang mencela atau merendahkan orang tuanya, maka dia wajib mendapatkan hukuman yang berat. Kemudian Ibnu Taimiyah menyampaikan hadits di bawah ini:

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، يَقُولُ : “ مِنَ الْكَبَائِرِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَسْتَسِبَّ الرَّجُلُ لِوَالِدِهِ “. (رَوَاهُ الْبُخَارِي)

Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash berkata, “Termasuk dosa-dosa besar di sisi Allah ta’ala adalah seseorang menjadi sebab (orang lain) mencaci-maki kedua orang tuanya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Kalau Nabi mengharamkan orang lain mencela orang tua kita, bagaimana beratnya kalau orang itu mencela dan melaknat orang tuanya sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan hak kedua orang tua setelah hak-Nya (hak Allah).

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu.” (Al-Quran Surat Luqman:14)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uff” (uff adalah kata jelek yang paling ringan, sering diterjemahkan ‘ah’) dan janganlah kamu membentak mereka.” (Al-Quran Surat Al-Isra’: 23)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ. (رِوَاهُ التُّرْمُذِي).

Sahabat Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ada tiga macam doa yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya; doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa keburukan orang tua atas anaknya.” (Hadits Riwayat at- Tirmidzi)

Ini adalah “pukulan telak” bagi anak yang durhaka, karena akibatnya luar biasa kalau orang tuanya marah, kemudian mendoakan keburukan maka binasalah anak tersebut.

Orang tua tidak akan pernah mendoakan jelek kepada anaknya kecuali sedang dalam keadaan marah. Tentu kalau sudah sangat keterlaluan kedurhakaan anaknya. Kalau dalam keadaan biasa tentu dia akan mendoakan yang baik-baik saja dan berkasih sayang kepada anaknya.

Doa orang tua untuk anaknya adalah mustajab (tidak tertolak) baik doa kebaikan atau kejelekan. Doa ada dua macam, doa yang baik dan doa yang buruk, kedua doa tersebut mustajab. Maka dengan ini anak harus berusaha maksimal, agar orang tuanya mendoakan anaknya dengan yang baik-baik dan selalu mencari ridhonya. Seorang anak harus selalu berusaha agar orang tuanya tidak marah atau susah karena kedurhakaan anaknya.

 

***
Disadur secara bebas oleh: Al-Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Shofwan, Lc. Hafizhahullah, dari Kitab “Ahaditsu Al-Akhlaq (halaman 52-67)”, karya: Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abad al-Badr Hafizhahullah.

Editor: @rimoesta
Team Redaksi: Ustadz Abu Abdillah Mubarok, M.Pd. dan Ustadz Abu Layla Turahmin, M.H. Hafizhahumallah.

***
Ingin anaknya menjadi sholih sehingga berbakti kepada orang tua. Daftarkan ke Pondok Islamic Centre Bin Baz. 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )