BERADAB DALAM BELAJAR AGAMA (Seri 2)

BERADAB DALAM BELAJAR AGAMA (Seri 2)

Kalau direnungkan perkara niat ini termasuk dalam tiga ayat di bawah ini:

مَن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَا وَزِینَتَهَا نُوَفِّ إِلَیۡهِمۡ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فِیهَا وَهُمۡ فِیهَا لَا یُبۡخَسُونَ، أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ لَیۡسَ لَهُمۡ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِیهَا وَبَـٰطِلࣱ مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ {هود: 15-16}

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan, Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Hud: 15-16)

مَّن كَانَ یُرِیدُ ٱلۡعَاجِلَةَ عَجَّلۡنَا لَهُۥ فِیهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَن نُّرِیدُ ثُمَّ جَعَلۡنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ یَصۡلَىٰهَا مَذۡمُومࣰا مَّدۡحُورࣰا، وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡـَٔاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡیَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَانَ سَعۡیُهُم مَّشۡكُورࣰا {الإسراء: 18-19}

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir, Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (Surat Al-Isra: 18-19)

 

مَن كَانَ یُرِیدُ حَرۡثَ ٱلۡـَٔاخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِی حَرۡثِهِۦۖ وَمَن كَانَ یُرِیدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡیَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ مِن نَّصِیبٍ {الشررى: 20}

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (Surat As-Syura: 20)

Tiga ayat dalam Al-Quran di atas semuanya dimulai dengan ‘man kana’; dijelaskan bahwa barangsiapa mencari ilmu karena dunia maka di akhirat kelak tidak mendapatkan apa-apa.

Hati-hati jangan sampai mencari ilmu sebagaimana dalam hadits di bawah ini:

عن كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ، رواه الترمذي

Ka’b bin Malik bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menuntut ilmu untuk mendebat para ulama, untuk mengolok-olok orang bodoh, atau untuk menarik perhatian manusia kepadanya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.” (Hadits riwayat Tirmidzi no. 2654; disahihkan oleh Al-Albani.)

Memang ada orang yang menuntut ilmu sekadar untuk mendebat ahli ilmu, merendahkan orang-orang yang bodoh, merasa menyombongkan ilmunya, atau merasa lebih pintar dari teman-temannya. Malah ada juga orang yang mencari ilmu dengan tujuan untuk menimbulkan pertentangan atau mencari musuh berdebat.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ، متفق عليه

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras kepala lagi suka dengan bermusuhan.” (Hadits riwayat Bukhari no. 2457 dan Muslim no. 2668.)

Apabila orang yang sedari awal bersikap sombong dalam mencari ilmu akan suka cari lawan tanding untuk berdebat agar menjadi makin terkenal. Orang seperti ini paling dibenci oleh Allah.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَیُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِی قَلۡبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ

Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (Surat Al-Baqarah: 204)

Karena itu kita mesti hati-hati. Jangan sampai penuntut ilmu takjub dengan dirinya yang bisa merusak niat. Ujub ialah melihat dirinya merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Ini adalah akhlak yang tercela. Tidak layak dimiliki seorang muslim apalagi penuntut ilmu mulia, yang telah Allah beri nikmat dengan pemahaman dan kepandaian.

Penuntut ilmu mestinya bisa berpikir bahwa ilmu yang dimilikinya adalah nikmat dan pemberian Allah semata. Tanda karunia dan rahmat dari Allah tentu tidak akan ada. Kalau bisa bersikap demikian ujub akan hilang dan hati akan kembali ikhlas.

مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّة إِلَّا بِاللهِ: وَلَوۡلَاۤ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَاۤءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِ  

Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud: Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”masyaallah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud).” (Surat Al-Kahfi: 39)

Termasuk obat untuk merontokkan rasa ujub adalah selalu mengingat bahwa apa yang dimiliki oleh penuntut ilmu adalah nikmat dari Allah. Semua karunia itu ada atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan bagi seseorang kecuali dari Allah. Keutamaan adalah di tangan Allah, diberikan kepada orang yang dikehendaki. Allah-lah yang memberi dan yang mencabut. Allah-lah yang mengangkat dan menurunkan. Allah yang menggenggam dan yang melepas. Semua urusan diatur oleh Allah, termasuk nikmat dan keutamaan.

Jadi ujub memang sangat berbahaya. Ujub bisa menyapu bersih amal kebaikan sampai tidak bersisa sama sekali.

عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يظهر الإسلام حتى تختلف التجار في البحر وحتى تخوض الخيل في سبيل الله ثم يظهر قوم يقرؤن القرآن يقولون من أقرأ منا من أعلم منا من أفقه منا ثم قال لأصحابه هل في أولئك من خير قالوا الله ورسوله أعلم قال أولئك منكم من هذه الأمة وأولئك هم وقود النار

Umar bin Khatab radiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama Islam akan menang sehingga para pedagang hilir mudik di lautan, dan sehingga kuda-kuda terjun dijalan Allah kemudian muncul suatu kaum yang membaca Al-Quran, mereka berkata, ‘Siapa yang lebih pandai membaca (Al-Quran) dari kami? Siapa yang lebih berilmu dari kami? Siapa yang lebih mengerti dari kami?’ Lalu Rasulullah bertanya kepada para sahabat, ‘Apakah ada kebaikan pada mereka?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah bersabda, ‘Mereka dari kalian, dari umat ini dan mereka adalah kayu bakar api Neraka’.”

Ujub apabila sudah menimpa penuntut ilmu bisa berakibat sombong dan merasa lebih tinggi dari yang lain. Bahkan bisa meningkat sampai merasa lebih tinggi dari orang di muka bumi.

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ،

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya dia berkata, “Tidak akan masuk ke surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (Hadits riwayat Muslim no. 91.)

Jadi orang yang menuntut ilmu wajib untuk merasa takut kepada Allah baik dalam waktu sendiri atau ramai.

إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (Surat Fathir: 28)

إِنَّ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ خَیۡرُ ٱلۡبَرِیَّةِ، جَزَاۤؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّـٰتُ عَدۡنࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۖ رَّضِیَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُۚ ذَ ٰ⁠لِكَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّهُ

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk, Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Surat Al-Bayinah: 7-8)

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

أَصْلُ الْعِلْمِ خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى

“Inti dari ilmu ialah tumbuhnya rasa takut kepada Allah.” (Thabaqat Al-Hanabilah 1/382.)

Abdullah bin Mas’ud berkata,

 لَيْسَ الْعِلْمُ مِنْ كَثْرَةِ الْحَدِيثِ ، وَلَكِنَّ الْعِلْمَ مِنَ الْخَشْيَةِ

“Ilmu bukanlah sebatas berbanyak-banyak riwayat hadits, tetapi ilmu adalah yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah.” (Ad-Durul Mantsur karya Suyuthi)

 

Tholabul ilmi harus dari tingkat bawah kemudian naik-kemudian naik, dimulai dari yang paling penting (tauhid) terus bab-bab yang lain sampai mendapatkan yang sempurna.

 

وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِی ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَیۡءࣲ مَّوۡعِظَةࣰ وَتَفۡصِیلࣰا لِّكُلِّ شَیۡءࣲ فَخُذۡهَا بِقُوَّةࣲ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ یَأۡخُذُوا۟ بِأَحۡسَنِهَا

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala hal; maka (Kami berfirman), Berpegangteguhlah kepadanya dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya.” (Surat Al-A’raf:145)

وقول الله جل وعل: ٱلَّذِینَ یَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَیَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥۤ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمۡ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

(yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Surat Az-Zumar:18)

Imam Az-Zuhri rahimahullah berkata,

مَن طَلَبَ الْعِلْمَ جُمْلَةً فَاتَهُ جُمْلَةً ، وَإِنَّمَا يُدْرَكُ الْعِلْمُ حَدِيث وحديثان

Barangsiapa yang mencari ilmu ingin langsung dapat semua maka tidak akan mendapat baunya, maka mencari ilmu haruslah dengan bertahap, satu hadits, dua hadits dan seterusnya.” (Dikutip oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ Li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ 1/232.)

Belajar secara bertahap sedikit demi sedikit tersebut mengambil faidah dari sebuh hadits. Nabi ‘alaihis shalatu wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit.” (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari no. 6464 & 5861 dan Muslim no. 783; sumber dari Aisyah istri Rasulillah.)

Dalam praktik sehari-hari, misalnya menghafal satu hari satu hadits secara kontinyu lebih baik daripada menghafal satu hari 100 hadits tapi langsung berhenti.

عَنْ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ رضي الله عنه قَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ. اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْ، لَقَدْ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ، وَلَوْ نَرَى قِتَالًا لَقَاتَلْنَا، وَذَلِكَ فِي الصُّلْحِ الَّذِي كَانَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ.

فَجَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ؛ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ؟ قَالَ: ((بَلَى)). قَالَ: أَلَيْسَ قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاهُمْ فِي النَّارِ؟ قَالَ: ((بَلَى)). قَالَ فَفِيمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا وَنَرْجِعُ، وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ، فَقَالَ: يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِي اللَّهُ أَبَدًا.

قَالَ: فَانْطَلَقَ عُمَرُ، فَلَمْ يَصْبِرْ مُتَغَيِّظًا، فَأَتَى أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ؛ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ؟ قَالَ: بَلَى. قَالَ: أَلَيْسَ قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاهُمْ فِي النَّارِ؟ قَالَ: بَلَى. قَالَ: فَعَلَامَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا وَنَرْجِعُ، وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ؟ فَقَالَ: يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؛ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَهُ اللَّهُ أَبَدًا.

قَالَ: فَنَزَلَ الْقُرْآنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْفَتْحِ، فَأَرْسَلَ إِلَى عُمَرَ فَأَقْرَأَهُ إِيَّاهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ؛ أَوْ فَتْحٌ هُوَ؟ قَالَ: ((نَعَمْ)) فَطَابَتْ نَفْسُهُ وَرَجَعَ، متفق عليه.

Sahal bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai manusia, koreksilah diri kalian masing-masing. Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyyah, kami bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya waktu itu kami melihat adanya pembunuhan, pasti kami telah berperang. Hal ini terjadi ketika terjadi perjanjian damai antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang Musyrik.

Maka Umar bin Khatthab datang menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?” beliau bersabda, “Ya.” Dia berkata, “Bukankah jika kita terbunuh akan masuk surga? sedangkan jika mereka terbunuh, mereka akan masuk neraka?” beliau menjawab, “Ya benar.” Umar bertanya, “Mengapakah kita harus mengalah mengenai agama kita, dan pulang begitu saja? Padahal Allah belum memberikan keputusan apa-apa antara kita dengan mereka?” Beliau menjawab, “Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya aku adalah Rasulullah, dan sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selama-lamanya.”

Abu Wa’il berkata, “Umar lalu pergi dalam keadaan tidak puas, bahkan terlihat marah. Lalu dia mendatangi Abu Bakar seraya berkata, “Wahai Abu Bakar, bukankah kita di atas yang hak dan mereka dalam kebathilan.” Dia menjawab, “Ya, benar.” Umar bertanya, “Tidakkah jika kita terbunuh, maka kita akan masuk surga, sedangkan jika mereka yang terbunuh, maka mereka akan masuk neraka?” Abu Bakar menjawab, “Ya, benar.” Umar bertanya lagi, “Mengapakah kita harus mengalah mengenai agama kita, dan pulang begitu saja? Padahal Allah belum memberikan keputusan apa-apa antara kita dengan mereka?” Maka Abu Bakar berkata, “Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya beliau adalah Rasulullah, dan sekali-kali Allah tidak akan menyia-nyiakan beliau selama-lamanya.”

Suhail berkata, “Maka turunlah ayat Al-Quran kepada Rasulullah, yaitu surah Al Fath. Maka beliau menyuruh seseorang untuk membacakan kepada Umar, lantas dia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu yang dimaksud dengan kemenangan?” beliau bersabda, “Ya, benar.” Barulah dia bertobat dan kembali. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari no. 3182 & 4844 dan Muslim no. 1785.)

Para penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh dan istiqamah dalam menjaga agama ini. Agar agama tersebut tidak hilang dari diri kita. Lunturnya agama dari diri kita adalah sebesar-besarnya musibah. Karena itu kita disyariatkan berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi kita.

وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا 

Janganlah engkau beri musibah dalam agama kami, dan jangan engkau jadikan dunia tujuan kami, dan ilmu untuk mencari dunia.” (Hadits riwayat Tirmidzi no. 3502; dihasankan oleh Al-Albani.)

Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah agama atau iman kami berkurang; hilang sedikit demi sedikit. Contohnya adalah adanya keyakinan yang salah, sikap kurang taat, atau cenderung menjalankan hal-hal yang haram. Maka musibah dalam agama ini musibah yang besar bagi muslim, tidak ada gantinya. Berbeda dengan musibah dunia.

Untuk itu biar tidak hilang ilmu yang sedikit ada diamalkan secara dawam; kontinyu. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,

هَتَفَ العِلْمُ بالعَمَلِ؛ فإِنْ أَجابَهُ، وإِلا ارْتَحَل

“Ilmu dipanggil dengan cara diamalkan, jika tidak maka akan hilang.”

Ada sebuah tulisan yang sangat bagus karya Al-Khatib Al-Baghdadi; Iqtidha-ul ‘Ilmi al-‘Amal. Dalam buku tersebut tersurat banyak nash hadits dan nasihat para ulama salaf. Cocok untuk memperteguh para penuntut ilmu.

Berkata Khatib Baghdadi, “Aku wasiatkan kepada kalian wahai para penuntut ilmu hendaklah selalu menjaga keikhlasan dalam belajar dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan hal-hal yang diwajibkan. Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Tidak bisa dikatakan sebagai ahli ilmu kalau tidak mengamalkan ilmunya. (Dikutip oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Iqtidha-ul ‘Ilmil ‘Amal 40.)

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، رواه الترمذي

Abu Barzah al-Aslami menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dibelanjakan, juga tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (Hadits riwayat Tirmidzi no. 2417; disahihkan oleh Al-Albani).

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

كَانَ الرَّجُلُ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ لَمْ يَلْبَثْ أَنْ يُرَى ذَلِكَ فِي بَصَرِهِ وَتَخَشُّعِهِ وَلِسَانِهِ وَيَدِهِ وَصَلاَتِهِ وَصِلَتِهِ وَزُهْدِهِ

“Jika seorang lelaki serius mencari ilmu, maka pengaruhnya senantiasa nampak pada pandangan, kekhusyukan, lisan, tangan, shalat dan kezuhudannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Az-Zuhd 1463 dan Darimi dalam As-Sunan 397-398).

Muhammad bin Sirin rahimahullahu berkata,

كَانُوا يَتَعَلَّمُوْنَ اَلْهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُوْنَ اَلْعِلْمَ

Mereka belajar tuntunan hidup sebagaimana belajar ilmu.” (Dikutip oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ Li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ 1/96)

Inilah sederat petunjuk adab dan akhlak yang harus dibaca dan dipelajari oleh para penuntut ilmu untuk kemudian dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian akan menjadi menjelma menjadi perilaku dan perhiasan pada dirinya. Kalau itu terlaksana maka menjadi tanda-tanda orang yang termasuk beruntung di dunia dan di akhirat. Amin.

Diterjemahkan secara bebas oleh Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Ahaditsu Al-Akhlaq halaman 349-362 karya Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abad al-Badr terbitan Darul Imam Muslim Publishing cetakan pertama 1441-2020.

Edited by @rimoesta.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )