MENGHINA ALLAH ADALAH SEBUAH KEKUFURAN

MENGHINA ALLAH ADALAH SEBUAH KEKUFURAN

Celaan adalah segala bentuk ucapan atau perbuatan bertujuan meremehkan dan merendahkan. Segala bentuk ungkapan yang dianggap oleh manusia sebagai pencelaan, penghinaan, atau merendahkan, maka begitupun yang dianggap oleh syariat.

Yang menjadi patokan adalah segala bentuk yang disepakati oleh masyarakat sebagai kebiasaan yang buruk, seperti melaknat, menghina, berkata keji, bahkan dalam termasuk bentuk isyarat pun. Jadi segala sesuatu yang dipahami sebagai penghinaan oleh masyarakat, maka itulah penghinaan. Meski di sebagian daerah lain hal itu dianggap bukan merupakan penghinaan.

Kaum muslimin bersepakat bahwa mencela dan menghina Allah adalah perbuatan kufur dan pelakunya diancam dengan hukuman mati. Mereka berbeda pendapat dalam hal penerimaan taubatnya, apakah taubatnya itu bisa menjadi alasan tidak dihukum mati atau tetap dihukum mati.

Menghina dan mencela merupakan bentuk gangguan yang besar. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًاوَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.[1] Allah akan mela’natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Quran Surat Al-Ahzab:57-58)

Ketika seseorang menghina Allah bukan berarti perbuatannya akan mencelakakan Allah ta’ala. Sebagaiman diketahui bahwa gangguan itu ada dua jenis, gangguan yang mencelakakan dan gangguan yang tidak menyebabkan celaka. Tetapi segala bentuk gangguan tidak ada yang dapat mencelakakan Allah.

Kemudian disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِـي. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Hai hamba-Ku, kamu sekalian tidak akan dapat menimpakan mara bahaya sedikitpun kepada-Ku, tetapi kamu merasa dapat melakukannya.” (H.R Muslim)

Allah ta’ala melaknat orang yang menghina-Nya dengan laknat di dunia dan akhirat. Maksud laknat di sini yaitu menjauhkan seorang hamba dari rahmat Allah. Ayat di atas menunjukkan dijauhkannya seseorang dari dua rahmat, rahmat di dunia & rahmat di akhirat. Tidaklah dijauhkan dari dua rahmat Allah ini kecuali orang-orang kafir.

Allah yang Mahamulia kemudian menyebutkan tentang penghinaan kepada kaum muslimin baik laki-laki ataupun perempuan tanpa menyebutkan laknat atasnya di dunia dan akhirat. Hal ini karena manusia tidak dikafirkan hanya dengan alasan menghina, melaknat, atau menuduh berzina sesamanya. Perbuatan itu hanya disebut sebagai “kebohongan dan dosa yang besar”, apabila ia tidak mampu menghadirkan bukti. Tetapi Allah ta’ala menyebutkan bahwa Dia menyiapkan siksa yang menghinakan bagi yang mencela-Nya. Bentuk siksa yang menghinakan tidak disebutkan dalam al-Quran kecuali bagi orang-orang kafir.

Mencela Allah ta’ala merupakan kekufuran di atas kekufuran. Derajatnya melebihi kekufuran orang-orang yang menyembah berhala (segala sesuatu yang disembah selain Allah). Orang-orang yang menyembah berhala sesungguhnya diawali niatan sebagai bentuk pengagungan terhadap Allah. Perbuatan mereka pun tidak menurunkan derajat Allah sebagai tuhan menjadi setara dengan barhala. Justru merekalah yang mengangkat derajat berhala agar setara dengan Allah. Karena itulah orang-orang musyrik berkata setelah mereka berada di dalam neraka:

تَاللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (Al-Quran Surat Asy-Syu’ara’:97-98)

Sementara itu menghina atau mencela Allah berarti berniat untuk menurunkan derajat Allah lebih rendah dibanding berhala. Meski kadang mereka hanya bercanda. Tidak pernah ada cerita orang-orang musyrik menghina berhala-berhala yang mereka sembah meski dengan maksud sekadar bercanda. Mereka justru sangat mengagungkan tuhan-tuhan mereka itu. Bahkan mereka akan menghina orang yang mencela tuhan mereka.

Allah telah berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Al-Quran Surat Al-An’am:108)

Walaupun orang-orang musyrik itu kafir kepada Allah, akan tetapi Allah melarang Nabi Muhammad ﷺ mencela tuhan-tuhan mereka. Tujuannya agar mereka tidak terjatuh dalam kekufururan di atas kekufuran, yaitu menghina tuhan Nabi Muhammad ﷺ.

Celaan kepada Allah ta’ala lebih besar kekufurannya daripada atheism. Orang atheis meyakini bahwa tuhan itu tidak ada. Mereka berkata “jika saya meyakini tuhan itu ada pastilah kami akan mengagungkan-Nya.” Sementara orang yang meyakini adanya Allah dan menyatakan bahwa Allah adalah Tuhannya tetapi malah menghina-Nya. Tentu ini merupakan bentuk penyelisihan dan kedurhakaan yang nyata.

Memuliakan berhala sebagaimana yang terjadi di banyak negeri lebih ringan bentuk kekufurannya di sisi Allah daripada membiasakan cacian kepada Allah di kalangan masyarakat. Mempopulerkan cacian kepada Allah ta’ala lebih besar dosanya daripada menyekutukan Allah. Kedua perbuatan itu sama-sama sebuah kekufuran, hanya saja orang musyrik mereka mengagungkan Allah, dan orang yang mencaci Allah ta’ala merendahkan-Nya. Sungguh Allah Dialah Yang Mahasuci dan Mahatinggi.

Menghina Allah serta memasyhurkan hinaan kepada-Nya di sebuah daerah lebih besar daripada menghalalkan perbuatan zina. Celaan kepada Allah lebih besar dari perbuatan buruk kaum Luth. Karena kekufuran akibat menghalalkan perbuatan keji merupakan kekufuran yang disebabkan mengingkari sebagian syariat Allah dan meremehkan perintah-perintah-Nya. Sedangkan mencaci adalah kekufuran yang disebabkan karena kufur kepada yang membuat syariat. Kufur kepada pembuat syariat merupakan bentuk kekufuran kepada seluruh syariat yang telah dibuat-Nya. Jadi dalam hal ini lebih parah bentuk kekufurannya, walaupun sama-sama kekufuran hanya saja beda tingkatannya. Kekufuran itu bertingkat-tingkat sebagai mana iman juga memiliki tingkatan.

Ketika Allah ta’ala menyebutknan kekufuran kaum Nasrani dan penghinaannya kepada Allah dengan mendakwa Allah memiliki anak, maka Allah tegaskan kesalahan mereka dengan menyebutkan bahwa pengaruh dosanya lebih besar dari orang-orang musyrik yang menyembah berhala dan bintang-bintang. Allah berfirman,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا ﴿88  لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ﴿89 تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿90﴾ أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا﴿91﴾ وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا﴿92﴾ إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا﴿93﴾ لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا﴿94﴾ وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا ﴿95

“Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. * “Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. * Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh. * Karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. * Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. * Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. * Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. * Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Al-Quran Surat Maryam:88-95).

Karena mendakwa Allah ta’ala memiliki anak merupakan bentuk ketidaksempurnaan-Nya sekaligus penghinaan kepada-Nya. Hal ini lebih besar dosanya daripada menyembah kepada selain Allah. Dan menurunkan derajat Allah sebagai Tuhan yang penuh kesempurnaan setara dengan makhluk, lebih besar dosanya dari meninggikan derajat makhluk setara dengan Allah.

Menghina berarti menunjukkan ketiadaan iman secara lahir dan batin. Berarti juga menafikan perkataan hati yang meyakini adanya Allah dan meyakini-Nya sebagai satu-satunya yang layak untuk disembah. Sikap itu juga meniadakan perbuatan hati berupa kecintaan dan pengagungan kepada Allah. Maka tidak diterima pengakuan seseorang tentang sebuah pengagungan sementara ia melakukan penghinaan. Ambil contoh tentang mencintai kedua orang tua. Seseorang tidak bisa dikatakan mencintai kedua orang tuanya apabila mencela dan menghina keduanya. Ia telah berdusta tentang pengakuan cintanya.

 

Menghina Allah adalah Sebuah Kekufuran

Para ulama dari seluruh madzhab bersepakat bahwa sesungguhnya iman adalah perkataan dan perbuatan. Jadi menghina Allah adalah kekufuran. Tidak ada toleransi dalam hal ini, baik menghina/merendahkan secara terang-terangan atau tidak.

Diriwayatkan dari Harb dari Mujahid bahwasanya Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang menghina Allah atau menghina salah seorang dari nabi, maka dia diancam dengan hukuman mati.”

Diriwayatkan dari Laits dari Mujahid bahwasanya Ibnu Abbas berkata, “Siapapun di antara kaum muslimin yang menghina Allah atau salah seorang nabi, berarti telah mengingkari utusan Allah. Dia telah murtad dan dituntut agar bertobat. Jika menolak maka dia diancam dengan hukuman mati. Siapapun di antara mu’ahad (orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan pemerintahan kaum muslimin dengan kewajiban membayar upeti) membangkang kemudian menghina Allah atau salah seorang nabi dan melakukannya secara terang-terangan berarti melanggar perjanjian, maka berhak mendapat ancaman hukuman mati.”

Imam Ahmad pernah ditanya tentang hukum orang yang menghina Allah ta’ala. Beliau menjawab, “Orang itu telah murtad dan boleh dihukum mati.” Hal itu diriwayatkan oleh anaknya Abdullah dalam bukunya (Al-Masa-ilu halaman 431).

Para ulama telah menetapkan tentang kufurnya penghina Allah ta’ala dan dibolehkan memberikan hukuman mati, di antaranya:

Ibnu Rahawaih rahimahullah berkata, “Kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya orang yang menghina Allah, menghina Rasul-Nya, menolak sesuatu yang telah Allah tetapkan, atau membunuh salah seorang nabi berarti telah kafir, meski ia mengakui apa yang telah Allah turunkan.”

Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Tidak ada perselisihan di antara kaum muslim bahwa menghina Allah merupakan perbuatan kekafiran dan menyebabkan diperbolehkan untuk ditumpahkan darahnya”.

Para ulama yang juga menetapkan hal tersebut di antaranya Ibnu Hazm, Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani, Imam Ibnu Qudamah, serta para imam yang lainnya.

Seluruh ulama sepakat tentang kufurnya orang yang menghina Allah ta’ala. Tidak ada udzur/toleransi dalam hal ini. Orang yang paling rendah akalnya pun dapat mengerti tentang penghinaan dan tahu beda antara pujian dan cacian. Biasanya kalau ada yang nekat melakukan karena mereka meremehkan larangan tersebut.

Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani al-Maliki pernah ditanya tentang seseorang yang melaknat orang lain dan melaknat Allah kemudian pelaku berkilah, ‘Sesungguhnya maksudku ingin melaknat setan akan tetapi aku salah sebut.” Beliau menjawab, “Orang itu layak mendapat hukuman mati karena kufurnya telah jelas. Udzurnya tidak bisa diterima, baik ia dalam keadaaan bercanda ataupun serius.”

Begitulah fatwa para ulama dan qadhi dari seluruh madzhab seperti imam 4 madzhab[2] dan madzhab zhahiriyah[3]. Mereka menetapkan perbuatan itu sesuai dengan dzahirnya dan tidak menetapkan apa yang ada dalam batin. Walaupun kadang mungkin saja seseorang menghina secara lahiriah akan tetapi tidak dengan batinnya.

Seandainya para ulama mengabaikan keadaan lahiriah, maka akan banyak kilah bahwa perbutannya dilakukan tidak keluar dari dalam hati. Akibatnya hilanglah syariat, hukuman, hak, dan kemuliaan. Begitu pula tidak dapat dibedakan antara muslim dan kafir, orang mukmin dan munafik. Akhirnya agama dan dunia hanya menjadi sendau gurau lisan orang-orang bodoh dan yang hatinya sakit.

 

Menghina Allah Tetaplah Kufur Meski Tidak Bermaksud Kufur

Tidak diragukan lagi bahwa menghina Allah ta’ala merupakan perbuatan kufur. Meski, bisa saja ada yang berkilah bahwa hinaan kadang hanya untuk bercanda bukan benar-benar menghina. Penghina kadang beralasan bahwa perbuatannya dilakukan tanpa sengaja melanggar hak Allah.

Udzur semacam itu tidak dibenarkan. Tidak ada yang menerima udzur seperti ini kecuali kelompok murjiah. Kelompok sesat yang dipandegani Jahmu bin Sofwan dan orang-orang yang melampaui batas. Kelompok ini mengatakan bahwa iman adalah sebatas keyakinan dan pengetahuan hati. Mereka tidak mengetahui pengertian iman, bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, yakni perkataan lisan dan hati dan perbuatan hati serta anggota badan.

Orang-orang murjiah berpandangan bahwa perbuatan lahiriah tidak berpengaruh pada iman. Dengan pendapat ini mereka menentukan sesuatu atas apa yang ada dalam hati. Pada hakikatnya iman merupakan hal yang lahir dan batin. Keduanya saling melengkapi, jika salah satunya dinafikan maka batallah seluruhnya.

Orang dikatakan kafir apabila berniat kufur dan melaksanakannya, walaupun belum mengucapkan dengan lisannya atau mengerjakan dengan anggota badannya. Begitupun telah kafir berdasarkan perkataannya, walaupun ia tidak berniat dalam hati dan belum melaksanakan dengan anggota badannya. Begitu juga dengan orang yang melakukan perbuatan kufur, walaupun ia tidak berniat dalam hatinya dan belum mengucapkannya.

Apabila seseorang melakukan perbuatan yang haram, maka dihukumi sesuai dengan apa yang telah diperbuat. Urusan batin kembali kepada Allah ta’ala. Tidak setiap orang yang dihukumi kafir karena telah melakukan kekufuran secara jelas itu dianggap kafir di sisi Allah ta’ala. Perkara batin adalah urusan Allah ta’ala, sedang yang dihukumi oleh para hamba di dunia adalah perbuatan lahiriah.

Allah ta’ala menghukumi kufur orang yang menghina-Nya, menghina kitab-Nya, dan rasul-Nya, dan tidak menerima alasan bahwa itu sekadar gurauan dan candaan. Allah ta’ala berfirman,

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُۗ قُلْ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ ٦٥  لَا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ ۗ …..الأية. ٦٦

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja. * “Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (Al-Quran Surat At-Taubah:65-66).

Akal pun menunjukkan bahwa manusia menghukumi sesuatu berdasarkan kondisi lahiriah dan yang terlihat. Orang yang menuduh orang lain berzina, misalnya, tapi tidak bisa menunjukkan bukti atau hanya bercanda. Pengadilan pun tidak menerima jika hinaan dan cacian untuk dimaafkan, hanya dengan alasan tidak bermaksud menghina. Allah memerintahkan memberi hukuman kepada orang yang menuduh seseorang berzina tanpa ada bukti dengan had firyah (hukuman pendusta) yaitu dicambuk sebanyak 80 cambukan, dan tidak diterima alasan seorang yang menuduh berzina dengan dalih dia hanya bercanda dan main-main.

Begitu juga dengan kekuatan penguasa, akan jatuh jika membiarkan manusia bermain-main serta bersenda gurau dalam hukum, maka kita dapati mereka menghukum dan memberikan efek jera kepada manusia yang melakukan secara sengaja ataupun hanya bersendau gurau.

Banyak nash (dalil) yang menjelaskan tentang hukuman atas orang yang berbuat kejahatan dan kezhaliman, karena sikap bermudah-mudah dalam memahami keagungan dan kemuliaan kedudukan Allah. Hal yang sebenarnya sudah diketahui banyak orang baik secara dalil dan akal. Sehingga alasan main-main tidaklah diterima.

Hadits Abu Hurairah radhiyAllahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,

 إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيفًا. (رَوَاهُ الْبُخَارِي)

Sungguh seorang hamba sedang mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, suatu kalimat yang ia tidak mempedulikannya, namun dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba sedang mengucapkan sebuah kalimat yang dibenci oleh Allah, suatu kalimat yang ia tidak mepedulikannya, namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahanam selama tujuh puluh musim.”  (H.R Muslim)

Allah ta’ala telah menetapkan hukuman dan tidak menerima alasan “tidak mempedulikan perkataannya”. Yaitu tidak mempertimbangkan ucapannya hanya bergurau dan tidak memperhatikan apa diucapkannya. Seandainya berpikir akan perkataanya maka akan disadarinya, betapa buruk apa yang telah diucapkannya itu.

Terdapat juga sebuah hadits yang diriwayatkan dari Bilal bin Haris bahwa Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ. َوَاهُ التُّرْمُذِي)

Bisa jadi salah seorang dari kalian mengucapkan sepatah kata yang membuat Allah ridha. Orang tersebut tidak mengira kalimat itu sampai seperti itu. Karenanya Allah mencatat keridhaan untuknya hingga hari bertemu dengan-Nya. Bisa juga salah seorang di antara kalian mengucapkan sepatah kata yang membuat Allah murka. Orang tersebut tidak mengira kalimat itu sampai seperti itu. Allah pun mencatat kemurkaan-Nya untuk orang itu hingga saat bertemu dengan-Nya.” (H.R Tirmidzi)

Maka manusia berudzur dengan alasan kadang hinaan dan cacian kepada Allah ta’ala keluar dari mulut tanpa disadari. Artinya tidak ada niat untuk merendahkan. Ini alasan yang Iblis bisikkan kepada manusia, sehingga ia tetap dalam kekufuran, menjadikannya tenang dengan kezhalimannya terhadap hak-hak Allah. Setan tidak membujuk untuk berlaku kufur kecuali setelah seseorang mendapatkan syubhat-syubhat (kerancuan/keraguan) yang menenangkan akal yang lemah. Syubhat-syubhat yang terkesan syar’i yang dibangun di atas pemahaman yang tidak benar karena hanya menurutkan hawa nafsu.

Di antara bisikan dan syubhat setan terhadap manusia yaitu agar manusia memandang ringan perbuatan dosa dan kekufurannya dibanding ketaatannya. Hal ini akan memadamkan rasa bersalah tentang dosa dan hati sakit. Seperti halnya ketika membisiki orang yang menghina Allah ta’ala dari kalangan orang awam. Mereka merasa aman dengan perbuatannya karena merasa telah mengucapkan dua kalimah syahadat, berbakti kepada orang tua, dan bahkan melaksanakan sholat.

Orang-orang musyrik di Makkah pada zaman dahulu pun mengalami hal yang sama. Mereka jelas berbuat syirik kepada Allah dengan menyembah berhala. Setan menghadirkan dalam hati tentang amal baik yang mereka lakukan yaitu memberi minum rombongan ibadah haji, telah merawat Masjidil Haram dan memelihara kiswah penutup Ka’bah. Perbuatan mereka sebenarnya tidak ada nilainya di sisi Allah, karena kesyirikan mereka. Mempersekutukan Allah merupakan bentuk penghapusan sikap pengagungan terhadap Allah. Yang terjadi mereka mengagungkan Masjidil Haram akan tetapi mereka tidak mengagungkan pemiliknya, yakni Allah. Sedangkan Masjidil Haram itu diagungkan karena Allah semata, bukan sebaliknya mengagungkan Allah karena Masjidil Haram.

Allah ta’ala berfirman,

 اَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاۤجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ لَا يَسْتَوٗنَ عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۘ ١٩

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.[4] (Al-Quran Surat At-Taubah:19).

Banyak orang yang menyatakan keimanan akan tetapi sekadar pengakuan saja. Hal ini disebabkan oleh kemunafikannya. Allah ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari akhir[5],” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Quran Surat Al-Baqarah:8)

Dan tidak berbanding lurus antara pengakuan akan pengagungan diri kepada Allah serta ucapan dua kalimah syahadat dengan hinaan dan cacian terhadap-Nya.

 

Bagaimana Disebut Menghina Allah?

Para ulama bersepakat bahwa orang yang menghina Allah itu dihukum mati karena kekufurannya. Jenazah orang semacam itu dihukumi dengan hukum layaknya bukan muslim, yaitu tidak dishalatkan, tidak dimandikan sesuai syariat Islam, tidak dikafani sebagaimana pengkafanan kaum muslimin, tidak dikuburkan diperkuburan kaum muslimin, dan tidak didoakan sebagaimana orang muslim. Termasuk tidak boleh mendoakan arwahnya karena ia bukan bagian dari orang muslim.

Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang apakah taubatnya ketika masih hidup diterima atau tidak. Apakah dengan diterima taubatnya sehingga kemudian tidak dihukum mati ataukah tetap dihukum mati meski telah menyatakan taubat. Dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.

Pendapat pertama. Bahwa taubatnya tidak diterima, bahkan wajib dihukum mati meski tanpa diminta bertaubat. Taubatnya hanya kepada Allah di akhirat kelak. Pendapat ini terkenal di kalangan madzhab Hambali dan beberapa ahli fikih lainnya. Sahabat yang berpendapat seperti ini adalah Umar bin Khathab dan Ibnu Abbas.

Pendapat ini beralasan bahwa taubat tidak menghilangkan kesalahan yang jelas. Taubat juga tidak mencegah orang untuk menganggap remeh penghinaan dan celaan kepada Allah. Jika taubatnya diterima akan bisa menimbulkan sebuah sikap meremehkan di kalangan masyarakat terhadap dosa besar ini. Jika mereka menyerahkannya kepada penguasa dan mahkamah kemudian mengaku bertaubat lalu dibiarkan, maka akan menjembatani kekufuran. Hukuman-hukuman itu disyariatkan agar menjadi pelajaran dan penyucian bagi pelakunya, di samping menimbulkan efek jera sehingga mencegah berulangnya perbuatan yang sama. Penerimaan taubat orang yang menghina Allah justru tidak sesuai dengan dua tujuan tersebut.

Pendapat kedua. Bahwa orang yang menghina Allah diminta untuk bertaubat. Taubatnya diterima jika dilakukan secara jujur dan tidak mengulangi perbuatannya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Mengapa orang yang melakukan penghinaan Allah diberi kesempatan taubat? Alasannya bahwa menghina Allah merupakan perbuatan kufur, dan taubatnya orang kafir itu diterima. Seperti halnya orang-orang musyrik dan para penyembah berhala yang masuk Islam. Masuk islamnya mereka menjadi penghapus kekufuran mereka lakukan sebelumnya. Allah mengampuni orang yang bertaubat dan menghapus dosanya. Menghina Allah adalah pelanggaran yang terkait dengan hak Allah dan Allah telah mengampuni orang yang telah zalim kepada-Nya dengan bukti menerima taubat orang-orang musyrik.

Akan tetapi berbeda halnya dengan menghina Nabi ﷺ, bagi orang yang menghina beliau ﷺ wajib mendapat hukuman, karena Nabi ﷺ tidak bisa lagi memaafkan orang yang menghinanya karena beliau telah wafat.

Secara asal, memuliakan hak adalah perkara yang agung dan mencaci Nabi adalah kekufuran, dan pelakunya layak mendapat hukuman mati.

Kemudian mencaci Nabi ﷺ mempengaruhi kedudukan beliau dimata manusia, dan melemahkan posisi beliau dalam hati-hati manusia. Berbeda halnya dengan menghina Allah ta’ala, hinaan bagi-Nya tidak akan berpengaruh pada-Nya akan tetapi kecelakaan bagi orang yang menghina.

Bentuk penghinaan kepada Allah terbagi menjadi dua:

  1. Menghina secara langsung

Di antara bentuk penghinaan dan cacian kepada Allah ta’ala yaitu dengan melaknat, mencela, menghina dan menyifati Allah dengan sifat rendah. Semua ini kembali kepada hukum yang telah dibahas di atas dan merupakan maksud dari yang menjadi perkara mutlak dalam hukum menghina Allah ta’ala.

  1. Menghina secara tidak langsung

Bentuk hinaan secara tidak langsung di antaranya adalah seseorang menghina segala sesuatu yang telah Allah ta’ala atur di alam semesta ini. Termasuk makhluk-makhluk-Nya yang mungkin tidak disukai, sesama manusia atau pekerjaannya. Bisa juga menghina waktu atau keadaan, hujan misalnya. Hal ini tidak dihukumi kafir dan tidak dihukum mati, kecuali dengan maksud jelas dan terang bahwa yang dimaksud adalah untuk menghina Allah ta’ala.

Disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ. (رَوَاهُ الْبُخَارِي)

“Allah Azza wa Jalla berfirman, Anak Adam telah menyakiti-Ku dengan mencela masa. Padahal Akulah pencipta masa dengan Tangan-Ku Aku mengatur. Akulah yang menggilir siang dan malam.” (H.R Bukhori)

Kemudian dalam riwayat yang lain,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَلَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَإِنِّي أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Anak Adam suka mencela-Ku. Katanya, alangkah sialnya masa.’ Janganlah kamu berkata demikian. Karena sesungguhnya Akulah pencipta masa. Akulah yang menggilir siang dan malamnya. Jika Aku mau, Aku kuasa menghentikan pergantian keduanya.” (H.R Muslim)

Beragam bintang, matahari dan bulan. Keduanya berpengaruh pada perubahan malam dan siang, serta zaman. Mereka bergerak tanpa pilihan. Tidak keluar dari kehendak Allah. Mereka tidak diberi kewenangan dan tanpa pilihan. Tidak diperintahkan kecuali untuk perkara alam. Tidak dapat keluar dari ketentuan-Nya.

Artinya ketika seseorang mencelanya, berarti telah mencela kepada yang menggerakkan dan memerintahkannya, yaitu Allah ta’ala. Seakan menolak akan adanya hikmah dan kehendak Allah atas mereka.

Oleh karena itu Allah menyatakan bahwa menghina waktu termasuk penghinaan kepada-Nya, secara tidak langsung.

Allah tidak menjadikan hinaan terhadap manusia sama seperti hinaan kepada-Nya, karena manusia memiliki kehendak memilih yang Allah berikan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاء اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-Quran Surat At-Takwir:29).

Tentang bintang gemintang seperti matahari dan bulan, Allah ta’ala berfirman,

لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Al-Quran Surat Yasin:40).

 

Mengagungkan Allah Adalah Kewajiban

Di antara bentuk pengagunan kepada Allah adalah mengagungkan segala sifat-Nya. Kita juga mengagungkan segala hal yang telah Allah tentukan, termasuk perintah dan larangan-Nya. Mengagungkan berarti melaksanakan perintahnya dan mengamalkannya dengan benar. Tidak menenggelamkan diri dalam membahas Dzat Allah juga termasuk mengagungkan-Nya.

Dan juga di antara bentuk pengagungan kepada Allah yaitu berdzikir, berdoa dan meminta hanya kepadaNya, serta mengaitkan segala sesuatu yang tejadi adalah pengaturan-Nya, bahwa Dialah yang menciptakan dan mengurusnya dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah ta’ala berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.[6] Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Al-Quran Surat Az-Zumar: 67)

Demikian pembahasan ringkas tentang seluk beluk penghinaan kepada Allah. Allahlah satu-satunya Penolong dan Penunjuk ke jalan yang benar. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Kita meminta kepada-Nya sebaik-baik maksud dan manfaat yang banyak.

 

Disadur secara bebas oleh Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari Ta’zhimullahu Ta’ala wa Hukmu Syatimihi karya Abdul ‘Aziz bin Marzuq at-Tharifi—halaman 6-38—terbitan Maktabah Darul Minhaj Cetakan Pertama 1434 H. Riyadh.

edited: @rimoesta

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel: https://binbaz.or.id/allah-itu-maha-agung-maka-agungkanlah/

 

Footnote:

[1] “Menyakiti Allah dan rasul-rasul-Nya”, yaitu melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak diridhai Allah dan tidak dibenarkan rasul-Nya; seperti kufur, mendustakan kenabian dan sebagainya.

[2] Yaitu madzhab Hanafi oleh Imam Abu Hanifah, Maliki oleh Imam Malik bin Anas, Syafi`iy oleh Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi`iy dan Hanbali oleh Imam Ahmad bin Hanbal

[3] Para ulama menghitung sebagai madzhab ke-5, oleh Imam Dawud bin khalaf adh-Dhahiri dan dipopulerkan oleh imam Ibnu Hazm adh-Dhahiri

[4] Ayat ini diturunkan untuk membantah anggapan bahwa memberi minum para haji dan mengurus masjidil Haram lebih utama dari beriman kepada Allah serta berhijrah di jalan Allah.

[5] Hari kemudian ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai waktu yang tak ada batasnya.

[6] Ayat ini menggambarkan kebesaran dan kekuasaan Allah dan hanya Dialah yang berkuasa pada hari kiamat.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )