SERI ADAB ISLAM 15 : ADAB-ADAB DI JALAN

SERI ADAB ISLAM 15 : ADAB-ADAB DI JALAN

DALIL-DALIL :

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن ا.ا.ا

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,…. (An-Nuur  : 30-31).

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ. (رواه البخاري)

dari Abu Sa’id AL Khudriy radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian duduk duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya: “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda: “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya: “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahiy munkar”. (HR.Al-Bukhari (no.2285)).

Diantara Adab-Adab Ketika Berada Dijalan

1. Wajibnya Menunaikan Hak-Hak Jalan

a. Menundukkan Pandangan

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي. (رواه مسلم)

dari Jarir bin Abdullah dia berkata; “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai penglihatan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan penglihatanku.” (HR. Muslim (no.4018), Ahmad (no.17679), at-Tirmidzi (no.2776), Abu Dawud (no.2148), dan ad-Darimi (no.2643)).

Makna memandang secara tiba-tiba adalah memandang seorang wanita asing tanpa sengaja, tidak ada dosa atasnya. Dan apabila seorang laki-laki berlama-lama ketika memandangnya maka ia berdosa berdasarkan hadis ini. Demikian yang dikatakan oleh imam An-Nawawi. (Syarh Muslim (jiid VII (XIV/115)).

b. Menahan Gangguan

Diantara hak-hak jalan adalah menahan gangguan dan tidak menyakiti fisik orang-orang atau kehormatan mereka. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ… (رواه البخاري)

dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya,… (HR.Al-Bukhari (no.10), Muslim (no.40), Ahmad (no.6714), an-Nasa’i (no.4996), Abu Dawud (no.2481), dan ad-Darimi (no.2716)).

Dalam hadis Abu-Dzar terdapat keterangan yang sangat jelas tentang hal ini, ia berkata:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِهِ قُلْتُ فَأَيُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ قَالَ أَعْلَاهَا ثَمَنًا وَأَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ قَالَ تُعِينُ ضَايِعًا أَوْ تَصْنَعُ لِأَخْرَقَ قَالَ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ قَالَ تَدَعُ النَّاسَ مِنْ الشَّرِّ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ تَصَدَّقُ بِهَا عَلَى نَفْسِكَ. (رواه البخاري)

dari Abu Dzar radliallahu ‘anhu berkata; Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, amal apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya”. Kemudian aku bertanya lagi: “Pembebasan budak manakah yang paling utama?”. Beliau menjawab: “Yang paling tinggi harganya dan yang paling berharga hati tuannya”. Aku katakan: “Bagaimana kalau aku tidak dapat mengerjakannya?”. Beliau berkata: “Kamu membantu orang yang telantar atau orang bodoh yang tak mempunyai ketrampilan “. Aku katakan lagi:: “Bagaimana kalau aku tidak dapat mengerjakannya?”. Beliau berkata: “Kamu hindari manusia dari keburukan karena yang demikian berarti shadaqah yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri”.

Dalam riwayat muslim disebutkan :

تَكُفُّ شَرَّكَ عَنْ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ. (رواه مسلم)

“Kamu hendaklah menghentikan kejahatanmu terhadap orang lain karena hal itu merupakan sedekah darimu kepada dirimu.” (HR.Al-Bukhari (no.2334), Muslim (no.119), Ahmad (no.20824)).

c. Menjawab Salam

Diantara hak-hak jalan adalah menjawab salam, dan perkara ini wajib berdasarkan sabda Nabi ﷺ :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيهِ رَدُّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ. (رواه مسلم)

dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kewajiban seorang muslim terhadap sesama muslim ada lima: (1) Menjawab salam. (2) Mendoakan yang bersin. (3) Memenuhi undangan. (4) Mengunjungi yang sakit, dan (5) Ikut mengantar jenazah.” (HR.Al-Bukhari (no.1240), Muslim (no.4022), dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau, Ahmad (no.27511), at-Tirmidzi (no.2737), an-Nasa’i (no.1938),  Abu Dawud (no.5030),dan Ibnu Majah (no.1435)).

Kebanyakan orang meremehkan kewajiban ini mencukupkan salam hanya kepada orang yang dikenalkannya saja. Siapa yang dia kenal maka dia menyalaminya atau membalas salamnya, dan orang yang dia tidak kenal maka dia tidak akan memberikan perhatian kepadanya, ini adalah kekurangan (aib) dan menyelisihi sunnah. (masalah ini telah dibahas dalam adan-adab salam, silahkan lihat kembali)

d. Wajibnya Amar Ma’ruf Dan Nahi Mungkar

Kedudukan dan kadar bab ini ssangat besar. Dengan tegaknya perkara ini umat ini akan menjadi umat terbaik :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ ا.ا.ا.ا….

……Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.,…. (Ali Imran: 110).

Ibnu Katsir berkata : Umar bin Khattab berkata : Barang siapa yang senang menjadi bagian dari umat ini hendaklah ia menunaikan syarat Allah Alah kepada umat tersebut. (diriwayatkan oleh Ibnu Jarir). Dan barang siapa yang tidak disifatkan dengannya maka seperti Ahlul kitab yang Allah mencela mereka dengan firman-Nya :

كَانُواْ لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوه ااااا

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat..,…. (Al- Maidah: 79).  (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (I/387), Darul Kutub al-‘Ilmiyyah)).

Dan dengan sebab meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar maka siksaan akan ditimpakan kepada mereka. Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam Musnadnya, ia berkata : Abu Bakar berdiri dan bertahmid kepada Allah dan memuji-Nya, lalu berkata : wahai manusia sesungguhnya kalian telah membaca ayat ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ…

…Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk [453]. (Al- Maidah: 105).

[453] Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, asal kamu telah mendapat petunjuk. Tapi ini tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Dan sesungguhnya kalian meletakkan ayat ini tidak pada tempatnya. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :

وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ وَلَا يُغَيِّرُوهُ أَوْشَكَ اللَّهُ أَنْ يَعُمَّهُمْ بِعِقَابِهِ. (رواه أحمد)

Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran dan ia tidak merubahnya, hampir-hampir Allah menimpakan hukuman kepada semuanya. (Muhaqqiq kitab al-Musnad juz I (Syu’aib al-Arna’uth, ‘Adil Mursyid) mengatakan : Sanad-sanadnya shahih berdasarkan syarat Syaikhain (I/198). Dan diriwayatkan oleh Ahmad (no.16), Abu Dawud (no.4338) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, serta diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no.2168) dan Ibnu Majah (no.4005)).

فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ. (رواه مسلم)

Kemudian Abu Said berkata, “Sungguh, orang ini telah memutuskan (melakukan) sebagaimana yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR.Muslim (no.49), Ahmad (no.10689), at-Tirmidzi (no.2172), an-Nasa’i (no.5008), Abu Dawud (no.1140), dan Ibnu Majah (no.1275)).

Akan tetapi dalam melaksanakan hal ini hendaklah memperhatikan beberapa perkara berikut ini :

Pertama : Bertahap dalam mengingkari. Janganlah seseorang berpindah kepada satu tingkatan hingga ia tidak mampu melakukan tingkatan sebelumnya maka, janganlah ia mengingkari kemingkaran dengan hatinya padahal ia mampu mengingkarinya dengan lisannya, dan demikian seterusnya.

Kedua : Barangsiapa yang memiliki kekuasaan maka ia harus mengingkarinya dengan pengingkaran yang paling tinggi. Maka penguasa suatu keluarga, dialah pemimpin yang ditaati di dalam rumah. Maka dia harus merubah kemungkaran dengan tangannya dan jelas dia sangat mampu menghilangkan kemungkaran dengan tangannya, tidak ada udzur akan hal tersebut.

Ketiga : mengetahui kemungkaran bahwa perbuatan tersebut betul-betul perbuatan mungkar sebelum ia mengingkarinya, apakah perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang diperselisihkan, dan banyak kelompok manusia yang keliru dalam hal yang satu ini, maka berhati-hatilah.

Keempat : orang yang mengingkari kemungkaran hendaklah memperhatikan kaidah mafsadah dan maslahat agar ia tidak segera mengingkari kecuali setelah mengetahui bahwa maslahat itu lebih kuat dibanding mafsadah. Maka disaat seseorang mengetahui kuatnya mafsadah, maka ia wajib menahan agar jangan sampai ia membuka pintu kejelekan dan kerusakan.

Kelima : Apabila orang yang mengingkari tidak mampu melalui tahapan pertama dan kedua, maka jangan sampai hatinya lalai, hendaklah ia melewati kemungkaran tanpa dengan mengingkari di dalam hatinya dan menampakkan pengaruh kemungkaran tersebut dari raut wajahnya.

e. Menunjukkan Jalan Kepada Orang Yang Menanyakannya

Kewajiban ini dijelaskan dalam hadis :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ في قصة الذين سألوا النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عن حق الطريق قال : وَإِرْشَادُ السَّبِيلِ. (رواه أبوا داود)

dari Abu Hurairah tentang kisah orang-orang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hak ketika berada di jalan, beliau berkata : Dan menunjukkan jalan kepada orang yang bertanya tentangnya. (HR. Abu Dawud (no.4181), Syaikh al-Albani berkata : Hasan Shahih, (no.4031).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ما يبين أن هداية السبيل من الصدقات قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَدَلُّ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ. (رواه البخاري)

dari Abu Hurairah dijelaskan bahwa menunjukkan jalan termasuk shadaqah, ia berkata :  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dan menunjukkan jalan adalah shadaqah “. (HR.Al-Bukhari (no.2677).

2. Menghilangkan (Membuang) Sesuatu Yang Mengganggu Di Jalan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ. (رواه مسلم)

dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.” (HR.Al-Bukhari dari Abu Hurairah (no.9) tanpa menyebutkan : Imathah, Muslim (no.35), dan lafazh hadits diatas menurut riwayat beliau, Ahmad (no.8707,2614), an-Nasa’i (no.5005),   Abu Dawud (no.4676),dan Ibnu Majah (no.57)).

Dan perbuatan ini termasuk shodaqoh, dengan sebab perbuatan ini pula seseorang dimasukkan ke dalam syurga.

Disebutkan dalam hadits :

حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ قَالَ تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ قَالَ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ. (رواه مسلم)

telah diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. ia pun menyebutkan beberapa hadits, di antaranya adalah; Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anggota tubuh manusia memiliki keharusan sedekah pada setiap harinya. Yaitu seperti mendamaikan dua orang yang berselisih, adalah sedekah. Menolong orang yang naik kendaraan, atau menolong mengangkatkan barangnya ke atas kendaraan, itu pun termasuk sedekah. Ucapan atau tutur kata yang baik, juga sedekah. Setiap langkah yang Anda ayunkan untuk menunaikan shalat, juga sedekah. Dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalanan umum, adalah sedekah.” (HR.Al-Bukhari (no.2989), Muslim (no.1677), dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau, dan Ahmad (no.27400)).

Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan, Rasulullah ﷺ bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ نَزَعَ رَجُلٌ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ غُصْنَ شَوْكٍ عَنْ الطَّرِيقِ إِمَّا كَانَ فِي شَجَرَةٍ فَقَطَعَهُ وَأَلْقَاهُ وَإِمَّا كَانَ مَوْضُوعًا فَأَمَاطَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ بِهَا فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ. (رواه أبوا داود)

dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang laki-laki lelaki yang mengambil dahan yang berduri di jalan -meskipun ia belum pernah beramal shalih sekaligus-, baik dahan tersebut berada di atas pohon lalu ia memotong dan membuangnya, atau dahan berduri tersebut ada di jalan lalu ia menyingkirkannya. Sehingga Allah berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga.” (HR.Al-Bukhari (no.654), Muslim (no.1914), dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau, Ahmad (no.7979), at-Tirmidzi (no.1958), Abu Dawud (no.4565), Ibnu Majah (no.3682), dan Malik (no.295)).

3. Haramnya Buang Hajat Di Jalan Yang Dilalui Manusia Atau Ditempat Mereka Berteduh

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ. (رواه مسلم)

dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah kalian dari La’anaini.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa La’anini itu?” Beliau menjawab: “Orang yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat berteduhnya mereka.” (HR. Muslim (no.397), Ahmad (no.8636), dan Abu Dawud (no.25)).

Makna sabda Nabi ﷺ : “jauhilah dari kalian la’anaini “, yaitu jauhilah dua perkara yang mendatangkan laknat dan cacian dari mereka, karena siapa saja yang buang hajat di tempat berjalannya manusia dan tempat mereka berteduh, hampir dia tidak selamat dari celaaan dan cacian mereka. (sebagian pembahasan tentang masalah ini telah di jabarkan dalam bab Adab Buang Hajat).

4. Laki-Laki Lebih Berhak Berada Ditengah Jalan Dibanding Wanita

عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ. (رواه أبوا داود)

dari Abu Usaid Al Anshari dari Bapaknya Bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara saat berada di luar masjid, sehingga banyak laki-laki dan perempuan bercampur baur di jalan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada kaum wanita: “Hendaklah kalian memperlambat dalam berjalan (terakhir), sebab kalian tidak berhak untuk memenuhi jalan. Hendaklah kalian berjalan di pinggiran jalan.” Sehingga ada seorang wanita yang berjalan dengan menempel tembok, hingga bajunya menggantung tembok karena ia mendempel tembok.” (HRAbu Dawud (no.4588)).

{Dalam an-Nihayah, (an tahqaqna) yaitu mengendarai haknya, yaitu di tengahnya. Hal ini disebutkan juga dalam ‘Aunul Ma’bud jilid VII (XIV/128)}.

5. Membantu Seseorang Menaiki Kendaraannya Atau Membantu Mengangkatkan Barang Ke Atas Kendaraannya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ سُلَامَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ يُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ يُحَامِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ… (رواه البخاري)

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada setiap ruas tulang ada kewajiban shadaqah. Setiap hari dimana seseorang terbantu dengan tunggangannya yang mengangkat atau mengangkut barang-barangnya di atasnya adalah shadaqah…..

Dan dalam lafadz muslim disebutkan :

فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا. (رواه مسلم)

Dan engkau menaikkannya ke atas kendaraannya.  (HR.Al-Bukhari (no.2677), Muslim (no.1677), Ahmad (no.27400)).

SELESAI….

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )