SERI ADAB ISLAM 12 : ADAB-ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT BAG.1

SERI ADAB ISLAM 12 : ADAB-ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT BAG.1

DALIL-DALIL :

Diriwayatkan dari :

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَإِجَابَةِ الدَّاعِي وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ وَرَدِّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ وَنَهَانَا عَنْ آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَالْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ وَالْقَسِّيِّ وَالْإِسْتَبْرَقِ. (رواه البخاري)   

dari Al Bara’ bin ‘Azib radliallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami tentang tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara pula. Beliau memerintahkan kami untuk; mengiringi jenazah, menjenguk orang yang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang dizhalimi, berbuat adil dalam pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin. Dan Beliau melarang kami dari menggunakan bejana terbuat dari perak, memakai cincin emas, memakai kain sutera kasar, sutera halus, baju berbordir sutera dan sutera tebal”. (HR.Al-Bukhari (no.1163), Muslim (no.2066), Ahmad (no.18034), at-Tirmidzi (no.2809),dan an-Nasa’i (no.1939), dan perkara ke tujuh yang dilarang adalah : al-Muyatsir. Al-Bukhari memang tidak menyebutkan di dalam hadits ini, namun Muslim menyebutkan lafazh tersebut)).

Di Antara Adab-Adab Ketika Menjenguk Orang Sakit

1. Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Atsar-atsar yang menyebutkan keutamaannya sangatlah banyak, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan :

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ. (رواه مسلم)

dari Tsauban -budak- dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit, maka dia senantiasa berada dalam sebuah taman surga sampai dia pulang kembali.” (HR.Muslim (no.4658), Ahmad (no.21868), dan at-Tirmidzi (no.967)).

{Al-Baghawi berkata dalam syarahnya : Sabda Nabi : (Di makhariful jannah) (dan خُرْفَةِ الْجَنَّةِ), dan kata ini adalah bentuk jamak dari mikraf. Al-Asma’i  berkata : Ia adalah kebun kurma, dinamakan demikian karena terjadi musim rontok, yaitu menutupi …. Ibnul Anbari berkata : Yang dimaksud adalah memetik buah-buahan kebun. Di antara penggunaannya dalam kalimat adalah pohon kurma merontokkan kurma-kurmanya. Maka Nabi memisalkan pahala yang diperoleh orang yang mengunjungi orang sakit dengan apa yang pohon kurma hasilkan berupa buahnya. (Syarhus Sunnah (V/216))}.

عَنْ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَادَ مَرِيضًا خَاضَ فِي الرَّحْمَةِ فَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ اسْتَنْقَعَ فِيهَا…. (رواه أحمد)   

dari Ka’ab bin Malik berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit berarti dia menyelami rahmat, dan jika dia duduk di sisinya, berarti dia tergenang didalamnya….. ((HR.Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.522), dan hadits ini termasuk diantara balaghah Imam Malik (bab ‘Iyaadatul Maridh wat Thiyaarah (Mengunjungi orang sakit dan orang yang terkena musibah)). Ibnul ‘Abdil Barr berkata tentang hadits ini : Ini adalah hadits Madani yang shahih. (At-Tamhid (XXIV/273). Dan Syaikh al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih al-Adabil Mufrad).

Dan dalam lafazh lain disebutkan : Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit niscaya ia akan memperoleh rahmat. Apabila ia duduk disampingnya, maka ia tetap berada di dalam rahmat, dan apabila dia keluar dari orang yang sakit maka ia terus diliputi rahmat hingga ia kembali ke rumahnya. (HR.Ibnu ‘Abdil Barr dengan sandanya yang sampai kepada Jabir bin Abdillah. (At-Tamhid (XXIV/273))).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ…. (رواه مسلم)

dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Hai anak Adam! Aku sakit, mengapa kamu tidak menjenguk-Ku?” Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Tuhan semesta alam?” Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu kunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?”…. (HR.Muslim (no.4661), dan lafazh hadits ini miliknya, dan Ahmad (no.8989)).

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَتَى أَخَاهُ الْمُسْلِمَ عَائِدًا مَشَى فِي خَرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ. (رواه ابن ماجة)   

dari Ali ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengunjungi saudaranya sesama muslim maka seakan ia berjalan di bawah pepohonan surga hingga ia duduk, jika telah duduk maka rahmat akan melingkupinya. Jika mengunjunginya di waktu pagi, maka tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan jika ia mengunjunginya di waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat akan bershalawat kepadanya hingga pagi hari. ” (HR. Ahmad (no.756), Abu Dawud (no.3098), Ibnu Majah (no.1432) dan lafazh hadits ini menurut riwayatnya, dan Syaikh al-Albani berkata : Shahih, (no.1191)).

2. Mengunjungi Anak Kecil Yang Sakit

Diriwayatkan :

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ ابْنَةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَعْدٌ وَأُبَيٌّ نَحْسِبُ أَنَّ ابْنَتِي قَدْ حُضِرَتْ فَاشْهَدْنَا فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا السَّلَامَ وَيَقُولُ إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ مُسَمًّى فَلْتَحْتَسِبْ وَلْتَصْبِرْ فَأَرْسَلَتْ تُقْسِمُ عَلَيْهِ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُمْنَا فَرُفِعَ الصَّبِيُّ فِي حَجْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَفْسُهُ جُئِّثُ فَفَاضَتْ عَيْنَا النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ مَا هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ وَضَعَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ إِلَّا الرُّحَمَاءَ. (رواه البخاري)   

dari Usamah bin Zaid radliallahu ‘anhuma, seorang puteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim seorang utusan kepada Nabi yang ketika itu Usamah, Sa’d dan Ubbay, bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, (seingatku) utusan itu menyampaikan pesan yang isinya; “Anakku telah menjelang wafat, maka tolong engkau (nabi) datang! Namun Nabi (tak sempat datang) dan hanya mengutusnya seraya menyampaikan pesan; “Tolong sampaikan salam kepadanya dan katakanlah; “Milik Allah lah segala yang diambil-Nya dan segala yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu mempunyai batasan waktu tertentu disisi-Nya, maka hendaklah dia hanya mengharap ganjaran dan bersabar.” (Merasa tidak puas), puteri nabi mengirim utusan untuk kedua kalinya sambil menyumpahinya (agar bisa membujuk nabi). Spontan nabi beranjak, dan kami pun berdiri. (ketika sampai), cucu nabi diletakkan di pangkuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang nafasnya sudah tersengal-sengal karena tinggal sisa-sisa nyawanya. Kedua mata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berlinang, sehingga Sa’d bertanya; “Kenapa anda menangis ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ini adalah pertanda kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba sesuai yang di kehendaki-Nya, dan Allah tidak akan meletakkan rasa kasih sayang pada para hamba-Nya kecuali terhadap orang-orang yang mempunyai rasa kasih sayang.” (HR.Al-Bukhari (no.5223), Muslim (no.923), dan Ahmad (no.21269), an-Nasa’i (no.1868), dan Abu Dawud (no.3125)).

3. Kunjungan Wanita Kepada Laki-Laki Yang Sakit

Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan :

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ اشْتَكَى أَصْحَابُهُ وَاشْتَكَى أَبُو بَكْرٍ وَعَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ وَبِلَالٌ فَاسْتَأْذَنَتْ عَائِشَةُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عِيَادَتِهِمْ فَأَذِنَ لَهَا فَقَالَتْ لِأَبِي بَكْرٍ كَيْفَ تَجِدُكَ…. (رواه أحمد)   

dari Urwah dari Aisyah berkata; “Ketika Nabi Shallallahu’alaihiwasallam datang ke Madinah, para sahabatnya merasa sakit, begitu juga dengan Abu Bakar dan Amir bin Fuhairah, budak Abu Bakar, serta Bilal. Lalu Aisyah minta izin kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam untuk menjenguk mereka. Beliaupun mengizinkannya. Kemudian dia berkata kepada Abu Bakar; ‘Bagaimana denganmu.’….. (Diriwayatkan oleh Ahmad (no.23224) dan Malik (no.1648)).

Dan diriwayatkan :

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ مِسْكِينَةً مَرِضَتْ فَأُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَرَضِهَا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُ الْمَسَاكِينَ وَيَسْأَلُ عَنْهُمْ… (رواه مالك)   

dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif bahwa dia mengabarkan, bahwa ada seorang perempuan miskin sakit. Hal itu lalu dikabarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menjenguk orang-orang miskin dan bertanya tentang keadaan mereka….. (HR.Malik dalam al-Muwaththa’ (no.477), Ibnul Abdil Barr berkata : Tidak ada perselisihan atas Malik dalam kitab al-Muwaththa’ tentang mursalnya hadits ini…. Dan hadits ini diriwayatkan dengan sanad yang bersambung dan shahih selain hadits Malik. (At-Tamhid (VI/254)).

Ibnu ‘Abdil Barr berkata : Hadits ini menunjukkan bolehnya wanita menengok laki-laki yang sakit walaupun laki-laki tersebut bukan mahramnya, dan hendaklah (menurutku) wanita iru mutajallah. Jika bukan mutajallah maka tidak boleh, kecuali ia hanya sekedar bertanya kepadanya dan tidak melihatnya. (At-Tamhid (VI/255)).

Mutajallah : { Dalam al-Lisan,… kata tajaallat artinya asnat dan kaburat (telah dewasa). Dan disebutkan dalam hadits Ummu Shabiyyah : Dahulu kami di dalam masjid adalah wanita-wanita yang tajaalalna : yaitu telah dewasa. Dan dikatakan : Jallat fa hiya jaliilah, (wanita itu besar, maka ia adalah jaliilah) dan Tajallat fa hiya mutajallah, (wanita itu telah dewasa, maka ia adalah mutajaallah). (XI/116), topik : جلل}.

4. mengunjungi orang sakit yang sedang pingsan

Diriwayatkan :

عَنْ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ مَرِضْتُ مَرَضًا فَأَتَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُنِي وَأَبُو بَكْرٍ وَهُمَا مَاشِيَانِ فَوَجَدَانِي أُغْمِيَ عَلَيَّ فَتَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ صَبَّ وَضُوءَهُ عَلَيَّ فَأَفَقْتُ فَإِذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَصْنَعُ فِي مَالِي كَيْفَ أَقْضِي فِي مَالِي فَلَمْ يُجِبْنِي بِشَيْءٍ حَتَّى نَزَلَتْ آيَةُ الْمِيرَاثِ. (رواه البخاري)   

dari Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhuma berkata; Aku pernah menderita sakit, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar datang menjengukku dengan berjalan kaki, ketika beliau menemuiku ternyata aku sedang pingsan, maka beliau berwudlu’ dan memercikkan sisa air wudlu’nya kepadaku, aku pun tersadar, ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah berada di depanku, lalu aku berkata; “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya aku mengurus harta bendaku, bagaimana caranya aku memutuskan terhadap harta bendaku?” beliau tetap tidak menjawab sampai turun ayat tentang harta warisan.” (HR.Al-Bukhari (no.5219), Muslim (no.1616), dan Ahmad (no.13886), at-Tirmidzi (no.2098), an-Nasa’i (no.138), Abu Dawud (no.2886), Ibnu Majah (no.2728) dan ad-Darimi (no.733)).

Ibnu Hajar berkata : Sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya tidak kemudian menjadikan pensyari’atan menjenguknya terhenti, karena di balik itu ia dapat membalut kekhawatiran keluarganya, dan mengharapkan berkah do’a dari orang yang menjenguknya, meletakkan tangannya di atas orang yang sakit, mengusap badannya, meniupkan bacaan kepadanya ketika memohonkan perlindungan dan selainnya. (Fat-hul Bari (X/119). Dan Ibnul Munir berkata : Dalam hadits Jabir tidak ada keterangan yang sharih (jelas) bahwa keduanya telah mengetahui Jabir pingsan sebelum dijenguk, maka bisa saja pingsannya Jabir bertepatan dengan kehadiran keduanya. (Namun Ibnu Hajar membantahnya dan mengatakan) : Saya Katakan : Bahkan yang nampak dari nash yang ada bahwa ia pingsan ketika keduanya datang dan sebelum masuk kepadanya. Dan sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya… dan seterusnya. (X/118-119).

5. Menjenguk Orang Musyrik Yang Sakit

Diriwayatkan :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَسْلِمْ فَأَسْلَمَ. (رواه البخاري)   

dari Anas radliallahu ‘anhu berkata,: “Ada seorang anak kecil Yahudi yang bekerja membantu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menderita sakit. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjenguknya dan Beliau duduk di sisi kepalanya lalu bersabda: “Masuklah Islam”. Maka anak kecil itu pun masuk Islam. (HR.Al-Bukhari (no.1268), Ahmad (no.12381), dan Abu Dawud (no.3095)).

عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ أَبَا طَالِبٍ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ. (رواه البخاري)   

dari Ibnu Al Musayyab dari bapaknya bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Thalib, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuinya sementara di sampingnya ada Abu Jahal. Beliau berkata: “Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallah. Suatu kalimat yang akan aku pergunakan untuk menyelamatkan engkau di sisi Allah”. (HR.Al-Bukhari (no.3595), Muslim (no.24), Ahmad (no.23162), dan an-Nasa’i  (no.2035)).

6. Waktu Menjenguk Orang Sakit

Al-Marwadzi berkata : Aku bersama Abu ‘Abdillah pernah menjenguk orang sakit pada malam hari di bulan Ramadhan, kemudian ia berkata kepadaku : Di bulan Ramadhan, menjenguk orang sakit dilakukan pada malam hari. (al-Adabusy Syar’iyyah (II/190).

Demikian pula di waktu (setelah) Zhuhur. Menurut kebiasaan, orang-orang akan tidur sioang dan mereka diam untuk beristirahat. Al-Atsram mengatakan : Dikatakan kepada Abu ‘Abdillah : Seseorang menderita sakit dan ketika itu matahari sedang naik di musim panas, maka ia berkata : Ini bukanlah waktu untuk menjenguk. (Al-Adabusy Syar’iyyah (II/189). Akan tetapi jika kebiasaan orang-orang sekitar adalah berziarah di waktu Zhuhur maka hal itu tidak dimakruhkan).

7. Meringankan Orang Sakit Ketika Dikunjungi

Nabi menjenguk Sa’d bin Mu’adz ketika ia terkena musibah di hari peperangan Khandaq. Nabi memerintahkan untuk membuat kemah di dalam masjid untuk Sa’d agar beliau bisa menjenguknya dari dekat.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أُصِيبَ سَعْدٌ يَوْمَ الْخَنْدَقِ فِي الْأَكْحَلِ فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْمَةً فِي الْمَسْجِدِ لِيَعُودَهُ مِنْ قَرِيبٍ فَلَمْ يَرُعْهُمْ وَفِي الْمَسْجِدِ خَيْمَةٌ مِنْ بَنِي غِفَارٍ إِلَّا الدَّمُ يَسِيلُ إِلَيْهِمْ فَقَالُوا يَا أَهْلَ الْخَيْمَةِ مَا هَذَا الَّذِي يَأْتِينَا مِنْ قِبَلِكُمْ فَإِذَا سَعْدٌ يَغْذُو جُرْحُهُ دَمًا فَمَاتَ فِيهَا. (رواه البخاري)   

dari ‘Aisyah berkata, “Pada hari peperangan Khandaq, Sa’d terluka pada bagian lengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mendirikan tenda untuk menjenguk Sa’d dari dekat, sementara di Masjid banyak juga tenda milik bani ghifar. Kemudian banyak darah yang mengalir ke arah mereka (orang-orang bani Ghifar), maka mereka pun berkata, ‘Wahai penghuni tenda! Cairan apa yang mengenai kami ini? Ia muncul dari arah kalian? ‘ Dan ternyata cairan itu ada darah Sa’d yang keluar sehingga ia pun meninggal.” (HR.Al-Bukhari (no.443)).

Maka shahabat mana yang tidak menyukai keberadaan Nabi di sisinya dan beliau menziarahinya berulang-ulang?!

Akan tetapi kalau dengan menjenguknya berulang-ulang tidak dikehendaki orang yang sakit maka jenguklah secukupnya.

8. Di Manakah Posisi Orang Yang Menjenguk Duduk??

Disunnahkan bagi penjenguk untuk duduk disamping kepala orang yang sakit. Hal inilah yang Nabi lakukan dan juga orang-orang shalih setelah beliau. Disebutkan dalam hadits Anas :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَسْلِمْ فَأَسْلَمَ. (رواه البخاري)   

dari Anas radliallahu ‘anhu berkata,: “Ada seorang anak kecil Yahudi yang bekerja membantu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menderita sakit. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjenguknya dan Beliau duduk di sisi kepalanya lalu bersabda: “Masuklah Islam”. Maka anak kecil itu pun masuk Islam. (HR.Al-Bukhari (no.1268), Ahmad (no.12381), dan Abu Dawud (no.3095)).

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Apabila Nabi menjenguk orang sakit, beliau duduk di sisi kepalanya…. (Al-Hadits) (HR.Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.536) dan Syaikh al-Albani menshahihkannya (no.416)).

Dan dari ar-Rabi’ bin ‘Abdillah, ia berkata : Aku dan al-Hasan pernah menjumpai Qatadah untuk menziarahinya. Maka al-Hasan duduk di sisi kepalanya. Lalu ia bertanya kepadanya dan mendo’akan kesembuhan untuknya… (HR.Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.537) dan Syaikh al-Albani berkata : sanad-sanadnya shahih, (no.417)).

Duduknya penjenguk di samping kepala orang yang sakit mengandung beberapa faidah, di antaranya :

  1. Hadits tersebut menganjurkan bersikap ramah kepada orang yang sakit.
  2. Orang yang menjenguk memungkinkan untuk meletakkan tangannya ke tubuh orang yang sakit, mendo’akan kesembuhan baginya dan meniupkan ruqyah syar’iyyah kepadanya, dan semisalnya.
  3. Bertanya Kepada Orang Yang Sakit Tentang Keadaannya Dan Memberinya Semangat

Di antara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah bertanya kepada orang yang sakit tentang keadaannya dan apa yang menimpanya, sebagaimana yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وُعِكَ أَبُو بَكْرٍ وَبِلَالٌ قَالَتْ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِمَا فَقُلْتُ يَا أَبَتِ كَيْفَ تَجِدُكَ وَيَا بِلَالُ كَيْفَ تَجِدُكَ… (رواه البخاري)   

dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa dia berkata; “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, Abu Bakr dan Bilal menderita sakit demam. Aisyah melanjutkan; “Lalu aku menemui keduanya. Aku katakan; “Wahai ayahku bagaimana keadaanmu? ‘ Dan, wahai Bilal, bagaimana pula keadaanmu?.”…. (HR.Al-Bukhari (no.3633), dan beliau memberinya bab kunjungan wanita kepada laki-laki yang sakit, dan Ummu Darda’ mengunjungi seorang laki-laki yang sakit dari kalangan shahabat yang tinggal di masjid dari kalangan Anshar. Dan Muslim pun meriwayatkan hadits ini (no.1376) tanpa menyebutkan kunjungan ‘Aisyah kepada keduanya (Abu Bakar dan Bilal)).

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ فَمَسِسْتُهُ بِيَدِي فَقُلْتُ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قَالَ أَجَلْ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ قَالَ لَكَ أَجْرَانِ قَالَ نَعَمْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا. (رواه البخاري)   

dari Ibnu Mas’ud radliallahu ‘anhu mengatakan; “Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang menderita demam yang sangat berat, lantas kupegang dengan tanganku. Aku berujar; ‘Sepertinya engkau terkena sakit dan demam yang sedemikian serius’. Beliau menjawab: “Benar, rasa sakit yang menimpaku ini sama seperti rasa sakit yang menimpa dua orang dari kalian.” Aku berujar; “Oh, kalau begitu anda mendapatkan pahala dua kali lipat?! Jawab beliau: ‘Engkau benar, tidaklah seorang muslim terkena gangguan, baik itu sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karena sakitnya sebagaimana pohon mengugurkan daunnya.” (HR.Al-Bukhari (no.5235), Muslim (no.2571), Ahmad (no.3611), dan ad-Darimi (no.2771)).

Bersambung ke poin no.10-13.

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )