SIFAT SEORANG MUKMIN BUKAN PENCELA BUKAN PELAKNAT

SIFAT SEORANG MUKMIN BUKAN PENCELA BUKAN PELAKNAT

Seorang mukmin adalah orang yang khas; spesial dan istimewa. Dengan begitu karakter dan sifatnya juga khas. Akhlaknya pun akhlak yang luar biasa. Seorang mukmin akan berupaya kuat untuk berakhlak yang sempurna dan menjauhi akhlak yang tercela.

Termasuk yang tercela ialah orang yang mempunyai sifat suka mencela dan melaknat.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ. (رواه الترمذي)

Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah termasuk hamba yang mukmin, yaitu mereka yang selalu mengungkap aib, gemar melaknat, berperangai buruk, dan suka menyakiti.”

 

Dalam hadits tersebut ada istilah Ath-Tha’an. Apa itu? Ialah yang mengusik atau mengganggu manusia seperti mengghibah, namimah, menghina, dan menjuluki dengan julukan yang buruk.

Sementara Al-La’an adalah orang yang sering melaknat. Laknat bisa berbentuk ungkapan langsung seperti celaka, bangsat, atau neraka kamu, misalnya. Bisa juga laknat dilakukan dengan bentuk lafal yang mengarah kepada celaan, misalnya dengan doa: semoga Allah marah kepadamu atau semoga Allah menghinakanmu di dunia dan akhirat.

Orang yang suka mencela atau melaknat tetap dikatakan sebagai orang mukmin, tapi imannya tidak sempurna. Orang yang sempurna imannya tidaklah berakhlak seperti itu. Jadi orang yang suka mencela dan melaknat berarti imannya sedang berkurang atau lemah.

Seorang mukmin tidaklah layak berakhlak, berperangai buruk, dan berucap yang kotor. Yang dimaksud alfahisy (perangai buruk) itu biasanya dengan perbuatan, yang dimaksud albadzi itu ucapan kotor yang biasanya diucapkan dengan lisan. Orang mukmin harus bersih dari dua sifat di atas karena kedua-duanya buruk dan jelek. Seorang mukmin tidak pantas melakukan keduanya.

Agama Islam dibangun terkait dengan muamalah di antara hamba Allah; saling menasihati dan saling menyayangi. Barangsiapa suka mencela berarti tidak termasuk orang yang menasihati sesama. Barangsiapa yang suka melaknat berarti bukan termasuk orang belas kasihan terhadap sesama. Karena itu barangsiapa yang mempunyai dua sifat cela tersebut, kelak di hari akhir nanti tidak bisa memberi syafaat atau sebagai saksi atas sesama.

 

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ بَعَثَ إِلَى أُمِّ الدَّرْدَاءِ بِأَنْجَادٍ مِنْ عِنْدِهِ فَلَمَّا أَنْ كَانَ ذَاتَ لَيْلَةٍ قَامَ عَبْدُ الْمَلِكِ مِنْ اللَّيْلِ فَدَعَا خَادِمَهُ فَكَأَنَّهُ أَبْطَأَ عَلَيْهِ فَلَعَنَهُ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَتْ لَهُ أُمُّ الدَّرْدَاءِ سَمِعْتُكَ اللَّيْلَةَ لَعَنْتَ خَادِمَكَ حِينَ دَعَوْتَهُ فَقَالَتْ سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه مسلم)

Zaid bin Aslam menceritakan tentang ‘Abdul Malik bin Marwan yang pada suatu ketika mengirimkan perabot rumah miliknya kepada Ummu Darda’. Pada suatu malam Abdul Malik bangun dan memanggil pembantunya. Namun seakan-akan pembantu itu lambat dalam memenuhi panggilannya. Akibatnya Abdul Malik melaknatnya. Pada pagi harinya, Ummu Darda berkata kepadanya, ‘Tadi malam aku mendengar kamu melaknat pembantumu ketika kamu memanggilnya.’ Sungguh aku pernah mendengar Abu Darda` berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya para pelaknat itu tidak akan dapat menjadi syuhada’ (orang-orang yang menjadi saksi) dan tidak pula dapat memberi syafa’at pada hari kiamat kelak.'”

 

Orang di dunia ini yang mempunyai dua sifat tercela tersebut kelak di akhirat tidak akan mendapat hak kesaksian terhadap orang lain dan tidak akan mendapat syafaat di sisi Allah. Dua posisi tersebut mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah, maka tidak akan diberikan kepada orang semacam mereka.

Berkata Ibul Qayyim, “Kesaksian tersebut dalam hal khabar, sementara syafaat dalam hal permintaan. Barangsiapa sering mencaci kepada manusia berarti di akhirat mendapat kesaksian dari manusia bahwa dia itu jelek (jahat). Barangsiapa yang suka melaknat manusia berarti manusia memintakan kejelekan kepada orang tersebut. Orang tersebut di akhirat tidak akan mendapat persaksian yang bagus dan syafaat di sisi Allah dan keduanya adalah hak Allah dan Rasul-Nya yang tidak diberikan kepada orang yang suka mencaci dan melaknat. Jadi syahadah didasarkan atas kejujuran & kebenaran dan syafaat didasarkan atas rahmah & kebaikan.”[1]

Ibnul Qayyim berkata, “Laknat adalah kejelekan, bahkan sangat buruk. Sementara syafaat adalah kebaikan. Kejelekan saat di dunia ini dengan hobi melaknat, maka jadilah orang yang butuh pada syafaat di akhirat. Demikianlah manusia akan memetik apa yang ditanam pada waktu di dunia. Kejelekan mencaci memberikan konsekuensi kehilangan untuk mendapatkan syafaat. Yang suka melaknat tidak akan mendapatkan syahadah. Sementara itu kita yakini bahwa Rasulullah adalah penghulu orang-orang yang bisa memberi syafaat dan pemberi syafaat kepada semua makhluk karena kesempurnaannya dan sifat kasih sayangnya.”[2]

عَن ابْن عَبَّاس رَضِي الله عَنْهُمَا {وَجِيء بالنبيين وَالشُّهَدَاء} ‌قَالَ: ‌النَّبِيُّونَ ‌الرُّسُل {وَالشُّهَدَاء} الَّذين يشْهدُونَ بالبلاغ لَيْسَ فيهم طعان وَلَا لعان

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan tentang firman Allah Ta’ala: “dan didatangkan para nabi dan syuhada” yang dimaksud para nabi dalam ayat ini adalah para rasul. Sementara yang dimaksud dengan syuhada adalah orang orang yang meyakini dakwah risalah para nabi, tidak ada dari kalangan syuhada orang yang suka mencela dan tidak pula orang yang banyak melaknat.

فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“…maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim: 36)

 

Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya mengutip Qatadah Ketika menafsirkan firman Allah yang menyebut tentang doa nabi Ibrahim sang kekasih Allah.

فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Barangsiapa mengikuti dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ibrahim: 36)

 

Imam Ath-Thabari berkata, “Perhatikan perkataan Nabi Ibrahim tersebut. Demi Allah! Mereka bukan orang yang suka melaknat dan mencela. Sesungguhnya sejelek-jelek hamba Allah itu adalah orang yang suka mencela dan melaknat.”[3]

Kalau kita renungkan mengapa Ibrahim pada waktu menyebutkan kemaksiatan kaumnya kok tidak mendoakan mereka agar direndahkan Allah, dilaknat, atau sebangsanya? Itulah wujud kasih sayang Nabi Ibrahim kepada umatnya, meski mereka durhaka tetap saja didoakan untuk mendapatkan ampunan dan rahmat. Inilah level seorang nabi, akhlaknya selalu di atas koridor manhaj nubuwah. Hal ini tersurat dalam doa beliau:

وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“….. dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim: 36)

 

Sikap serupa juga bisa kita saksikan pada teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدِمَ طُفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ وَأَصْحَابُهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا فَقِيلَ هَلَكَتْ دَوْسٌ قَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ. (رواه البخاري)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Thufail bin ‘Amru Ad-Dausi dan para sahabatnya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya suku Daus telah ingkar kepada Allah dan enggan masuk Islam, untuk itu mohonlah kepada Allah agar mereka dibinasakan.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, tunjukilah suku Daus dan berikanlah petunjuk kepada mereka.”

فَظَنَّ النَّاسُ أَنَّهُ يَدْعُو عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ. (رواه البخاري)

Maka orang-orang pun menyangka bahwa beliau akan mendoakan kebinasaan atas mereka, ternyata beliau bersabda, ‘Ya Allah, berilah petunjuk kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka.’

Demikianlah Thufail marah karena Allah. Dia bersama sahabatnya dari suku Daus menghadap Rasulullah tentang keadaan kaumnya yang menolak Islam. Di antara sahabatnya ada yang berharap kecelakaan kaum mereka. Mereka minta agar Rasulullah mendoakan kejelekan dan kecelakaan kepada kaumnya, karena doa Rasul mustajab. Tapi ternyata Rasulullah malah mendoakan agar suku Daus mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan akhirnya banyak dari mereka yang masuk Islam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً. (رواه مسلم)

Abu Hurairah berkata, “Seseorang pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah agar orang-orang musyrik itu celaka!’ Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'”

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya: 107)

 

Wujud sifat rahmah Rasululullah kepada alam semesta adalah mendoakan orang-orang kafir agar Allah beri hidayah bisa masuk Islam:

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

Dia berkata, Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus untuk menjadi rahmat.”

 

Dapat diambil faidah bahwa melaknat bukan sifat seorang mukmin. Setelah kita renungkan bahwa para shahabat Nabi merespon positif atas contoh teladan sikap beliau tersebut. Setelah peristiwa tersebut para shahabat dengan cepat menerapkan apa yang diperintahkan Rasul kepada mereka. Ini sangat mengagumkan.

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ: مَا سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ لاعِنًا أَحَدًا قَطُّ، لَيْسَ إِنْسَانًا.وَكَانَ سَالِمٌ يَقُولُ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا “. (رواه البخاري)

Salim ibnu Abdullah berkata, “Saya tidak pernah mendengar Abddullah melaknat seseorang sama sekali kecuali satu orang.’ Abdullah ibnu Umar pernah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak patut bagi seseorang mukmin untuk menjadi seorang pelaknat (tukang laknat)‘”

 

Perhatikan sikap Ibnu Umar sejak mendengar hadits tersebut. Tidak terdengar lagi laknat kecuali hanya sekali. Ibnu Umar pernah melaknat budaknya saat sedang marah kepadanya, tapi langsung dimerdekakan. Ada juga riwayat lain Ibnu Umar belum sempat melontarkan laknat, baru akan melontarkan beliau tidak sampai sempurna berhenti di huruf NUN. Terus Ibnu Umar berkata, ‘Kalimat ini kamu tidak senang!’ Kemudian budak tersebut dimerdekakannya.

عن الزُهريِّ, عن سالم قال: مَا لَعَنَ ابْنُ عُمَرَ قَطُّ خَادِمًا إِلَّا وَاحِدًا فَأَعْتَقَهُ, وَقَالَ الزُّهْرِيُّ أَرَادَ ابْنُ عُمَرَ أَنْ يَلْعَنَ خَادِمَهُ فَقَالَ اللَّهُمَ الْعَ فَلَمْ يُتِمَّهَا, وَقَالَ: هَذِهِ كَلِمَةٌ مَا أُحِبُّ أَنْ أَقُوْلَهَا, رواه عبد الرزاق في (مصنف)

Salim Ibnu Umar berkata, “Ibnu Umar hanya sekali melaknat budaknya. Itupun langsung dimerdekakannya.’ Zuhri, perawi hadits, menjelaskan bahwa Ibnu Umar sudah hampir-hampir melaknat budaknya dengan ucapan ‘allahummal a…’ tetapi tidak diselesaikan ucapannya itu. Ibnu Umar berkata, ‘Kalimat ini aku tidak suka untuk mengucapkannya.”

 

Salim bin Abdullah bin Ibnu Umar berkata, “Kami tidak pernah mendengar Abdullah ibn Umar melaknat seseorang sama sekali.’ Dalam riwayat lain jalur Ibnu Abid Dunya Salim berkata, ‘Kami tidak pernah mendengar bahwa bapak kami melaknat sama sekali, kecuali sekali saja.”[4]

Ini adalah bentuk pendidikan untuk anak-anak. Anak tidak pernah mendengar dari orangtuanya kalimat laknat kecuali hanya sekali. Itupun tidak terucap dengan sempurna. Bahkan diikuti dengan memerdekakan budak yang hamper dilaknat tersebut.

Berbeda dengan zaman sekarang. Anak mendengar sebagian orangtuanya suka melaknat berkali-kali baik kepada orang lain, anaknya, atau istrinya dengan sebab yang bahkan sepele. Ini adalah musibah bagi perkembangan anak dalam kehidupan keluarga. Akibat ke depannya bisa memicu terjadi kasus serupa bahkan bukan ucapan saja bisa terjadi kriminalitas terhadap anak istri.

وقوله صلى الله عليه وسلم: لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُوْنَ لَعَّانًا.

Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak patut bagi seseorang mukmin menjadi seorang yang suka melaknat.”

Laknat memang tidak pantas menjadi perilaku seorang mukmin. Inti dari laknat adalah doa agar dijauhkan dari rahmat Allah. Hal ini justru dicegah oleh seorang mukmin. Karena mukmin dengan mukmin lain dalam hatinya harus ada sifat rahmah dan mencintainya dan mendoakannya dengan kebaikan. Nah, mukmin yang melakukan laknat tentu menunjukkan imannya kurang.

عَنْ أَبِي جُرَيٍّ جَابِرِ بْنِ سُلَيْمٍ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا يَصْدُرُ النَّاسُ عَنْ رَأْيِهِ لَا يَقُولُ شَيْئًا إِلَّا صَدَرُوا عَنْهُ قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ عَلَيْكَ السَّلَامُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَرَّتَيْنِ قَالَ لَا تَقُلْ عَلَيْكَ السَّلَامُ فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلَامُ تَحِيَّةُ الْمَيِّتِ قُلْ السَّلَامُ عَلَيْكَ قَالَ قُلْتُ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَنَا رَسُولُ اللَّهِ الَّذِي إِذَا أَصَابَكَ ضُرٌّ فَدَعَوْتَهُ كَشَفَهُ عَنْكَ وَإِنْ أَصَابَكَ عَامُ سَنَةٍ فَدَعَوْتَهُ أَنْبَتَهَا لَكَ وَإِذَا كُنْتَ بِأَرْضٍ قَفْرَاءَ أَوْ فَلَاةٍ فَضَلَّتْ رَاحِلَتُكَ فَدَعَوْتَهُ رَدَّهَا عَلَيْكَ قَالَ قُلْتُ اعْهَدْ إِلَيَّ قَالَ لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا قَالَ فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَلَا عَبْدًا وَلَا بَعِيرًا وَلَا شَاةً قَالَ وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنْ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ. (رواه أبوا داود)

 

Abu Jurai Jabir bin Sulaim berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang pemikirannya dijadikan sandaran oleh orang banyak. Ia tidak mengatakan sesuatu kecuali orang-orang akan mengikutinya. Aku lalu bertanya, ‘Siapakah dia?’ Orang-orang menjawab, ‘Ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, ‘alaikas salam’. Sebanyak dua kali. Beliau bersabda, “Jangan engkau ucapkan ‘alaikas salam’, karena ‘alaikas salam adalah penghormatan dan salam untuk mayit. Tetapi ucapkanlah ‘assalamu ‘alaika’.’ Jabir bin Sulaim berkata, ‘Aku lalu bertanya, ‘Apakah engkau utusan Allah?’ Beliau menjawab, ‘Ya, aku adalah utusan Allah, Dzat yang jika engkau tertimpa musibah, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkannya darimu. Jika kamu tertimpa paceklik, lalu engkau berdoa maka Dia akan menumbuhkan (tanaman) bagi kamu. Jika engkau berada di suatu tempat yang luas kemudian kendaraanmu hilang, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengembalikannya kepadamu.’ Jabir bin Sulaim berkata, ‘Lalu aku berkata, ‘Berilah kami perjanjian.’ Beliau bersabda, ‘Jangan sekali-kali engkau mencela orang lain.’ Jabir bin Sulaim berkata, ‘Setelah itu aku tidak pernah mencela sekali pun; kepada orang merdeka atau budak, unta atau kambing.’ Beliau bersabda lagi, ‘Janganlah engkau remehkan perkara kebaikan, berbicaralah kepada saudaramu dengan wajah yang penuh senyum dan berseri, sebab itu bagian dari kebaikan. Angkatlah sarungmu hingga setengah betis, jika tidak maka hingga kedua mata kaki. Janganlah engkau julurkan sarungmu karena itu bagian dari sifat sombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai sifat sombong. Jika ada seseorang yang mencela dan memakimu karena cela yang ia ketahui darimu, maka janganlah engkau balas memaki karena cela yang engkau ketahui padanya, karena hal itu akan memberatkannya (pada hari kiamat)”

 

Setelah Jabir bin Sulaim membuat perjanjian di hadapan Rasul dengan wasiat maka dirinya tidak pernah mencela manusia lagi, bahkan kepada binatang sekalipun. Dia selalu menjaga lisannya. Ini menunjukkan apa yang ada pada shahabat yang Allah ridhai dan mereka ridha dengan-Nya selalu melaksanakan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Para shahabat selalu ingin melakukan yang baik-baik dan yang utama sunnah-sunnah. Shahabat adalah panutan bagi orang-orang sesudahnya. Mereka layak mendapatkan julukan shalihin dari hamba-Nya. Kita selalu berdoa agar terhindar dan terjauhkan dari akhlak yang mungkar para pemuja hawa nafsu.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْيَهُودَ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ قَالَ وَعَلَيْكُمْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ السَّامُ عَلَيْكُمْ وَلَعَنَكُمْ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْكُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ أَوْ الْفُحْشَ قَالَتْ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ وَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ. (رواه البخاري)

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa sekelompok orang Yahudi datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ‘assamu ‘alaika’ (kebinasaan atasmu)’ Beliau menjawab, ‘Wa ‘alaikum (dan atas kalian juga)’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Assamu ‘alaikum wala’anakumullahu wa ghadhiba ‘alaikum. Semoga kebinasaan atas kalian dan laknat Allah serta murka Allah menimpa kalian.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tenanglah wahai Aisyah, hendaklah kamu berlemah lembut dan janganlah kamu berkata kasar atau berkata keji.’ Aku menjawab, ‘Apakah engkau tidak mendengar apa yang diucapkan mereka?’ Beliau bersabda, ‘Apakah kamu tidak mendengar jawabanku? Aku tadi telah menjawabnya. Doaku atas mereka telah dikabulkan, sementara doa mereka atasku tidak akan pernah terkabulkan.’

Mereka menegur Rasul dengan kalimat السًّامُ عَلَيْكَ yang artinya: semoga kematian untukmu. Kemudian dijawab وَعَلَيْكُمْ – demikian juga kamu. Akibatnya Aisyah marah dan melaknat kepada mereka. Rasulullah berkata kepada Aisyah مَهْلاً – yang sabar ya Aisyah, kamu harus lembut, hati-hati jangan bersikap keras dan mengeluarkan ucapan yang kotor. Dalam hal ini Rasul langsung menegur dengan keras. Bagaimana mungkin dibenarkan orang melontarkan kalimat-kalimat laknat atau kotor dari anaknya, istrinya, temannya, dan lain-lain kaum muslim.

Kalimat yang keluar dari Aisyah itu sebenarnya wajar karena beliau marah dan hak dia untuk marah dan mendoakan dengan kalimat laknat yang artinya agar dijauhkan dari rahmat Allah dan Allah marah kepada mereka (Yahudi) yang punya akibat mendapatkan siksa dunia dan akhirat. Tapi Rasulullah melarangnya dengan ucapan مَهْلاً يَاعَائِشَة – yang sabar ya Aisyah, jangan tergesa-gesa, memang kalau manusia jika bersabar atau berpikir sebelum mengucapkan, akibatnya akan terpuji. Maka disyariatkan kalau sedang marah tidak ada yang boleh keluar dari lisan atau tangan pada waktu marah.

Sudah semestinya kita melaksanakan wasiat Nabi untuk Aisyah, مَهْلاً يَاعَائِشَة – sabar ya Aisyah. Sebelum kalimat itu keluar pada waktu marah ditahan dulu. Ini adalah pengarahan nabawiyah yang sangat bermanfaat. Ditegaskan dengan sabda Rasul عَلَيْكِ بِالرَّفْقِ maka wajib seseorang berlaku lembut dalam masalah ini.

Kasus dalam hadits tersebut adalah terkait dengan kaum Yahudi. Saat mereka mengucapkan kata-kata kotor dan jijik yang diucapkan kepada Nabi. Kepada mereka saja tidak selayaknya melakukan cacian dan laknat, maka bagaimana mungkin dilakukan terhadap sesama kaum muslimin.

Yahudi ini punya dua predikat, yaitu 1) musuh kaum muslimin dan 2) musuh agama Islam. Kalimat yang dilontarkan oleh Yahudi kepada Nabi adalah kalimat yang paling jelek dan kotor tapi walau begitu Nabi masih memberikan arahan kepada Ummul Mukminin Aisyah untuk tenang, sabar, dan berlaku wajar.

Reaksi terhadap perkataan keji kepada nabi saja seperti itu, apalagi jika merespon kasus yang tidak terlalu berat. Lebih-lebih dalam menyikapi sesama saudara kita muslimin, harus lebih santun dan lembut. Seharusnya kita kaum muslimin setelah mendengar hadits ini lebih berhati-hati lagi dalam menjaga lisan, banyak takut kepada Allah. Tidak mudah mengeluarkan kata-kata sembarangan. Hal ini dalam rangka menjaga iman kita dan merealisasi ketakwaan kita.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا لَعَّانًا وَلَا سَبَّابًا كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ مَا لَهُ تَرِبَ جَبِينُهُ. (رواه البخاري)

Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berkata keji, melaknat, dan mencela. Kalau beliau hendak mencela digunakanlah bahasa samaran: mengapa dahinya berdebu.”

 

Kalimat  مَا لَهُ تَـرِبَ جَبِينُهُ – adalah ungkapan orang arab kepada orang lain agar meninggalkan atau sebaliknya mendorong sebuah perbuatan. Bukan diartikan leterlijk mendoakan kejelekan untuknya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَنْبَغِي لِصِدِّيقٍ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا. (رواه مسلم)

Abu Hurairah menceritkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tidak selayaknya orang yang jujur suka melaknat.”

Barangsiapa yang berakhlak buruk dengan banyak melaknat maka orang itu statusnya kejujurannya hilang. Karena orang jujur itu dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi. Disebutkan dalam Al-Quran kedudukannya setelah kenabian.

مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ

“…..akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin [314], orang- orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.” (An-Nisa: 69)

[314] Ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi ni’mat sebagaimana yang tersebut dalam ayat 7 surat Al Faatihah.

 

الصديق = orang yang jujur ialah mempunyai tempat yang tinggi, maka tentunya jauh dari sifat suka melaknat. Bahkan dalam hati ada kasih sayang kepada sesama manusia, mencintai kebaikan mereka, dan selalu mendoakan kebaikan. Hal itu semuanya tidak bisa dilakukan sembari melaknat dan marah-marah.

Orang yang suka melaknat jelas menurunkan derajat dari tinggi melorot ke bawah yang akhirnya iman turun, agama berkurang. Tentu sesuai dengan kadar apa yang dilakukannya.

عَنْ عَائِشَةُ ، أَنَّ أَبَا بَكْرٍ لَعَنَ بَعْضَ رَقِيقِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَا أَبَا بَكْرٍ، اللَّعَّانِينَ وَالصِّدِّيقِينَ؟ كَلا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاثًا، فَأَعْتَقَ أَبُو بَكْرٍ يَوْمَئِذٍ بَعْضَ رَقِيقِهِ، ثُمَّ جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: لا أَعُودُ “. (رواه البخاري)

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan bahwa Abu Bakar pernah melaknat sebagian hamba sahayanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegurnya, “Wahai Abu Bakar, pelaknat dan orang-orang jujur tidak akan bersatu, sekali-kali tidak bersatu, demi Tuhan pemilik Ka’bah. Lalu Abu Bakar pada hari itu memerdekakan sebagian budaknya, kemudian mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Saya tidak akan mengulanginya.”

Hal itu terjadi pada Abu Bakar As-Shiqqiq tatkala marah kepada budaknya. Walaupun hanya sekali sampai tidak terkendali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendengarnya kemudian memanggilnya dan menyampaikan bahwa sifat shidiq dan pelaknat tidak akan bisa bertemu. Sebuah peringatan baginya. Apa yang terjadi ini bukanlah akhlak shidiq, dalam umat ini bahkan tidak dikenal. Dua sifat ini tidak akan ketemu. Barangsiapa yang suka melaknat maka tidak layak menjadi shidiq.

وقوله: يَا أَبَا بَكْرٍ أَصِدِّيقِينَ وَلَعَّانِينَ؟!

Wahai Abu Bakar apakah engkau bergelar Ash-Shiddiq sementara kini engkau malah melaknat?”

 

Dari dalil di atas menunjukkan tidak cukup memerdekakan hanya satu budak, bahkan lebih dari satu. Ini adalah kafarah dari apa yang diucapkan olehnya walaupun hanya sekali. Abu Bakar pun datang kepada Nabi dan menyatakan diri tidak mengulangi lagi sebagai sebuah penyesalan.

Marilah kita berpikir dan merenung, ini adalah nasihat untuk diri kita dan sebagai peringatan. Khususnya bagi Abu Bakar dan generasi awal sebagai sebagai panutan bagi sesudahnya.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَلَاعَنُوا بِلَعْنَةِ اللَّهِ وَلَا بِغَضَبِ اللَّهِ وَلَا بِالنَّارِ. (رواه أبوا داود)

Samurah bin Jundub menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling melaknat dengan laknat Allah, dengan murka Allah, atau dengan neraka.”

 

Saling melaknat satu sama lain. Saling mendoakan akan kemurkaan Allah. Atau, saling mendoakan masuk neraka. Semuanya dilarang. Karena semua itu bisa mengurangi ukhuwah imaniyah. Karena ukhuwah imaniyah harus saling lemah lembut, saling mendoakan akan kebaikan, dan saling meminta pengampunan dari Allah. Berdoa agar masuk surga dan bebas dari neraka sehingga menjadi kuat hubungan imaniyahnya.

Wajib bagi setiap orang untuk bertakwa kepada Allah dalam ukhuwah imaniyah. Hendaknya berhati-hati jangan sampai berlaku lalim. Karena kelaliman mengandung dosa dan bahaya, merusak dan menghancurkan.

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَالَ شَهِدْتُ الْأَعْرَابَ يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعَلَيْنَا حَرَجٌ فِي كَذَا أَعَلَيْنَا حَرَجٌ فِي كَذَا فَقَالَ لَهُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَضَعَ اللَّهُ الْحَرَجَ إِلَّا مَنْ اقْتَرَضَ مِنْ عِرْضِ أَخِيهِ شَيْئًا فَذَاكَ الَّذِي حَرِجَ وهلك. (رواه ابن ماجة)

Usamah bin Syarik berkata, “Saya menyaksikan beberapa orang Arab Badui bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Berdosakah kami jika melakukan ini? Berdosakah kami jika melakukan seperti ini?” Beliau lalu bersabda kepada mereka, ‘Wahai hamba Allah, Allah akan menghapus dosa kecuali orang yang menyebarluaskan aib saudaranya, itu adalah dosa dan kebinasaan.”

 

Menjatuhkan kehormatan saudara dengan menggunjing, mencela, namimah, atau menyakiti.

عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ قَالَتْ سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا. (رواه أبوا داود)

Ummu Darda berkata, “Aku mendengar Abu Darda berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit. Akan menutupi pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.”

 

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ. (رواه البخاري)

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang melempar tuduhan kepada orang lain tentang kefasikan atau kekufuran melainkan tuduhan itu akan kembali kepadanya, jika saudaranya tidak seperti yang dituduhkan itu.”

Apabila seseorang melontarkan laknat atau tuduhan kepada orang lain secara salah, baik kepada manusia, binatang, atau benda-benda, maka tuduhan tersebut akan kembali ke yang menuduh. Betapa banyak hal ini terjadi.

عَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ. (رواه البخاري)

Tsabit bin Adh-Dhahhak menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Melaknat seorang mukmin bagaikan membunuhnya.”

عَنْ عَبْدُ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ. (رواه البخاري)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencela seorang muslim adalah fasiq dan memeranginya adalah kufur.”

Seseorang yang menjaga lisannya dari melaknat, mencela, ngomong kotor dan sebangsanya, berarti telah menuju kesempurnaan akhlak dan keindahan adab. Termasuk tanda-tanda orang yang mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Seorang muslim seharusnya bertakwa kepada Allah dengan berusaha berakhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang hina. Untuk itu kita mesti meminta pertolongan kepada Allah. Kiranya Allah berkenan menunjukkan akhlak yang mulia dan menjauhkan akhlak yang jelek dari kita. Semuanya itu mudah bagi Allah.

Umat Islam adalah ahli agama yang hanif dan penuh berkah. Keadaan kaum muslimin bukan seperti orang kafir yang disifatkan oleh Allah:

كُلَّمَا دَخَلَتْ اُمَّةٌ لَّعَنَتْ اُخْتَهَا

Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya)” (Al-A’raf: 38)

 

Ayat di atas bukanlah sifat ahli iman. Bahkan ahli iman keadaannya saling berkasih sayang, saling ta’awun ala birri wa taqwa, dan saling bermuamalah dengan lembut.

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

“…..dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (Al-Balad: 17)

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى. (رواه مسلم)

Nu’man bin Basyir berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)‘”

 

Inilah gambaran akhlak mukmin yaitu mempunyai sifat yang saling sayang di antara kawan mukmin. Saling ta’awun dengan kebaikan dan takwa di antara sesama mukmin. Ibaratnya sebuah bangunan yang saling menguatkan atau seperti jasad yang apabila ada bagian yang sakit pada salah satu anggota badan, maka semuanya ikut merasakan panas atau tidak bisa tidur.

Inilah ayat dan hadits-hadits tentang sifat orang-orang mukmin:

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“…dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”  (Al-Hasyr: 10)

Allah akan memberi pahala yang besar, keutamaan yang agung, dan kebaikan yang banyak bagi yang mendoakan saudaranya sesama mukmin. Hendaklah kita saling memintakan ampun. Sebagaimana diajarkan dalam sebuah hadits di bawah ini:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةً». (رواه الطبراني)

Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mendoakan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat, Allah akan menuliskan untuknya pahala sejumlah mukmin dan mukminah.”

Betapa besar jumlah pahala kalau kita setiap hari banyak mendoakan kaum muslimim.

رَوَى ابن أبي حاتم, عن يزيد بن الأصمِّ قال: كَانَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ ذُوْ بَأْسٍ, وَكَانَ يَفِدُ إِلَى عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رضي الله عنه فَفَقَدَهُ عُمَرُ فقال: مَا فَعَلَ فُلَانُ بن فلان؟فقالوا: يَا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ, يُتَابِعُ فِي هذا الشَّرَابَ, قال: فَدَعَا عُمَرُ كَاتِبَهُ فقال: اُكْتُبْ (مِنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ إِلَى فلان بن فلان, سَلَامٌ عَلَيْكَ, فَإِنِّي أَحْمَدُ إِلَيْكَ اللهُ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ غَافِرُ الذَّنْبِ, وَقَابِلُ التَّوْبِ, شَدِيْدُ العِقَابِ, ذِي الطَوْلِ, لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ المَصِيْر)

ثُمَّ قال لأصحابه:(اُدْعُوا اللهَ لِأَخِيْكُمْ أَنْ يُقْبِلَ بِقَلْبِهِ, وَأَنْ يَتُوْبَ اللهُ عَلَيْهِ, فَلَمَّا بَلَغَ الرَّجُلَ كِتَابُ عُمَرَ جَعَلَ يَقْرَؤُهُ وَيُرَدِّدُهُ وَيُقُوْلُ: غَافِرُ الذَّنْبِ, وَقَابِلُ التَّوْبِ, شَدِيْدُ العِقَابِ, قَدْ حَذَّرَنِي, عُقُوْبَتَهُ, وَوَعَدَنِي أَنْ يَغْفِرَ لِيْ). (رواه ابن أبي حاتم)

Yazid ibn Al-Asham berkata, “Dahulu ada seorang lelaki pemberani dari Syam. Dia mengunjungi Umar bin Khattab. Suatu ketika Umar kehilangan jejaknya. Beliau bersabda, ‘Apa yang telah dilakukan fulan bin fulan itu?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, dia selalu meminum khamr.’

Umar pun memanggil sekretarisnya dan berkata, ‘Tulislah dari Umar bin Khattab kepada fulan bin fulan. Salam sejahtera senantiasa dilimpahkan padamu. Di hadapanmu aku memuji Allah yang tiada tuhan selain Dia, Yang mengampuni dosa dan menerima tobat lagi keras hukuman-Nya, Yang mempunyai karunia. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nyalah semua makhluk kembali.

Kemudian dia berkata kepada teman-temannya: Mohonlah supaya saudaramu menerima hatinya, dan Tuhan mengampuninya. Ketika orang itu menerima tulisan Umar, dia membacanya dan mengulangnya, dan berkata, “Dia mengampuni dosa, Dia menerima tobat, Dia yang mempunyai hukuman yang keras, Dia memperingatkan saya tentang hukumannya, dan Dia pula yang berjanji untuk mengampuni saya.”[5]

قَالَ: وَرَوَاهُ الحافظ أبو نعيم من حديث جعفر بن برقان, وزاد: (فَلَمْ يَزَلْ يُرَدِّدُهَا عَلَى نَفْسِهِ, ثُمَّ بَكَى, ثُمَّ نَزَعَ فَأَحْسَنَ النَّزْعَ, فَلَمَّا بَلَغَ عُمَرَ رضي الله عنه أَمْرُهُ قال: هَكَذَا فَاصْنَعُوا, إِذَا رَأَيْتُمْ أَخًا لَكُمْ زَلَّ زَلَّةً فَسَدَّدُوْهُ, وَوَفِّقُوْهُ, وَادْعُوا اللهَ أَنْ يَتُوْبَ عَلَيْهِ, وَلَا تَكُوْنُوا عَوْنًا لِلشَيْطَانِ عَلَيْهِ)

Dalam jalur riwayat lain ada tambahan: lelaki itu terus menerus mengulang-ngulanginya, kemudian menangis, hingga mengalami sakaratul maut sampai meninggal dunia dalam keadaan akhir baik. Tatkala peristiwa itu terdengar sampai kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Demikian itulah. Hendaknya selalu berbuat baiklah apabila kalian melihat saudara kalian telah tergelincir luruskanlah, berikanlah dia petunjuk, dan doakanlah kepada Allah. Semoga Allah menerima tobatnya. Janganlah kalian justru menjadi penolong setan di dalam menghancurkan sadaramu itu.”[6]

 

Disadur oleh Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Ahaditsul Akhlaq halaman 171-185 karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-‘Abad terbitan Darul Imam Muslim Publishing tahun 1441.

Edited by @rimoesta

Footnote:

[1] As-Shawa-iqul Mursalah 4/1505.

[2] Bada-i’ul Fawa-id 3/207.

[3] Tafsiru At-Thabari 17/18.

[4] As-Shamtu Libni Abid Dun-ya halaman 659.

[5] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir-nya halaman 18415.

[6] Diriwayatkan oleh Abu Nu’ain dalam Hilyatul Auliya halaman 4/97.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )