TETAP BERBAKTI KEPADA ORANG TUA, MESKIPUN MENZHALIMI KITA?

TETAP BERBAKTI KEPADA ORANG TUA, MESKIPUN MENZHALIMI KITA?

Sebuah hadit dari Bahz bin Hakim. Dia menceritakan kisah kakeknya bersama Nabi. Kakeknya pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?’ Rasulullah menjawab,

أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ. (رواه أبو داود).

Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat, kemudian yang terdekat.”

Hadits tersebut menunjukkan bahwa untuk ibu mempunyai tiga kali kebaikan dibanding sang bapak. Dan, menunjukkan kedudukan ibu dibanding ayah. Ibu diutamakan lebih daripada ayah karena susah payah yang dialaminya. Hal ini diisyaratkan dalam ayat:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (Al-Ahqaf: 15)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [1181].” (Luqman: 14)

[1181] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah ketika anak berumur dua tahun.

Kalau kita renungkan maka ada tiga perkara besar yang dilakukan oleh seorang ibu, yaitu:

1- Mengandung anaknya dengan susah payah selama 9 bulan.

2- Melahirkan anaknya dengan memerah tenaga.

3- Menyusui dan merawatnya.

Tiga peristiwa besar tersebut harus selalu diingat-ingat agar bisa memotivasi dan mengingatkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

Setelah menyebut bapak, di ujung hadits tersebut menyebutkan ثم الأقراب والأقراب. Artinya: kemudian yang paling dekat dan yang paling dekat lagi. Ini menunjukkan seseorang harus menjaga keluarga ibunya. Termasuk bibi yang merupakan wakil dari ibu. Bahkan kedudukannya sebagai pengganti ibu. Dalam sebuah hadits disebutkan:

الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ. (رواه البخاري).

‘Bibi mempunyai kedudukan sebagai pengganti ibu’.

Kenapa kok begitu?? Karena menurut adat kebiasaan, seorang bibi sangatlah memperhatikan keponakan dari saudara kandungnya, dari kesehatan, kebutuhan sehari-hari, pendidikan, dan lain-lain. Dalam hasit lain disebutkan oleh Rasulullah:

الْخَالَةُ أُمٌّ. (رواه أبو داود).

“Bibi dari pihak ibu adalah ibu.

Karena itulah menjadi sebuah keberkahan saat mendapatkan kebaikan dari anak kemenakannya. Sebuah hadits yang mirip dengan Riwayat Abu Dawud di muka. Sumbernya dari Abu Hurairah, katanya,

أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَأْمُرُنِي قَالَ بَرَّ أُمَّكَ ثُمَّ عَادَ فَقَالَ بَرَّ أُمَّكَ ثُمَّ عَادَ الرَّابِعَةَ فَقَالَ بَرَّ أَبَاكَ. (رواه أحمد).

“Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya, ‘Apa yang engkau perintahkan kepadaku?’ Beliau bersabda, ‘Berbaktilah kepada ibumu!’ Ia mengulangi pertanyaannya. Beliau menjawab, ‘Berbaktilah kepada ibumu!’ Masih diulang lagi pertanyaannya hingga keempat kalinya. Beliau masih bersabda, ‘Berbaktilah kepada bapakmu!’”

Berbakti atau berbuat baik kepada ibu sungguh sangat diutamakan. Karena itu dalam hal mubah dan kebaikan hendaknya kita menyelaraskan dengan pandangan sang ibu. Hubungan baik kita dengan ibu menjadi indikator baiknya seseorang. Sebagaimana digambarkan dalam sebuah hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ قَالَ أَنَّهُ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: إِنِّى خَطَبْتُ امْرَأَةٌ فَأَبَتْ أَنْ تَنْكِحَنِي، وَخَطَبَهَا غَيْرِى فَأَحَبَّتْ أَنْ تَنْكِحَهُ، فَغِرْتُ عَلَيْهَا فَقَتَلْتُهَا، فَهَلْ لِي مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: أُمُّكَ حَيَّةٌ؟ قَالَ: لاَ، قَالَ: تُبْ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَتَقَرَّبْ إِلَيْهِ مَا اسْتَطَعْتَد[قَالَ: عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ:] فَذَهَبْتُ فَسَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ: لِمَ سَأَلْتَهُ عَنْ حَيَاةِ أُمَّهِ؟ فَقَالَ: إِنِّى لاَ أّعْلَمُ عَمَلاً أَقْرَبُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ بِرِّ الْوَالِدَةِ. (رواه البخاري).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan tentang seseorang yang mendatanginya untuk bertanya, “Aku pernah meminang seorang wanita, tapi dia enggan untuk menikah denganku. Kemudian dia dipinang orang lain dan diterima hingga menikahlah dia. Saya cemburu dengan wanita itu, sampai aku tersilap membunuhnya. Apakah masih ada tobat bagiku?’ Ibnu Abbas bertanya, ‘Apakah ibumu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Tidak!’ Ibnu Abbas berkata, ‘Bertobatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dekatkanlah dirimu kepada-Nya semampu kamu!’ Atha’ bin Yasar berkata, ‘Saya pun kemudian menjumpai Ibnu Abbas dan bertanya, ‘Mengapa tadi engkau bertanya tentang ibunya?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih dekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla selain berbuat baik kepada ibu’.”

Riwayat tentang kisah sahabat ini punya nilai penting dalam menjelaskan hak seorang ibu untuk mendapatkan bakti dan kebaikan. Betapa penting dan agung sikap baik kepada ibu sehingga mempunyai kedudukan menghapus dosa besar dan wasilah mendapatkan ampunan dari Allah dan ridha-Nya.

Dalam riwayat itu disebutkan Ibnu Abbas bertanya kepada orang yang membunuh tersebut apakah ibunya masih hidup. Kalau masih hidup tentu merupakan nikmat yang paling besar. Dengan pengabdian kepada ibu akan mengangkat derajatnya dan menebus dosa-dosa. Namun, ternyata sayang sekali ibunya sudah meninggal.

Walaupun ibunya sudah meninggal tetapi Ibnu Abbas masih mencoba memberikan motivasi kebaikan. Saran beliau: bertobatlah. Sebuah jawaban dan arahan dari ahli ilmu; ulama yang faqih dalam agama yang dikenal sebagai hibrul ummah. Lautan ilmu milik umat. Jawabnnya tidak membuat orang menjadi putus asa untuk bertobat walaupun telah melakukan dosa besar. Dalam sebuah ayat disebutkan:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa [1315] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)

[1315] Dalam hubungan ini lihat surat (4) An Nisa ayat 48.

Selain dengan bertobat, maka kebaikan akan menutup kesalahan. Allah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)

Karena itu Rasulullah menghasung kita agar Ketika menyadari telah melakukan keburukan segera mengiringi dengan melakukan kebaikan.

أَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا (رواه الترمذي).

Ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya.”

Dan, berbuat baik kepada orang tua—terutama ibu—adalah termasuk amal baik yang bernilai tinggi. Ibnu Abbas menceritakan bahwa Rasulullah bersabda,

” مَا مِنْ مُسْلِمٍ لَهُ وَالِدَانِ مُسْلِمَانِ يُصْبِحُ إِلَيْهِمَا مُحْتَسِبًا، إِلا فَتْحَ لَهُ اللَّهُ بَابَيْنِ، يَعْنِي:مِنَ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا فَوَاحِدٌ، وَإِنْ أَغْضَبَ أَحَدَهُمَا لَمْ يَرْضَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ، قِيلَ: وَإِنْ ظَلَمَاهُ؟ قَالَ: وَإِنْ ظَلَمَاهُ “. (رواه البخاري).

“Tidak seorangpun dari seorang muslim yang masih memiliki kedua orang tua, lalu berbakti kepada keduanya dan mengharap ridha Allah, kecuali Allah akan bukakan baginya dua buah pintu di surga. Meskipun orang tuanya tersisa hanya satu orang saja. Maka berbaktilah kepadanya. Jika sampai membuat marah salah seorang dari kedua orang tua, Allah tidak akan meridhai hingga orang tua tadi meridhainya.’

Beliau ditanya, ‘Meskipun kedua orang tua tadi berlaku zhalim terhadap si anak?’

Nabi bersabda, ‘Iya, meskipun mereka menzhalimi si anak’. ”

Jadi, memang seorang anak tetap wajib berbuat baik kepada kedua orang tua sekalipun keduanya menyakiti, memarahi, dan menzhalimi si anak. Setiap hari kita harus selalu berbuat baik kepada kedua orang tua. Terutama ketika keduanya sudah berumur. Hendaknya di pagi-pagi sekali sudah memberi bakti kepada kedua orang tua. Tradisi kebaikan semacam ini akan menjadi sebab datangnya taufik untuk seorang hamba pada hari itu.

Ada dua perkara yang harus dilakukan anak terhadap ibu:

1- Berbicara dengan lemah-lembut. Ini yang paling penting dibutuhkan seorang ibu dari si anak. Ibu pada umumnya tidak membutuhkan pemberian materiel. Apa yang diberikan anak kepadanya baik berupa harta, makanan, kendaraan, atau tempat tinggal, kadang diinfakkan ke anaknya.

2- Diberi makan atau kalau perlu disuapi dengan baik, lembut, dan sabar.

Dalil dari atsar-atsar ini menunjukkan pentingnya dalam birrul walidain dengan kata-kata yang lembut, dengan ihsan dari perkataan, perbuatan dan sikap. Baru bisa menjadi sebab masuk surga. Amin.

Bersambung …

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel: APA BUKTI BAKTIMU KEPADA ORANG TUA?

Disadur oleh Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc. dari buku Ahaditsul Akhlaq karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin al-Abad al-Badr. Terbitan Darul Imam Muslim Publishing. Madinah. Tahun 1441/2020.

Edited by @rimoesta.

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (1 )