SAYANGI ANAKMU SELAMANYA (1)

SAYANGI ANAKMU SELAMANYA (1)

Islam diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang Rahman dan Rahim sebagai agama rahmah. Agama kasih sayang. Pembawa risalah terakhir, Nabi Muhammad , pun adalah seorang yang penuh kasih sayang. Beliau pun memberikan teladan dan mengajak kita, umatnya, untuk menjadi sosok yang sarat sifat kasih sayang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Quran Surat Al-Anbiya:107)

Tentang dirinya Rasulullah  juga bersabda,

أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَالْمُقَفِّي وَالْحَاشِرُ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ. (رواه مسلم).

Aku bernama Muhammad, Ahmad, Al-Muqaffi (sama dengan nama Al-Aqib, penutup), Al Hasyir, Nabiyyut-Taubah (Nabi yang menerima tobat), dan Nabiyyur-Rahmah (Nabi yang kasih sayang).” (Hadits Riwayat Muslim)

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ. (رواه الترمذي).

Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar-Rahman, berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada dibumi, niscaya Yang ada di langit akan mengasihi kalian.” (Hadits Riwayat Tirmidzi)

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ. (رواه البخاري).

Sesungguhnya Allah akan merahmati diantara hamba-hamba-Nya mereka yang saling berkasih sayang.” (Hadits Riwayat Bukhari)

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ. (رواه البخاري).

Barangsiapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Kemashlahatan Islam adalah umum meliputi semua alam. Bahasan kita kali ini adalah tentang pentingnya sifat rahmah, kasing sayang. Tercakup dalam hal ini, dan utama, adalah hubungan kasih sayang antara orang tua dengan anaknya. Mengapa? Karena orang tua adalah asas atau ushul dari seorang anak. Dari sebelum lahir, kemudian bayi, anak sampai tarbiyah memerlukan sifat rahmah. Kalau dilandasi sifat rahmah dalam hati orang tua kepada anak otomatis keberkahan akan diperoleh.

Pasti akan mendatangkan mashlahat dan manfaat yang besar yaitu birrul walidain, terpenuhi hak-haknya, ihsan, istiqamah dalam ketaatan kepada Rabbnya, tentu dengan izin-Nya. Apabila rahmah ini tidak ada, maka akan terjadi di dalamnya penuh dengan celaka di hati orang tua, perpecahan, kesulitan, dan kekerasan.

لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ. (رواه أبو داود).

Rahmat Allah tidak akan dicabut kecuali dari orang yang celaka.” (Hadits Riwayat Abu Dawud)

Ini adalah isyarat atau petunjuk bahwa apabila rahmah sudah tidak ada maka akan terjadi celaka. Karena apa? Tidak mungkin orang tua dalam mendidik anak menjaganya tanpa kasih sayang, kelemahlembutan, dan ihsan kepada anak. Ini adalah pokok atau dasar bagi orang tua.

 

Mencium Anak Sebagai Tanda Sayang

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ. (رواه البخاري)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, “Seorang Arab Badui datang kepada Nabi seraya berkata, ‘Kalian menciumi anak-anak kalian, padahal kami tidak pernah menciumi anak-anak kami.’ Nabi pun bersabda, “Apakah aku memiliki apa yang telah Allah hilangkan dari hatimu berupa sikap kasih sayang?” (Hadits Riwayat Bukhari)

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ الْأَقْرَعُ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ. (رواه البخاري)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah pernah mencium Al-Hasan bin Ali sedangkan disamping beliau ada Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk, lalu Aqra’ berkata, “Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium mereka sekali pun.”, maka Rasulullah memandangnya dan bersabda, “Barangsiapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Mencium anak itu adalah suatu wasilah untuk anak agar menjadi nurut, termasuk digendong, dinaungi, dirayu dengan sayang. Semua ini adalah bentuk ungkapan rahmah/kasih sayang yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan di hati orang tua.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ. (رواه البخاري).

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bersama Rasulullah mendatangi Abu Saif Al-Qaiyn yang (istrinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim  (putra Nabi  dengan Mariah). Rasulullah mengambil Ibrahim dan menciumnya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

عَنْ بَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَى عَاتِقِهِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ. (رواه البخاري).

Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah melihat Nabi saat Al-Hasan bin ‘Ali digendomg di bahu beliau sambil bersabda, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya maka itu cintailah dia.” (Hadits Riwayat Bukhari)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيُدَّخَنُ وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ ثُمَّ يَرْجِعُ قَالَ عَمْرٌو فَلَمَّا تُوُفِّيَ إِبْرَاهِيمُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ ابْنِي وَإِنَّهُ مَاتَ فِي الثَّدْيِ وَإِنَّ لَهُ لَظِئْرَيْنِ تُكَمِّلَانِ رَضَاعَهُ فِي الْجَنَّةِ. (رواه مسلم).

Anas bin Malik berkata, “Tidak pernah kulihat orang yang lebih penyayang terhadap keluarganya melebihi Rasulullah . Anas berkata, Ibrahim (anak beliau) disusukan pada suatu keluarga di sebuah kampung di perbukitan Madinah. Pada suatu hari beliau pergi menengoknya, dan kami ikut bersama beliau. Beliau masuk ke rumah yang kala itu penuh dengan asap, karena orang tua pengasuh Ibrahim adalah seorang tukang pandai besi. Kemudian Nabi menggendong Ibrahim seraya menciumnya, setelah itu beliau pun pulang. Kata ‘Amru, “Tatkala Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Ibrahim adalah anakku. Dia meninggal dalam usia menyusui. Kedua orang tua pengasuhnya akan menyempurnakan susuannya nanti di surga.” (Hadits Riwayat Muslim)

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنْ الدُّنْيَا. (رواه البخاري).

‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Keduanya (Al Hasan dan Al Husain) adalah aroma wewangianku dari dunia.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Dalam hadits tersebut si Arab badui heran hingga bertanya, engkau mencium anak kecil? Kenapa engkau mencium mereka, dia bertanya karena merasa heran setelah melihat Rasulullah mencium Hasan dan Husain. Selama ini orang Badui ini belum pernah mencium anak kecil dan ini menunjukkan kurangnya peradaban mereka. Sehingga orang Badui menganggapnya kebiasaan yang tidak pada tempatnya.

Sabda Rasulullah

 أو أملك لك أن نزع اللَّه من قلبك الرحمة؟!

“Sungguh aku tidak mampu mencegah jika ternyata Allah telah mencabut sifat kasih sayang dari hatimu.”

Yang dimaksud kami tidak mampu untuk mencegahnya sehingga sifat rahmah tidak akan lepas dari kami. Jadi dalam urusan ini tergantung Allah subhanahu wa ta’ala, kalau Allah subhanahu wa ta’ala telah mencabutnya, ya kami tidak bisa berbuat apa-apa.

Ini adalah penjelasan yang tidak menyenangkan, baik untuk Badui itu sendiri atau bagi kaumnya yang tidak kasih sayang kepada anak-anak kecil. Ini hubungan antara lahir dengan batin, termasuk antara kasih sayang dan mencium. Tatkala Badui berkata kami tidak pernah mencium anak-anak secara lahir menunjukkan kebiasaan mereka menunjukkan dalam hatinya ada sesuatu atau di dalam hatinya tidak ada rasa kasih sayang kepada anak-anak. Sayang sekali karena celakalah orang yang hatinya sudah tidak ada rasa kasih sayang lagi.

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ. (رواه البخاري).

Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Yang dimaksud batin ialah apabila dalam hatinya ada rasa kasih sayang (mawaddah) dan kelembutan. Pengaruh kebiasaan mencium anak-anaknya seperti cerita Afra’ bin Husain pada waktu melihat Nabi ﷺ mencium Hasan dan Husain. Komentarnya, “Kami punya 10 anak tapi kami belum pernah mencium walau satu pun di antara mereka.” Nabi bersabda,

 مَنْ لَا يَرْحَمْ وَلاَ يُرْحَمْ

“Orang yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi”

Kalau dalam hatinya tidak ada rasa sayang pada anak-anaknya akan di balas jauh juga dari kasih sayang. “Al-Juz’u min jinsil ‘amal”.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Al-Quran Surat Ali-Imran:159)

 إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ. (رواه ابن ماجة).

Kedudukanku bagi kalian adalah seperti seorang bapak kepada anaknya.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah)

Aslinya orang tua terhadap anak harus kasih sayang. Menurut ahli tafsir, hadits-hadits di atas adalah penjelas dari ayat-ayat dan peringatan besarnya kasih sayang dalam mendidik anak. Kalau kasih sayang saja sudah tidak ada maka berarti terindikasi kejam, keras, dan celakalah yang terjadi. Mempunyai kasih sayang kepada anaknya berarti akan mendapat kasih sayang dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bersambung …
Adil Terhadap Anak-Anak Kalian
Menyayangi Anak Kecil, Menghormati Orang Tua

Artikel tersebut merupakan cuplikan dari artikel yang disadur secara bebas oleh:
Al-Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Shofwan, Lc. hafidzhahullah, dari kitab Ahaditsul Akhlaq Bab Rahmatul ‘Iyal (halaman 82-96), karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin al-Abad al-Badr

Editor : @rimoesta

Team Redaksi: Ustadz Abu Abdillah Mubarok, M.Pd., Ustadz Abu Layla Turahmin, M.H.

Baca juga:

JANGAN MENDO’AKAN KEBURUKAN UNTUK ANAK KITA
SUAP HALAL?
INFO LOWONGAN KERJA

 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )