Faedah Hadits: DZIKIR SETELAH MENDENGAR ADZAN

Faedah Hadits: DZIKIR SETELAH MENDENGAR ADZAN

 

Ketika mendengar adzan seseorang hendaknya menjawab sebagaimana diucapkan oleh muadzin. Juga dianjurkan untuk berdoa setelah adzan selesai. Rasulullah menganjurkan hal itu karena terkandung keutamaan yang besar. Satu riwayat tentang hal ini disampaikan oleh sahabatnya, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, di bawah ini:

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ (رواه مسلم)

Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa membaca ketika mendengar orang beradzan,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

‘Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, saya ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad sebagai rasul, serta Islam sebagai agama,’ Niscaya dosa-dosanya akan diampuni.” (Hadits Riwayat Muslim no. 579)

Fawaid Hadits:

1. Mengulang pernyataan keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Sang Pengatur dengan segala ketetapan dan takdir-Nya.

2. Membiasakan mengulang pernyataan kerelaan bahwa Nabi Muhammad telah menyampaikan ajaran Islam dengan sempurna

3. Mengulang keyakinan bahwa kita menerima Islam sebagai agama yang menuntun kehidupan kita.

4. Menjelaskan keutamaan orang yang menjawab adzan dan doa setelahnya.

5. Orang yang melakukan hal tersebut akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya.

***
Disadur secara bebas oleh: Al-Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Shofwan, Lc. Hafizhahullah, dari Kitab “Al-Arba’una Haditsan fi Raf’id Darajat wa Takfiris Sayi-at “, karya: Syaikh Sa’ad bin Muhammad at-Thukhis.

Editor:@rimoesta
Team Redaksi: Ustadz Abu Abdillah Mubarok, M.Pd. dan Ustadz Abu Layla Turahmin, M.H. Hafizhahumallah.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )