ISLAM AGAMA HANIF DAN TOLERAN

ISLAM AGAMA HANIF DAN TOLERAN

Sesungguhnya toleransi (kelapangan) dalam Islam nampak jelas dalam setiap perintah dan larangannya, baik yang kecil maupun besar. Maka hal ini benar-benar merupakan dorongan baru bagi nilai-nilai mulia dalam kilauan permata toleransi Islam dalam semua jalan dan aturannya.

Toleransi dalam Islam bukan sekadar emas polesan. Bukan sebuah fatamorgana. Yang membuat orang ketika mendekatinya kemudian merasa tertipu. Toleransi dalam Islam lebih besar dari sekadar konsep kemanusiaan yang didengungkan oleh berbagai LSM jahiliyah kini. Yang mereka hanya menyodorkan konsep-konsep omong kosong yang dikemas dengan indah dan manis.

Toleransi Islam meliputi berbagai unsur alam, baik mati maupun hidup. Bukan sekadar sesame manusia, tentunya termasuk hewan dan tumbuhan. Bahkan sumber air sekalipun. Toleransi tersebut dibangun berdasarkan kasih sayang antara seorang muslim dengan makhluk lainnya. Bahkan ketika membunuh dan menyembelih hewan sekalipun.

Rasulullah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ.

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan bersikap baik terhadap segala sesuatu, apabila kalian membunuh maka bunuhlah dengan baik, dan apabila kalian menyembelih maka sembelihlah dengan baik, dan hendaknya salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan memberikan kenyamanan kepada hewan sembelihannya.” (Hadits Muslim)

 

Toleransi Islam lebih mendalam dianding konsep kemanusiaan masa kini. Toleransi Islam melampaui penampilan luar yang dilihat mata hingga masuk ke dalam hati dan jiwa. Dengan begitu toleransi islam lebih kekal dibanding konsep kemanusiaan masa kini yang akan berakhir dengan lenyapnya bangsa manusia dari atas muka bumi.

Sementara itu toleransi islam menghubungkan seorang muslim hingga dengan akhirat. Di situlah dia akan kekal dengan rahmat Tuhannya di dalam surga yang sarat dengan berbagai kenikmatan. Puncaknya adalah surge Firdaus.

Rasa heran ketika menyaksikan kenyataan betapa banyak penulis muslim yang menyebut toleransi dengan istilah kemanusiaan islam, ikut-ikutan dengan kemauan orang-orang kafir.

Pada saat mereka melakukan penyimpangan tentang makna toleransi islam tersebut berarti telah terjatuh pada dobel kesalahan:

Pertama: mereka mengambil yang rendah untuk menggantikan yang lebih baik.

Kedua: mereka memperempit sesuatu yang luas. Toleransi islam tidak terbatas sekadar dalam lingkaran kemanusiaan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ. (رواه ابن ماجة)

Abdullah bin ‘Amru berkata, “Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Manusia yang seperti apakah yang paling mulia?’ Beliau menjawab, ‘Semua yang hatinya bersedih dan ucapan lisannya benar.’ Mereka berkata, ‘Tentang “perkataan yang benar” kami ketahui, tapi apakah maksud dari hati yang bersedih?’ Beliau bersabda, ‘Hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada menyimpan kedurhakaan dan kelaliman, juga terhindar dari kedengkian dan hasad.”

 

AGAMA TOLERANSI ITU DICINTAI

Islam adalah agama yang mudah dan bertoleransi. Allah sebagai pemilik agama tidak menghendaki ada kepayahan umatnya. Dia ingin umat Islam yang diselimuti-Nya dengan kasih sayang ini bersih dari beban-beban yang membelenggu kemanusiaannya. Allah tidak menjadikan umat ini terbelenggu dalam kesempitan dan kesulitan.

Allah berfirman yang tercatat dalam sebuah ayat:

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ  

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah : 185)

 

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ  

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kalian sekalian orang-orang muslim dari dahulu”. (Al-Hajj : 78)

Begitupun dengan nabi Muhammad untuk kembali membawa agama Islam, agama yang telah dibawa dari sejak Adam, Nuh, Ibrahim, hingga Isa. Beliau diutus untuk mendudukkan kembali agama Islam yang on the track. Agama yang berada pada garis hanafiyah samhah. Lurus pada jalan-Nya dan toleran.

Rasulullah Mencontohkan Sikap Toleran

Beliaupun karena membawa sifat hanafiyah samhah maka perilaku dan karakternya juga penuh toleran dan tidak mempersulit dalam kesempitan. Contoh sikap beliau yang mencerminkan sifat toleransi adalah seperti yang hadits yang menceritakan kisah beliau bersama Aisyah.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا فَسَمِعْنَا لَغَطًا وَصَوْتَ صِبْيَانٍ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا حَبَشِيَّةٌ تَزْفِنُ وَالصِّبْيَانُ حَوْلَهَا فَقَالَ يَا عَائِشَةُ تَعَالَيْ فَانْظُرِي فَجِئْتُ فَوَضَعْتُ لَحْيَيَّ عَلَى مَنْكِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهَا مَا بَيْنَ الْمَنْكِبِ إِلَى رَأْسِهِ فَقَالَ لِي أَمَا شَبِعْتِ أَمَا شَبِعْتِ قَالَتْ فَجَعَلْتُ أَقُولُ لَا لِأَنْظُرَ مَنْزِلَتِي عِنْدَهُ إِذْ طَلَعَ عُمَرُ قَالَتْ فَارْفَضَّ النَّاسُ عَنْهَا قَالَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ قَدْ فَرُّوا مِنْ عُمَرَ. (رواه الترمذي)

Aisyah bercerita, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk, maka kami mendengar suara hiruk pikuk dan ramainya suara anak-anak kecil. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdiri, ternyata seorang budak wanita Habasyah sedang menari dan bermain. Di sekitarnya dikerumuni beberapa anak-anak kecil. Beliau pun bersabda, ‘Kemarilah Aisyah, lihat itu!’ Akupun datang. Sambil menaruh daguku di atas pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam aku melihat permainan itu, bersandar di pundak sampai kepala beliau. Beliau bersabda kepadaku, ‘Apakah kamu sudah puas, apakah kamu sudah puas?’ Jawabku, ‘Belum!’ Aku ingin berlama-lama berada di dekat beliau. Tiba-tiba Umar datang. Aisyah berkata, ‘Maka orang-orang yang ada di situ pun berlarian.’ Aisyah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya aku telah melihat setan dari jenis jin dan manusia berlari menghindari Umar.’”

Itulah sikap dan tindakan Rasulullah dalam menerapkan sifat toleran, memberikan kelapangan. Hal ini sesuai dengan sifat agama yang beliau emban untuk didakwahkan kepada seluruh manusia, agama toleran. Toleransi Islam tetap dalam koridor kelurusan sebuah agama samawi. Aisyah, istrinya, berkata,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ لِتَعْلَمَ يَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً إِنِّي أُرْسِلْتُ بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ. (رواه أحمد)

“Pada suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Hendaknya orang Yahudi mengetahui bahwa di dalam agama kita terdapat kelapangan, sesungguhnya saya diutus dengan agama yang lurus yang penuh toleran.’”

Bersikaplah Toleran Jangan Berlebihan

Islam adalah agama yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, agama yang lurus lagi toleran. Ibnu Abbas berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ. (رواه أحمد)

“Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau bersabda, ‘Alhanifiyyah Assamhah (yang lurus lagi toleran).’”

Karena itulah agama Islam hukum-hukumnya dibangun di atas prinsip kemudahan, bukan kesulitan. Semua sisi agama adalah dicintai, tetapi sifat toleran dan mudah lebih dicintai Allah. Maka sikap keras dalam agama Allah dan mempersulit hamba Allah tidaklah selayaknya dilakukan seorang muslim. Tak seorang pun yang bersikap keras dalam bergama kecuali akan mengalami kelelahan dan kekalahan.  Tentu kita ingat kisah Bani Israel yang diceritakan Allah dalam surat Al-Baqarah. Mereka bersikap mempersulit diri ketika mendapatkan perintah menyembelih seekor sapi, hingga akhirnya karena terlalu ‘keras’ dalam menentukan kriteria sapi hampir tidak menemukan sapi yang dimaksud. Padahal awalnya hanya diperintah untuk menyembelih seekor sapi betina.

Rasulullah berpesan kepada kita agar bersikap dan berlaku toleran, memberikan kelapangan. Dengan demikian kita pun akan mendapatkan kelapangan. Sabdanya sebagaimana dikutip oleh Ibnu Abbas,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْمَحْ يُسْمَحْ لَكَ. (رواه أحمد)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Berlapang hatilah, niscaya kalian pun akan mendapatkan kelapangan yang serupa.”

Kalau kita merujuk kepada kamus Lisanul ‘Arab, bahwa makna samhah atau kelapangan dalam hadits tersebut adalah ‘sahhil yusahhilullahu laka wa ‘alaika’—bersikaplah untuk memudahkan maka niscaya Allah pun akan memudahkanmu dan tidak mempersulit kalian.

Toleransi itu Utama

Manusia ketika bersikap keras, kaku, dan berlebihan akan mempersulit diri sendiri. Juga akan mempersulit orang lain. Hal seperti itu akan menimbulkan kegaduhan hubungan sesama muslim. Karena itulah sifat toleran dan kemudahan adalah keutamaan tersendiri. Bahkan merupakan keutamaan dalam Islam dan iman. Amru bin Abasah menceritakan hal tersebut,

قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّبْرُ وَالسَّمَاحَةُ. (رواه أحمد)

Saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah! Islam seperti apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu sabar dan samahah (berlapang hati).”

Toleransi adalah Amal yang Mudah dan Utama

Bersikap lapang hati alias toleransi dan memberikan kemudahan adalah sebuah sikap terpuji. Bahkan termasuk amal yang utama. Selain mudah sikap toleransi juga mendapatkan keutamaan dalam Islam. Seorang sahabat nabi bernama Ubadah bin Shamit berkata,

إِنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَتَصْدِيقٌ بِهِ وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ قَالَ أُرِيدُ أَهْوَنَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ السَّمَاحَةُ وَالصَّبْرُ قَالَ أُرِيدُ أَهْوَنَ مِنْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا تَتَّهِمِ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي شَيْءٍ قَضَى لَكَ بِهِ. (رواه أحمد)

“Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dan berkata, ‘Wahai Nabi Allah amalan apa yang paling utama? Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, ‘Beriman kepada Allah dan membenarkannya dan berjihad di jalan-Nya.’ Orang itu berkata, ‘Saya ingin yang lebih mudah dari itu wahai Rasulullah! Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, ‘Berlapang dada dan bersabar.’ Orang itu berkata lagi, ‘Saya ingin yang lebih mudah dari itu wahai Rasulullah?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kamu berprasangka buruk kepada Allah tabaraka wa ta’ala dalam suatu yang telah diputuskan untukmu.’”

Begitulah Islam sebagai agama toleran menghasung umatnya untuk bersikap dan berlaku toleran. Tak heran bila Islam menghargai dan mendukung toleran, karena utusan terakhir yang membawanya adalah sebagai rahmatan, kasih saya, kepada seluruh alam. Rasul Muhammad diutus untuk memberikan kabar gembira, salah satunya sikap toleransi, sekaligus memberikan peringatan agar tetap dalam jalan yang lurus. Dengan demikian maka akan terjaga sifat Islam, hanafiyah samhah.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ  

”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya:107).

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا   

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (Saba : 28).

Islam dengan sifat toleransinya diturunkan oleh Allah untuk mengembalikan dan menjaga manusia agar tidak terjebak kepada sikap dan perilaku berlebihan. Di antaranya berlebihan dalam membanggakan suku dan bangsa atau merasa lebih mulia karena jenis kelamin sehingga meremehkan yang lain. Ini bentuk ajaran jahiliyah. Islam datang untuk membersihkannya, menghapuskan sifat kesukuan yang berlebihan karena hawa nafsu.

Islam tetap mengakui budaya dan perbedaan suku serta kebangsaan. Tetapi Islam membatasinya dengan menjaga kebersihan hati dan kekuatan iman. Sehingga perbedaan suku dan bangsa itu untuk mendorong kepada kebaikan dan keadilan. Bukan membangun martabat hanya berdasarkan bahasa, kebangsaan, dan kesukuan semata. Justru Islam mengendalikan dan menyatukan perbedaan itu dengan Islam yang datang dilandasi dengan toleransi.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat:13)

Digubah secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Samahatul Islam fi Dhau-il Quran al-Karim was Sunnah as-Shahihah karya Salim ‘Id al-Hilali.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )