DAKWAH IKHLAS DAI MULIA

DAKWAH IKHLAS DAI MULIA

Sesungguhnya tujuan Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan jin dan manusia adalah supaya mereka beribadah kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, supaya mereka menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dan supaya mereka mengetahui ‘Asma dan Sifat-sifat-Nya. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Al-Quran Surat Adz Dzariyat: 56)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Quran Surat Al Baqarah: 21)

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّ ۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”  (Al-Quran Surat At Talaq: 12)

Ibadah adalah mentauhidkan Allah dan mentaati-Nya dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan semua isinya, dan telah maklum bahwa Allah adalah Zat yang Maha Kuasa, menguasai semua isi alam semesta ini dan Allah mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatupun di alam semesta ini yang terlepas dari ilmu Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan semua makhluk dan banyak hikmah yang dikendaki oleh Allah dalam menciptakan makhluk-makhluknya itu, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Untuk mengenal dan mengetahui Asma dan sifat-sifat Allah yang maha tinggi dan Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu dan maha mengetahui semuanya.
  • Supaya mereka hanya menyembah Allah, mengagungkan-Nya, memaha sucikan-Nya, tunduk dan patuh dengan keagungan-Nya.
  • Supaya mereka menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dan memang ibadah harus disertai rasa rendah dan tunduk di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadah tidak akan bisa diketahui secara rinci oleh akal tanpa ada bimbingan, demikian pula akal tidak akan mampu mengetahui tentang rincian hukum-hukum syari’at baik perintah-perintah Allah maupun larangan-larangan-Nya oleh karena itu supaya perkara-perkara tersebut bisa diketahui oleh manusia dan bisa dikerjakan maka Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk menjelaskan bagaimana cara beribadah kepada-Nya sebagai konsekwensi dari tujuan Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya, sehingga akhirnya umat bisa beribadah dengan benar yakni berdasarkan ilmu.

Para rasul adalah pemberi petunjuk[1] kepada makhluk, mereka adalah pemimpin para pemberi petunjuk (para alim ulama) itu dan mereka diutus agar mengajak jin dan manusia supaya beribadah hanya kepada Allah dan taat hanya kepada-Nya. Allah memuliakan dengan menganugerahkan rahmat-Nya kepada para hamba dengan mengutus para rasul tersebut dan menjelaskan jalan yang lurus melalui mereka sehingga semua urusan manusia berada di atas bayinah (dalil), sehingga mereka tidak mempunyai alasan untuk berkata, “Kami tidak mengetahui apa yang dikehendaki Allah dari kami, tidak ada orang yang memberi kabar gembira dan peringatan kepada kami”, Allah subhanahu wa ta’ala telah memutus alasan dan telah menegakkan hujjah dengan mengutus para rasul tersebut dan Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-Nya, sebagaimana firman Allah,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ ۚ

Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut!”  (Al-Quran Surat An Nahl: 36)

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا فَٱعْبُدُونِ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku.” (Al-Quran Surat Al Anbiya’: 25)

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۚ

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.” (Al-Quran Surat Al Hadid: 25)

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ

Manusia itu (dahulunya) umat yang satu (dalam ketauhidan). (Setelah timbul perselisihan,) lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Al-Quran Surat Al Baqarah: 213)

Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab kepada mereka sebagai bekal, supaya mereka menetapkan hukum diantara manusia dengan kebenaran dan keadilan dan supaya mereka menjelaskan kepada manusia apa yang mereka perselisihkan berupa syari’at dan akidah dan berupa tauhid dan syari’at-Nya, maka firman Allah, (كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً) maksudnya adalah semua manusia dari zaman Nabi Adam ‘alaihi salam  sampai zaman Nabi Nuh ‘alaihi salam mereka berada diatas kebenaran dan tidah berselisih, semua manusia berada di atas petunjuk sebagaimana tafsir dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan jama’ah[2] dari para ulama salaf dan kholaf, kemudian setelah itu terjadi kesyirikan dan perselisihan, lalu Allah mengutus Nabi Nuh ‘alaihi salam dan setalah itu Allahpun mengutus para rasul yang lain, sebagaimana firman Allah,

اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْ بَعْدِهٖ ۚ

Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.” (Al-Quran Surat An Nisa’: 163)

وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ اِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اخْتَلَفُوْا فِيْهِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur’an) ini kepadamu (Nabi Muhammad), kecuali agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Al-Quran Surat An Nahl: 64)

Allah menurunkan kitab untuk menjelaskan hukum Allah tentang apa yang manusia perselisihkan, untuk menjelaskan syari’at-Nya yang tidak diketahui oleh mereka, untuk memerintahkan supaya mereka komitmen melaksanakan syari’at-Nya dan menetapkan ketentuan-ketentuan-Nya, melarang mereka dari perkara-perkara yang membahayakannya baik bagi kehidupan dunia maupun akhiratnya dan Allah telah menutup para rasul dengan Rasul yang paling utama yang menjadi pemimpin mereka dan menutup para rasul itu dengan Penghulu mereka yaitu Sayyidina Muhammad bin Abdillah ‘alaihi wa ‘alaihim min Robbihim ash-sholatu wat-taslim.

Rasulullah telah menyampaikan risalah dari Allah, telah menunaikan amanah yang dibebankan di pundaknya, telah memberikan nasihat kepada umat ini dan telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Beliau telah berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan[3], beliau disakiti, ditindas dan diintimidasi baik fisik maupun jiwanya dalam berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala akan tetapi beliau menghadapinya dengan bersabar sebagaimana para rasul terdahulu bersabar ketika menghadapi gangguan dari umatnya, beliau bersabar sebagaimana para rasul terdahulu bersabar, beliau menyampaikan risalah sebagaimana mereka menyampaikan risalah akan tetapi gangguan yang dialami Rasulullah lebih berat namun kesabarannyapun lebih besar, beliau melaksanakan tugas risalah ini dan menunaikannya dengan sempurna.

Rasulullah berdakwah selama 23 tahun, beliau menyampaikan risalah Allah, mengajak umat manusia kepada-Nya dan menyebarkan hukum-hukum-Nya, 13 tahun beliau berdakwah di Mekah diawali dengan dakwah secara sembunyi-sembunyi kemudian setelah itu beliau berdakwah dengan terang-terangan, beliau dihalang-halangi dalam menyampaikan kebenaran dan disakiti oleh orang-orang musyrik akan tetapi beliau tetap bersabar dalam berdakwah dan dalam menghadapi gangguan mereka, padahal mereka mengetahui kejujuran dan amanahnya, mereka mengetahui keutamannya, nasabnya dan kedudukannya akan tetapi hawa nafsu, hasad dan permusuhan dari pembesar-pembesar kaumnya serta kebodohan dan taklid buta dari orang-orang awam, para pembesar kaumnya menentangnya, bersikap sombong dan hasad kepadanya sementara orang-orang awam taklid dan mengikuti para pembesarnya dalam berbuat buruk kepadanya dengan sebab itulah Nabi diganggu dengan gangguan yang lebih berat daripada para rasul sebelumnya.[4]

قَدْ نَعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ الَّذِيْ يَقُوْلُوْنَ فَاِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُوْنَكَ وَلٰكِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ

“Sungguh, Kami mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang mereka katakan itu betul-betul membuatmu (Nabi Muhammad) bersedih. (Bersabarlah) karena sebenarnya mereka tidak mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu selalu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-Quran Surat Al An’am: 33)

Allah menjelaskan bahwa mereka sebenarnya tidak mendustakan Rasulullah , mereka mengakui akhlak, kejujuran dan amanahnya , bahkan sebelum diutus menjadi nabi dan rasul mereka telah mengenalnya sebagai orang yang paling amanah. Tapi mereka berbuat jahat terhadap Rasulullah disebabkan karena mereka menentang/menolak dakwahnya, hasad dan curang terhadap Rasulullah . Tapi apa yang menimpa Rasulullah tersebut tidak beliau perdulikan, beliau tetap berjalan di atas dakwah walaupun mendapat rintangan, rintangan itu beliau hadapi dengan sabar, Beliau memaafkan, dan menanggungnya bahkan saking dahsyatnya penolakan-penolakan tersebut sampai ada rencana beliau mau di bunuh, pada saat itu juga Allah mengizinkan beliau untuk berhijrah ke Madinah dan terlaksanalah hijrah itu, beliau bersama Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu keluar berhijrah ke Madinah dan akhirnya Al-Madinah menjadi ibu kota Islam yang pertama. Dari Madinahlah Islam berkembang dan menjadi daulah yang kuat, dakwah jalan terus dan kemudian setelah itu baru di syariatkan untuk berjihad dengan pedang.

Setelah itu Rasulullah mengirimkan dai-dai ke tempat-tempat lain di luar kota Madinah, beliau mengirim para dai untuk berdakwah dan mengirimkan satuan pasukan-satuan pasukan untuk berperang dan terjadilah peperangan-peperangan sampai berkali-kali sehingga akhirnya Islampun menyebar dan sempurnalah agama Allah, setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan Nabi kita yang di akhiri pidato dalam Haji Wada’. Risalah sudah disampaikan semuanya kemudian setelah itu perjuangan dakwah dipegang oleh para sahabat dan sebagai khalifahnya adalah Abu Bakar subhanahu wa ta’ala, tentu para sahabat meneruskan perjuangan Rasulullah dengan mengirim para dai-dai untuk berdakwah menyebarkan agama Islam dan mengirim para mujahidin untuk melindungi dakwah tersebut, yang akhirnya dakwah tauhid tersebar sampai Eropa, Persia dan Asia hingga dunia meraih kejayaan.

  يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ

Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu.” (Al-Quran Surat Al Baqarah: 21)

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ

Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia.” (Al-Quran Surat Al Isra’: 23)

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ۗ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”  (Al-Quran Surat Al Fatihah: 5)

فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًا ۖ

“Maka, janganlah menyembah apa pun bersamaan dengan (menyembah) Allah.”  (Al-Quran Surat Al Jin: 18)

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”  (Al-Quran Surat Al An’am: 162)

لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku. Aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang muslim.” (Al-Quran Surat Al An’am : 163)

Para penerus dakwah yaitu para sahabat, tabi’in dan tabiut-tabi’in mereka mampu mengemban tugas dakwah ini dengan baik, karena mereka adalah murid-murid Rasulullah yang dengan sabar melaksanakan amanah ini dengan jujur dan ikhlas apapun resikonya, pada waktu itu ada pengiriman mujahidin untuk berperang dan ada pengiriman para dai untuk menyampaikan dakwah sehingga dakwah ini bisa dilanjutkan oleh para tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para imam yang empat, bahkan Jazirah-jazirah yang dimasuki dakwah bukan hanya jazirah Arab saja, akan tetapi termasuk jazirah di luar Arab, Maka dengan amanah, ikhlas dan sabar, dakwah ini akan terus berlanjut.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا ۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ

Kami menjadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami.”  (Al-Quran Surat As Sajdah: 24).

Demikianlah setelah Rasulullah ﷺ wafat, kemudian perjuangan diambil alih oleh shohabat yang dipimpin para kholifah yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, lalu dilanjutkan oleh para tabi’in dan tabiut tabi’in sampai hari ini, semuanya mengikuti salafush shalih dengan penuh kesabaran, amanah dan semangat, inilah dakwah yang mubarok.

Kesimpulan dari makalah ini adalah dalam dakwah kepada Allah ada empat perkara:

  1. Hukum dan keutamaannya.
  2. Bagaimana menunaikan tugas dakwah dan bagaimana metodenya.
  3. Dakwah harus berdasarkan ilmu.
  4. Akhlak dan sifat para dai hendaknya selalu berakhlak mulia dalam dakwah, selalu minta pertolongan kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya karena Allah akan memberikan pertolongan dan taufiq kepada hamba-hamba-Nya untuk menjalankan tugas mulia ini.

[1] Pemberi petunjuk maksudnya adalah para rasul bertugas menjelaskan kebenaran yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka kepada umatnya dan mengarahkannya supaya melaksakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

[2]  Sekelompok ulama.

[3]  Setelah Umar masuk Islam.

[4] Orang-orang musyrik sampai berusaha mengusir bahkan sempat dirapatkan dan diambil keputusan beliau akan di bunuh.

Artikel ini merupakan saduran  dari  Fadhlu Ad-Da’wah ilallah, Penulis: Syaikh Sa’ad bin Muhammad at-Thukhis. Judul Saduran: DAKWAH IKHLAS DAI MULIA. Disadur secara bebas oleh: Al-Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Shofwan, Lc.

Editor                 : @rimoesta

Team Redaksi: Ustadz Abu Abdillah Mubarok, M.Pd. dan Ustadz Abu Layla Turahmin, M.H.

 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )