SILATURAHIM NASIONAL IV DA’I, PEGIAT DAKWAH, DAN PENGURUS PESANTREN DIGELAR DI ICBB YOGYAKARTA
(ICBB-YOGYA) — Silaturahim Nasional IV Da’i, Pegiat Dakwah, dan Pengurus Pesantren digelar di Aula Lantai III Masjid Jami Islamic Centre Bin Baz (ICBB), Yogyakarta, Selasa (29/9/2026), bertepatan dengan 17 Rabiul Akhir 1448 H.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Islamic Centre Bin
Baz, Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy Yogyakarta ini
mempertemukan para da’i, pegiat dakwah, pengurus pesantren, dan sejumlah
asatidz dari berbagai daerah di Indonesia. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempererat
silaturahim, membangun komunikasi, serta bertukar pandangan mengenai berbagai
persoalan umat, khususnya dalam bidang pendidikan, dakwah, dan siyasah
syar’iyyah.
Pembukaan dan Sambutan
Rangkaian kegiatan dimulai dengan registrasi peserta
pada pukul 07.00 WIB, dilanjutkan pembukaan, tilawah Al-Qur’an oleh Ananda
Muhammad Abdullah Robbani Al-Hafidz, santri Kelas 3A Mulazamah Islamic
Centre Bin Baz (ICBB) Yogyakarta, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ustadz Abu
Nida’ Chomsaha Sofwan, Lc. dan Ustadz Mubarok Bamu’allim, Lc., M.H.I.
Setelah rangkaian pembukaan dan sambutan selesai, agenda utama dimulai pada
pukul 08.35 WIB.
Ustadz Abu Nida’: Mempererat Silaturahim dan Kehadiran
Da’i di Tengah Masyarakat
Dalam sambutannya, Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Sofwan, Lc. menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Silaturahim Nasional IV. Beliau menjelaskan bahwa “Salah satu tujuan utamanya adalah menghilangkan ghil-ghil dan suuzan di antara kita. Kita ingin saling mengenal dan mempererat hubungan di antara kita.”
Beliau juga menyampaikan peluncuran buku Wasathiyah
dan Wathaniyah yang disertakan dalam goody bag peserta sebagai salah
satu ikhtiar untuk menegaskan komitmen terhadap kehidupan berbangsa dan
bernegara.
“Kita juga meluncurkan buku Wasathiyah dan Wathaniyah,
yang menegaskan bahwa kita merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).”
Selain itu, Ustadz Abu Nida’ mengingatkan pentingnya
kehadiran para da’i di tengah masyarakat dan memberikan manfaat.
“Kita harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi
sebaik-baik manusia,
yaitu manusia yang memberikan manfaat bagi manusia lainnya ‘خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ’ .”
Ustadz Mubarok: Dakwah dengan Kelapangan Dada
Sementara itu, Ustadz Mubarok Bamu’allim, Lc., M.H.I.
menyampaikan apresiasi kepada Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Sofwan, Lc. selaku
penyelenggara dan seluruh panitia. Beliau juga mengingatkan pentingnya
menyatukan hati serta memanfaatkan kehidupan untuk kebaikan dan dakwah.
Dalam sambutannya, beliau membacakan firman Allah Ta’ala
dalam Surah At-Taubah ayat 128:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ
رَّحِيمٌ
Beliau kemudian menekankan pentingnya kelapangan dada
dalam berdakwah dan keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Kita harus memiliki dada yang lapang dalam menghadapi
berbagai keadaan. Mari kita menjadi teladan di masyarakat dengan mencontoh suri
teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Sesi 1 — Sikap Wasathiyah dalam Pendidikan
Agenda utama dimulai pukul 08.35 WIB melalui Sesi
1 bertema “Sikap Wasathiyah dalam Pendidikan”, dimoderatori oleh Ustadz
Nafi’ Zainuddin, Lc., M.H.I.
Sesi ini menghadirkan Ustadz Ali Saman, Lc.; Ustadz
Prof. Dr. Abdurrahim Al Basyir, M.Pd.; Ustadz Dr. Didik Haryanto, Lc., M.P.I.,
Ph.D.; Ustadz Abul Abbas Thabrani, S.Pd., Ketua Tanfidziyah 3 (LP3) Islamic
Centre Bin Baz; dan Ustadz Abu Qotadah, Lc.
Pembahasan menyoroti pengembangan pendidikan Islam yang
mampu mempertahankan ruh pendidikan salaf sekaligus merespons perkembangan
zaman.
Ustadz Ali Saman, Lc.
menekankan pentingnya transformasi pendidikan, peningkatan mutu, kolaborasi
antarlembaga, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan
artifisial.
“Transformasi pendidikan perlu diarahkan pada peningkatan
mutu, kemanfaatan yang luas, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi.”
Ustadz Prof. Dr. Abdurrahim Al Basyir, M.Pd. menyoroti pentingnya kepemimpinan dan penguatan sumber daya manusia.
“Peningkatan mutu pendidikan membutuhkan manajemen
perubahan. Transformasi harus dimulai dari perubahan pola pikir tentang
kualitas pendidikan, penguatan kepemimpinan, serta kaderisasi.”
Ustadz Dr. Didik Haryanto, Lc., M.P.I., Ph.D. mendorong adanya arah bersama dalam pengembangan pendidikan Islam melalui
peta jalan dan penjaminan mutu.
“Kita perlu menyusun peta jalan pendidikan untuk 20 tahun
ke depan dan membangun mekanisme penjaminan mutu internal antarpesantren, tanpa
menghilangkan kemandirian masing-masing lembaga.”
Ustadz Abul Abbas Thabrani, S.Pd., Ketua Tanfidziyah 3 Islamic Centre Bin Baz, menekankan pentingnya fondasi
ilmu dan tetap menjaga ruh pendidikan salaf.
“Kita perlu tahshil ilmu sebelum membangun bangunan di atasnya. Perkembangan zaman boleh berubah, tetapi ruh pendidikan salaf harus tetap dijaga. Ilmu tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga mendekatkan kepada Allah, dilakukan secara tadarruj, sesuai kelayakan, serta memperhatikan minat dan bakat peserta didik.”
Ustadz Abu Qotadah, Lc.
menekankan pendidikan sebagai proses membangun generasi dan peradaban.
“Pendidikan adalah upaya membangun generasi dan
peradaban. Karena itu, lembaga pendidikan harus berkualitas, berkelanjutan,
berorientasi masa depan, dan memiliki jejaring yang kuat.”
Sesi pertama berakhir pada pukul 09.50 WIB.
Sesi 2 — Sikap Wasathiyah dalam Berdakwah
Pada pukul 09.50 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan
Sesi 2 bertema “Sikap Wasathiyah dalam Berdakwah”, dimoderatori oleh Ustadz
Dr. (H.C.) Fachrudin Nu’man, Lc., M.Pd.
Sesi ini menghadirkan Ustadz Muhammad Wujud, Lc.;
Ustadz Muhammad Elvi Syam, Lc., M.A.; Ustadz Dr. Anas Burhanudin, Lc., M.A.;
Ustadz Dr. Fauzi Basulthona, Lc., M.Pd.; dan Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.
Adapun pemaparan Ustadz Ali Ahmad, Lc. melalui Zoom dibatalkan.
Ustadz Muhammad Wujud, Lc.
menekankan pentingnya bekal ilmu, kesabaran, hikmah, dan akhlak bagi seorang
da’i.
“Da’i membutuhkan ilmu tentang materi, sasaran dakwah,
dan cara penyampaian, disertai kesabaran, hikmah, serta akhlak mulia.”
Ustadz Muhammad Elvi Syam, Lc., M.A. menyoroti pentingnya koordinasi dan sinergi lintas jaringan dakwah.
“Dakwah membutuhkan koordinasi, kolaborasi, dan sinergi
antara pesantren, sekolah, perguruan tinggi, media, dan kegiatan sosial.”
Ustadz Dr. Anas Burhanudin, Lc., M.A. mengingatkan pentingnya menyikapi perkara khilafiyah secara proporsional.
“Perkara khilafiyah yang mu’tabarah tidak semestinya
dijadikan ukuran tunggal untuk menilai seseorang. Dakwah perlu disampaikan
secara proporsional, arif, dan bijak.”
Ustadz Dr. Fauzi Basulthona, Lc., M.Pd. membagikan pengalaman dakwah dengan menekankan pentingnya membangun
kemitraan.
“Dalam dakwah, kita perlu memperbanyak kawan dan tidak
mencari lawan. Jejaring dakwah harus dibangun dengan berbagai unsur
masyarakat.”
Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.
mengingatkan pentingnya menjaga zuhud dan keikhlasan di tengah perkembangan
media digital.
“Platform digital boleh dimanfaatkan, tetapi hati da’i
harus dijaga agar tidak tertawan oleh jumlah pengikut, tanda suka, algoritma,
maupun kemudahan penghimpunan dana.”
Sesi kedua berakhir pada pukul 10.40 WIB, dengan pokok pembahasan mengenai ilmu, hikmah, akhlak, sikap proporsional dalam menyikapi perbedaan, penguatan jejaring, serta menjaga keikhlasan dan keteladanan da’i.

Sesi 3 — Sikap Wasathiyah dalam Siyasah Syar’iyyah
Pada pukul 10.40 WIB, peserta memasuki Sesi 3
bertema “Sikap Wasathiyah dalam Siyasah Syar’iyyah”, yang dimoderatori
oleh Ustadz Dr. KH. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.
Sesi ini menghadirkan Ustadz Yusuf Utsman Baisa, Lc.;
Ustadz Dr. Dasman Yahya Ma’ali, Lc., M.A.; dan Ustadz Dr. Sofyan
Baswedan, Lc., M.A.
Ustadz Yusuf Utsman Baisa, Lc.
menjelaskan siyasah syar’iyyah sebagai upaya mewujudkan keadilan dan
kemaslahatan dengan tetap berpedoman pada prinsip syariat.
“Siyasah syar’iyyah adalah upaya menegakkan keadilan dan
kemaslahatan umum dengan tetap berada dalam koridor prinsip dan tujuan
syariat.”
Ustadz Dr. Dasman Yahya Ma’ali, Lc., M.A. membahas hubungan antara da’i, ulama, pemerintah, dan masyarakat.
“Da’i tidak perlu mengambil jarak dari pemerintah dan
masyarakat, dengan tetap menjaga prinsip. Da’i dan ulama memiliki peran
memberikan arahan moral, saran, dan bimbingan.”
Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, Lc., M.A. mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan kaum muslimin dalam menyikapi
perbedaan.
“Perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu dan da’i
merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Karena itu, kita harus menjaga
kehormatan kaum muslimin dan berhati-hati dalam ucapan maupun tindakan.”
Sesi ketiga berakhir pada pukul 11.40 WIB.
Pembahasan menekankan siyasah syar’iyyah sebagai upaya mewujudkan keadilan dan
kemaslahatan umum, sekaligus pentingnya sinergi antara da’i, ulama, pemerintah,
dan masyarakat.
Sesi Keempat dan Diskusi Umum
Setelah Sesi 3 berakhir pada pukul 11.40 WIB,
rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Sesi Keempat dan Diskusi Umum yang
dimulai pukul 13.10 WIB.
Sesi ini dimoderatori oleh Ustadz Amrullah dan menghadirkan Prof. Budi Jatmiko dan Pak Salim.

Penutup
15.00 WIB
Menjelang akhir rangkaian kegiatan, Ustadz Abu Nida’
Chomsaha Sofwan, Lc. menyampaikan pesan penutup. Selanjutnya, acara secara
resmi ditutup oleh MC pada pukul 15.00 WIB.
Silaturahim Nasional IV menjadi ruang untuk mempererat
hubungan, membangun komunikasi, dan memperkuat sinergi di antara para da’i,
pegiat dakwah, dan pengurus pesantren dalam membahas berbagai persoalan
pendidikan, dakwah, dan siyasah syar’iyyah.
Editor: Abu Bassam
Sumber: Notulensi Panitia
Abu Bassam
Author
