Menghadirkan Niat Setiap Beramal

Menghadirkan Niat Setiap Beramal

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا ومِنْ َسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

قال الله تعالى في القرآم الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً.

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ.

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman, dan nikmat Islam, yang merupakan nikmat terbesar yang diberikan kepada kita, dan tidak semua orang diberikan nikmat tersebut, karena Allah subhanahu wa ta’ala hanya memberikannya kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Kedua nikmat ini harus kita jaga dengan baik dan tidak boleh kita tukar dengan apapun yang ada di dunia ini hingga ajal menjemput kita.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan supaya kita bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita, hendaknya kita tunduk dan patuh kepada-Nya dengan benar-benar bersyukur kepada-Nya dan jangan sampai kita kufur terhadap nikmat-nikmat tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Ibrahim: 7,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Jika kamu bersyukur (atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) maka Aku akan menambah kenikmatan-kenikmatan itu, akan tetapi apabila kamu ingkar (kufur) maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS: Ibrohim:7).

Dalam surat an-Nahl ayat: 18, Allah berfirman,

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kamu menghitung kenikmatan-kenikmatan Allah maka kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya.” (QS: An-Nahl:18).

Ayat ini menegaskan kepada kita semua bahwa nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah diberikan kepada kita sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya, bahkan kita tidak akan mampu untuk menghitungnya dengan alat apapun, hal ini lebih menegaskan kepada kita supaya kita benar-benar dan bersungguh-sungguh dalam bersyukur kepada-Nya jangan sampai kita menjadi orang-orang yang ingkar.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada baginda Nabi kita yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan NIAT, Pembahasan ini saya sarikan dari Syarah Kitab Riyadhush sholihin karya Imam Nawawi yang disyarah oleh Syaikh Utsaimin Rahimahullahu ta’ala.

Allah subahnahu wa ta’ala berfirman,

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ. (البينة: 5).

“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).” (QS: Al-Bayyinah: 5).

 لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ. (الحج: 37).

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS: Al-Haj: 37).

قل إن تخفوا ما في صدوركم أو تبدوه يعلمه الله. (آل عمران: 29).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” (QS: Ali Imron: 29).

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang niat. Niat merupakan salah satu syarat diterima ibadah yang kita lakukan, sehingga kita wajib benar-benar memperhatikan masalah ini supaya ibadah kita diterima Allah subhanahu wa ta’ala.

Niat tempatnya di dalam hati tidak di lisan, ibadah apapun niatnya cukup dalam hati, sehingga ketika seseorang hendak beramal cukup meniatkannya dalam hati tidak perlu mengucapkannya dengan lisan karena memang tidak disyariatkan untuk melafadzkan niat.[1]

Ketika seseorang hendak melakukan ibadah apapun, seperti wudhu, shalat, puasa, shodaqoh, haji dan lain-lain, cukup dengan niat dalam hati, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak beribadah tidak melafadzkan niat, beliau tidak mengucapkan:

“Ya Allah sesungguhnya aku berniat untuk berwudhu, Ya Allah sesungguhnya aku berniat untuk mengerjakan shalat, Ya Allah sesungguhnya aku berniat untuk bersedekah, Ya Allah sesungguhnya aku berniat untuk berhaji dll.”

Melafadzkan niat tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab niat tempatnya ada di dalam hati. Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui semua yang di dalam hati seseorang dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وقال تعالي (قل إن تخفوا ما في صدوركم أو تبدوه يعلمه الله). (آل عمران: 29).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” (QS: Ali Imron: 29).

Setiap orang wajib mengikhlashkan niat ibadahnya hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala, ibadah apapun yang ia kerjakan niatnya harus lillah karena Allah subahnahu wa ta’ala saja dan untuk mendapatkan akhirat bukan karena sesuatu yang lain.

Niat beribadah ikhlas lillah karena Allah merupakan perintah-Nya yang terdapat dalam surat al-Bayyinah ayat: 5.

(وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ) (البينة: 5).

“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).” (QS: Al-Bayyinah: 5).

Hendaknya seseorang ketika hendak beribadah benar-benar memperhatikan niatnya dengan cara menghadirkan niat ikhlas di dalam hatinya ketika hendak melakukan ibadah tersebut.

Misalnya seseorang hendak berwudhu, maka ia harus menghadirkan niat melaksanakan ibadah wudhu, niat berwudhu ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, dan niat berwudhu dalam rangka untuk tunduk melaksanakan perintah-Nya karena wudhu merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan oleh-Nya.

Sehingga ketika seseorang hendak beribadah kepada Allah harus menghadirkan tiga niat ini yaitu, niat beribadah, niat ibadah itu dikerjakan ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala dan niat dalam rangka untuk melaksanakan perintah-Nya. Dengan adanya tiga unsur ini niat tersebut menjadi niat yang paling sempurna.

Demikian juga ketika seseorang hendak shalat hendaknya memperhatikan:

Pertama: niat shalat, lalu tentukan shalat itu shalat apa? Dhuhur, asar, maghrib, isya, subuh atau shalat lainnya.

Kedua: niat shalat lillah (ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala semata), bukan karena selain-Nya, bukan pula karena riya’, sum’ah, untuk mendapat pujian atau untuk mendapatkan harta atau dunia.

Ketiga: menghadirkan niat shalat tersebut dalam rangka untuk melaksanakan perintah-Nya, sebagaimana dalam firmannya:

أَقِمِ الصَّلَاةَ

“Dirikanlah salat.” (QS: Al-Isra’: 78).

فَأَقِيْمُوا الصَّلَاةَ

“Laksanakanlah salat itu (dengan sempurna).” (QS: An-Nisa: 103).

وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة

“Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat.” (QS: Al-Baqarah: 43).

Demikian juga ketika seseorang melaksanakan ibadah-ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, semua hendaknya didasari dengan ketiga niat tersebut supaya semakin sempurna ibadahnya dan pahalanya yang diperoleh kelak di akhirat.

Berikut ini akan dijelaskan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa niat itu letaknya ada di dalam hati bukan dilafadzkan, allah maha mengetahui niat yang ada di dalam hati seseorang, dan bisa jadi seseorang melakukan amalan yang dalam pandangan manusia amalan tersebut adalah amal shalih, tapi menurut Allah subhanahu wa ta’ala amal tersebut bukan amal shalih karena ibadah tersebut telah dirusak oleh niat yang salah sehingga amalannya hancur dan tidak dinilai sebagai amal shalih oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena Allah mengetahui betul niatnya ketika orang itu melakukan amalan tersebut, sementara Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberi balasan kepada seseorang kelak pada hari kiamat melainkan hanya berdasarkan niat yang ada di dalam hatinya. di antara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa niat itu cukup dalam hati adalah:

اِنَّهٗ عَلٰى رَجْعِهٖ لَقَادِرٌۗ

“Sesungguhnya Dia (Allah) benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati).”

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَاۤىِٕرُۙ

“pada hari ditampakkan segala rahasia.”

فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍۗ

“Maka, baginya (manusia) tidak ada lagi kekuatan dan tidak (pula) ada penolong.” (QS: At-Thariq: 8-10).

اَفَلَا يَعْلَمُ اِذَا بُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِۙ

“Maka, tidakkah dia mengetahui (apa yang akan dialaminya) apabila dikeluarkan apa yang ada di dalam kubur.”

وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُوْرِۙ

“dan ditampakkan apa yang tersimpan di dalam dada?” (QS: Adz-Dzariyat: 9-10).

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa pahala dan azab tergantung niat yang ada di dalam hati seseorang jika seseorang beramal dan niatnya karena Allah bukan karena selainnya maka ia akan mendapat balasan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala namun sebaliknya jika beramal dan niatnya bukan karena Allah ia akan mendapat azab dari-Nya.

Adapun di Dunia ini, yang dilihat adalah lahiriyahnya, hendaknya seseorang bermuamalah dengan orang lain berdasarkan lahiriyah orang tersebut, jika orang tersebut beramal shalih kita nilai ia telah melakukan amal shalih dan kita berharap semoga amalannya itu diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Jika memang secara hakekat antara lahir dan batin orang yang melakukan amal shalih tersebut selaras, artinya ia mengerjakan amal shalih didasari niat ikhlas karena Allah semata itu merupakan keuntungan baginya dan insyaallah ia akan mendapat ganjaran yang besar di sisi-Nya, namun jika ternyata amal lahiriyahnya berbeda dengan amal batinnya, artinya lahiriyahnya ia melakukan amal shalih akan tetapi niatnya bukan karena Allah, hatinya diliputi dengan niat yang buruk bukan ikhlas karena-Nya (na’udzubillah min dzalik) maka orang tersebut sangat merugi, ia capek-capek beramal tapi tidak mendapat balasan pahala dari Allah subhanhu wa ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman:

أنا أغني الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري، تركته وشركه

“Aku sama sekali tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa beramal disertai dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, Aku akan meninggalkannya dan sekutunya.”

“Wahai saudaraku ikhlaslah beramal hanya karena Allah semata dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun!”

Ketahuilah wahai saudaraku…! Terkadang setan mendatangimu ketika kamu hendak beramal dan berkata: “Kamu mengamalkan ini hanya karena riya’.” Sehingga kadang semangatmu beramal hilang. Tapi jangan kamu pedulikan perkataan setan itu, jangan kamu ikuti, teruskan amalanmu itu, meskipun setan mengatakan: “Kamu melakukan itu hanya karena riya’ atau sum’ah.”

Sebab jika kamu ditanya: “Apakah kamu mengerjakan amal ini karena riya’ dan sum’ah?” jawabannya, “Tidak!”

Jadi… kamu jangan pedulikan was was yang dimasukkan setan ke dalam hatimu, tetaplah beramal kebaikan, dan jangan berkata, “Saya melakukan ini karena riya atau semisalnya.”

 

oleh: Ustadz Abu Layla Turahmin, M.H.

Rabu, 13 Maret 2024, 11.53.

[1] . (Pen: dalam masalah melafadzkan niat terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama sebagian berpendapat melafadzkan niat itu bid’ah dan sebagaian ulama lain berpendapat mustahab, sehingga hendaknya bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan ulama tersebut).

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )