KEMATIAN YANG MENYAKITKAN

KEMATIAN YANG MENYAKITKAN

Semakin Mengerikan Ketika Menjadi Akhir yang Buruk

Sering masuk ruang dengar kita kematian dengan diawali bunuh diri. Ada juga sedang bermaksiat tiba-tiba meninggal seketika itu juga. Biasanya orang ditalqin saat tanda-tanda kematian datang. Ada yang tidak nyambung ucapannya. Bukan kalimat la ilaha illallah yang keluar, tetapi malah menyebut merek minuman keras terkenal.

Itulah gambaran orang yang mengakhiri kehidupannya dalam keburukan (su-ul khatimah). Perbuatan yang dilakukan hingga meninggalnya pun bukan hal yang baik-baik. Untuk mengucapkan kalimat tauhid pun tidak berdaya. Su-ul khatimah (akhir yang buruk) adalah meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah b, berada di atas kemurkaan-Nya serta meninggalkan kewajiban dari Allah. Tentu saja akhir kehidupan yang demikian itu sangat menyedihkan, selalu dikhawatirkan oleh orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjauhkan kita darinya.

 Contoh Nyata Peristiwa Su-ul Khatimah

Memang sering datang kabar tentang sebagian orang yang sedang sakaratul maut muncul tanda-tanda yang mengisyaratkan su-ul khatimah. Orangnya menolak untuk mengucapkan syahadat, justru mengucapkan kata-kata buruk dan haram. Ada saja ucapan dan perilaku yang menyimpang dari aturan agama Allah.

Ibnul Qayyim r dalam kitabnya, AlJawabul Kafi, mengisahkan bahwa ada seseorang saat sakaratul maut diingatkan untuk mengucapkan kalimat  لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Orang yang sekarat tersebut menjawab, “Apa gunanya bagiku. Aku pun tidak pernah mengerjakan shalat karena Allah, meskipun sekali.” Akhirnya hingga meninggal pun ia tidak mampu mengucapkannya.

Masih menurut kisah Ibnul Qayyim r. Yang ini tentang seseorang yang diketahui selama hidupnya gemar bermusik dan mendendangkannya. Saat maut menjemputnya, diingatkan untuk mengatakan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Bukannya mengucapkan kalimat tauhid, malah mengigau membawakan lagu-lagu. Sampai kemudian nyawa berpisah dari badannya tanpa mengucapkan kalimat tauhid. Kisah serupa juga disampaikan beliau rahimahullah. Kebetulan profesinya pedagang. Ketika hampir meninggal dikelilingi kerabatnya untuk mentalqinkannya. Mestinya ucapan kalimat tauhid yang diharapkan kerabatanya justru malah seperti orang menawarkan dagangan: “barang murah, harga murah kualitas super bla..blaa..blaaa.” Akhirnya hingga berhembus nafas terakhir tanpa melafazhkan kalimat tauhid.

Al-Hafizh Ibnu Rajab r dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam menukil dari salah satu ulama, ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Rawwad: “Aku pernah menyaksikan seseorang yang hendak meninggal tengah ditalqin untuk mengucapkan kalimat tauhid. Orang tersebut menolak untuk mengucapkannya. Aku pun menelisik tentang orang tersebut. Ternyata ia seorang pecandu khamr (minuman keras). Berkaca dari itu maka takutlah kalian terhadap perbuatan-perbuatan dosa, karena perbuatan dosa itu yang telah menjerumuskannya.”

Kisah lain masih tentang peristiwa sakaratul maut dibawakan oleh al-Hafizh adz-Dzahabi r. Ceritanya tentang seorang yang biasa nongkrong bergaul dengan para pecandu khamr. Saat ajalnya datang menjelang, kemudian diajari seseorang untuk mengucapkan syahadat malah keluar kata-kata lain: “Ayo minum…mari tuangkan untukku!” Ia pun kemudian meninggal.

Setelah kita melihat beragam peristiwa tersebut bisa dikaitkan dengan nasihat Ibnul Qayyim r. Beliau r berkata,

“Subhanallah! Betapa banyak orang mendapatkan pelajaran dengan menyaksikan hal-hal tersebut? Seorang hamba pada saat sadar, kuat, dan memiliki kemampuan bisa dikuasai setan, ditunggangi dengan perbuatan maksiat, hatinya lalai dari mengingat Allah b, lisannya jauh dari dzikir, dan anggota badannya tidak mengerjaan perintah-Nya. Lantas bagaimana kiranya ketika kekuatannya melemah, hati & jiwanya kacau menahan sakitnya naza’ (tercabutnya nyawa) yang sedang dialaminya? Saat seperti ini setan akan mengerahkan seluruh kekuatan dan upayanya, dan menghimpun kemampuannya untuk mencari celah. Ini adalah titik akhir. Saat itu hadir setan yang terkuat untuk mencelakakan hamba yang telah lemah. Siapakah yang bisa selamat?

Allah berfirman,

يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّٰلِمِينَۚ وَيَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” [Ibrahim: 27]

Orang yang hatinya terbiasa lalai mengingat Allah, selalu memperturutkan nafsunya, dan bertindak melampaui batas, akankah diberi petunjuk agar husnul khatimah? Orang yang hatinya jauh dari Allah c, lalai dari-Nya, lebih mengagungkan nafsunya, tunduk kepada syahwatnya, lisannya kering dari dzikir, dan anggota badannya sbuk bermaksiat dan terhalang dari ketaatan, hamper mustahil diberi petunjuk agar akhir kehidupannya baik.

Contoh Nyata Peristiwa Su-ul Khatimah

Su-ul khatimah ada dua tingkatan:

Pertama: Tingkatan terparah dan terjelek

Dialami oleh orang yang hatinya penuh dengan keraguan dan penentangan saat sakaratul maut. Akhirnya ia pun meninggal dalam keadaan seperti ini. Hal ini akan menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah.

Kedua: Tingkatan yang lebih ringan

Orang yang mengalaminya biasanya punya hati cenderung kepada urusan dunia atau menuruti syahwatnya. Kebiasaan hidupnya tersebut tergambar di dalam hatinya saat sakaratul maut. Biasanya, seseorang meninggal dalam kondisi yang biasa dilakoninya dalam kehidupan sehari-hari. Jika jelek, akhirnya juga jelek. Bagaimanapun kadar su-ul khatimah tersebut tentulah kita semua berharap Allah melindungi kita dari keduanya.

 Sebab-Sebab Terjadinya Su-ul Khatimah

Dari uraian tersebut nampak bahwa penyebab terjadinya su-ul khatimah adalah lawan dari penyebab husnul khatimah yang telah dibahas di muka. Seara ringkas bisa kita sebutkan sebagai berikut:

Pertama: Kerusakan aqidah, keyakinan. Ini adalah sebab terbesar, paling mendasar.  Keyakinan yang rusak jelas akan menjadipenghalang datanganya pertolongan dan kemudahan dari Allah untuk mengucapkan kalimat tauhid saat meninggal.

Kedua: Sikap dan perasaan tergantung dan terlena oleh kesenangan dunia, sehingga menabrak rambu-rambu larangan dari Allah.

Ketiga: Tidak berlaku istiqomah dan berpaling dari jalan kebaikan dan petunjuk-Nya.

Keempat: Terang-terangan dan terus-menerus melakukan perbuatan maksiat. Jinak terhadap

Semoga Allah melindungi kita dari Su-ul khatimah. Seseorang yang amalan lahirnya baik, serta batinnya juga senantiasa bersama Allah, jujur dalam perkataan dan perbuatan, maka dia tidak akan mengalami Su-ul khatimah. Sebaliknya, Su-ul khatimah akan dialami oleh orang yang aqidahnya rusak, amalan lahirnya pun rusak, berani melakukan dosa-dosa besar, bahkan mungkin dia malakukan itu sampai ajal menjemput tanpa sempat bertaubat.

Karena itu, selayaknya bagi orang yang berakal agar mewaspadai ketergantungan hatinya terhadap perbuatan-perbuatan haram, dan mengharuskan hati, lisan serta anggota badannya untuk mengingat Allah Azza wa Jalla dan tetap taat kepada Allah c di manapun berada.

Disadur secara bebas oleh Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc. dari buku Husnul Khatimah wa Su-uha halaman 11-16 karya Khalid bin Abdirrahman as-Syayi’ terbitan Darul Balansiyah Publishing cetakan pertama tahun 1422 H.

Editor: @rimoesta

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (1 )