Faedah Hadits: KECINTAAN ALLAH DAN KEBENCIAN ALLAH KEPADA HAMBA

Faedah Hadits: KECINTAAN ALLAH DAN KEBENCIAN ALLAH KEPADA HAMBA

 

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا قَذَفَ حُبَّهُ فِى قُلُوْبِ الْمَلاَئِكَةِ، وَإِذَا أَبْغَضَ اللَّهُ عَبْدًا قَذَفَ بُغْضَهُ فِى قُلُوْبِ الْمَلاَئِكَةِ ثُمَّ يَقْذِفُهُ فِى قُلُوْبِ اْلآدَمِيِّيْنَ (رَوَاهُ ابْنُ نُعَيْمٍ فِى الْحِلْيَةِ)

Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan, bahwa Nabi bersabda, “Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, Dia menjadikan para Malaikat mencintainya, dan apabila Allah membenci seorang hamba, Dia menjadikan para Malaikat juga membencinya, kemudian menjadikan anak keturunan Adam membencinya.” (Hadits Riwayat Ibnu Na’im dalam kitabnya Al-Hilyah dengan sanad shahih)

Penjelasan Hadits:

Nabi menjelaskan hakekat kedudukan yang tinggi bagi siapa saja yang mentaati Allah dan meneladani sunah-sunah Rasulullah ; maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mencintainya, lalu menjadikan para malaikat juga mencintainya; bahkan menjadikan anak keturunan Adam juga mencintainya. Sebaliknya, jika seseorang berbuat yang menyebabkan kebencian Allah kepadanya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan para malaikat membencinya, dan menjadikan anak keturunan Adam juga membencinya.

Faedah Hadits:

1. Kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya sebagai sebab Allah memerintahkan para malaikat untuk mencintainya, dan Allah menjadikan manusia juga mencintainya.

2. Kebencian Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang hamba, menjadi sebab Allah memerintahkan kepada para malaikatnya untuk membencinya, dan menjadikan manusia juga membencinya.

3. Urgensinya beramal dengan amalan-amalan yang mendatangkan kecintaan Allah dan para malaikat-Nya, kemudian manusia secara umum.

4. Penetapan sifat cinta dan benci bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya yang berbeda dengan Makhluk-Nya.

5. Hendaklah seorang muslim menjadikan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya lebih besar kadarnya dari pada cintanya kepada kedua orang tuanya, istrinya, anaknya, kerabatnya, hartanya, hewan piaraannya dan seluruh yang dicintainya di muka bumi ini. Jika cinta itu 100%, maka yang 70% untuk Allah dan Rasul-Nya dan 30% dibagi kepada selain keduanya. -pen.

***
Disadur secara bebas oleh: Al-Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Shofwan, Lc. Hafizhahullah, dari Kitab “Al-Arba’una Haditsan fil Madhi wadz Dzammi”, karya: Syaikh Sa’ad bin Muhammad at-Thukhis.

Editor: @rimoesta
Team Redaksi: Ustadz Abu Abdillah Mubarok, M.Pd. dan Ustadz Abu Layla Turahmin, M.H. Hafizhahumallah.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )