Faedah Hadits: Allah Mengharamkan Kezhaliman

Faedah Hadits: Allah Mengharamkan Kezhaliman

Dalam kehidupan sosial masyarakat tidak jarang terjadi pertikaian antar sesama manusia. Pertikaian biasanya dilatarbelakangi oleh kezhaliman. Kezhaliman yang dilakukan oleh satu pihak, atau bisa juga dua pihak yang sama-sama berlaku zhalim. Padahal kita semua tahu bahwa kezhaliman telah diharamkan dalam kehidupan. Allah yang Maha Kuasa pun mengharamkan keazhaliman atas Diri-Nya. Satu riwayat tentang hal ini disampaikan oleh salah satu sahabat beliau, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ قَالَ سَعِيدٌ كَانَ أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ إِذَا حَدَّثَ بِهَذَا الْحَدِيثِ جَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ حَدَّثَنِيهِ أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّ مَرْوَانَ أَتَمُّهُمَا حَدِيثًا قَالَ أَبُو إِسْحَقَ حَدَّثَنَا بِهَذَا الْحَدِيثِ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ ابْنَا بِشْرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ فَذَكَرُوا الْحَدِيثَ بِطُولِهِ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى كِلَاهُمَا عَنْ عَبْدِ الصَّمَدِ بْنِ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِنِّي حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِي الظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِي فَلَا تَظَالَمُوا (رواه مسلم)

Abu Dzar menceritakan sabda Nabi Ketika meriwayatkan firman Allah ‘azza wa jalla (sering disebut sebagai Hadits Qudsi) yang berbunyi:

Wahai hamba-Ku: sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zhalim. Perbuatan zhalim itu pun Aku haramkan di antara kalian. Oleh karena itu janganlah kalian saling berbuat zhalim!

Wahai hamba-Ku: kamu sekalian berada dalam kesesatan, kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk. Oleh karena itu, mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu!

Wahai hamba-Ku: kamu sekalian berada dalam kelaparan, kecuali orang yang telah Aku beri makan. Oleh karena itu, mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu makan!

Wahai hamba-Ku: kamu sekalian telanjang dan tidak mengenakan sehelai pakaian, kecuali orang yang Aku beri pakaian. Oleh karena itu, mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu pakaian!

Wahai hamba-Ku: kamu sekalian senantiasa berbuat salah pada malam dan siang hari, sementara Aku akan mengampuni segala dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya aku akan mengampunimu!

Wahai hamba-Ku: kamu sekalian tidak akan dapat menimpakan mara bahaya sedikitpun kepada-Ku, tetapi kamu merasa dapat melakukannya. Selain itu, kamu sekalian tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kepada-Ku, tetapi kamu merasa dapat melakukannya.

Wahai hamba-Ku: seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta manusia dan jin, semuanya berada pada tingkat ketakwaan yang paling tinggi, maka hal itu sedikit pun tidak akan menambahkan kekuasaan-Ku.

Wahai hamba-Ku: seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta jin dan manusia semuanya berada pada tingkat kedurhakaan yang paling buruk, maka hal itu sedikitpun tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku.

Wahai hamba-Ku: seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuhi permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.

Wahai hamba-Ku: sesungguhnya amal perbuatan kalian senantiasa akan Aku hisab (adakan perhitungan) untuk kalian sendiri dan kemudian Aku akan berikan balasannya. Barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah k. Dan barang siapa yang mendapatkan selain itu (kebaikan), maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.”

(Hadits Riwayat Muslim, no. 7752)

Perawi Hadits tersebut, Said bin ‘Abdul ‘Aziz, berkomentar, “Sa’id berkata bahwa dulu ketika Abu Idris Al-Khawlaniy (yang meriwayatkan Hadits ini) jika dia membacakan Hadits ini dia langsung tersungkur untuk berlutut, ‘Telah menceritakan kepadaku Abu Bakr bin Ishaq; telah menceritakan kepada kami Abu Mushir; telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz melalui jalur ini. Hadits Marwan lebih lengkap lagi dari keduanya. Abu Ishaq berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami Hadits ini baik Al-Hasan maupun Al-Husain –kedua anak Bisyr—dan Muhammad bin Yahya mereka berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mushir. Lalu mereka menyebutkan Hadits seperti tersebut di atas secara panjang lebar. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Al-Mutsanna keduanya dari ‘Abdush Shamad bin ‘Abdul Warits; telah menceritakan kepada kami Hammam; telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Qilabah dari Abu Asma’ dari Abu Dzar dia berkata, Rasulullah bersabda dalam meriwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Aku telah mengharamkan kezhaliman kepada diri-Ku dan hamba-Ku, maka janganlah kalian saling berbuat zhalimdan seterusnya.”

Faedah Hadits:

  1. Allah ‘azza wa jalla tidak pernah berlaku zhalim kepada hamba-hamba-Nya, Dia juga melarang hamba-hamba-Nya berbuat zhalim di antara sesama mereka.
  2. Allah menegaskan bahwa semua manusia dalam keadaan sesat, karena itu hendaklah kita banyak memohon petunjuk kepada-Nya.
  3. Allah ‘azza wa jalla senang kalau hamba-Nya selalu minta apa saja apalagi hal yang bermaslahat dan dihindarkan dari hal-hal yang mendatangkan mudharat
  4. Kerajaan Allah ‘azza wa jalla tidak terpengaruh dengan ketaatan hamba-hamba-Nya ataupun kemaksiatan hamba-hamba-Nya.
    Kekayaan dan perbendaharaan Allah tidak akan berkurang sedikitpun dengan kebutuhan.
  5. Apa yang menimpa hamba-hamba-Nya apabila baik itu datangnya dari Allah dan apabila jelek datangnya dari diri sendiri.
  6. Allah menyerukan agar makhluk minta kepada-Nya segala apa yang diperlukan.
  7. Menunjukkan kesempurnaan dan kekuatan dan kesempurnaan Kerajaan Allah.

Disadur secara bebas oleh: Al-Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Shofwan, Lc Hafizhahullah dari buku _“Al-Arba’una Haditsan fi Raf’id Darajat wa Takfiris Sayi-at”_ karya Syaikh Sa’ad bin Muhammad at-Thukhis.

Editor : @rimoesta
Team Redaksi : Ustadz Abu Abdillah Mubarok, M.Pd. dan Ustadz Abu Layla Turahmin, M.H. Hafizhahumallah

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )