HUKUM MENCELA PEMIMPIN (ULIL AMRI)?
Di tengah
maraknya celaan terhadap pemimpin, baik saat demonstrasi, di media sosial,
maupun di ruang publik lainnya, seorang Muslim hendaknya senantiasa menjaga
lisan dan adabnya. Ketidakpuasan terhadap kebijakan tidak boleh menjadi alasan
untuk menghalalkan hujatan, laknat, dan perkataan keji.
Lantas,
bagaimana tuntunan Islam dalam menyikapi pemimpin (ulil amri)? Simak
penjelasan Ustadz Abu Nida` Chomsaha Sofwan, Lc. dalam tulisan berikut:
LARANGAN MENCELA PEMIMPIN
(ULIL AMRI)[1]
Salaf mengharamkan umat Islam untuk mencela, merendahkan,
melaknat sesama umat Islam, apalagi kepada pemimpin. Kebiasaan buruk tersebut
bisa merusak ketaatan kepadanya. Hal ini telah dipaparkan di dalam al-Quran dan
Hadits.
Perilaku suka mencela pemimpin atau
penguasa termasuk diharamkan, sebagaimana dalam hadits:
ููุนููู ุงููู
ูุคูู
ููู
ููููุชููููู
ย โMelaknat orang mukmin itu seakan membunuhnya.โ
(Hadits
Riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim dan lain-lain)
ููููุณู ุงููู
ูุคูู
ููู
ุจูุงูุทููุนูุงููุ ููููุง ุงููููุนุงููุ ููููุง ุงูููุงุญูุดูุ ููููุง ุงููุจูุฏููุกู
โOrang mukmin
bukanlah orang yang suka mencela dan melaknat, dan bukan pula orang yang
omongannya keji dan menjijikkan.โ (Hadits Riwayat
Imam Ahmad (2/416) dan Imam Bukhari
(4/99))
Dan berdasarkan
sabda beliau ๏ทบ:
ุณูุจูุงุจู ุงููู
ูุณูููู
ู
ููุณููููุ ููููุชูุงูููู ููููุฑู
โMencela orang
muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.โ (Hadits Riwayat Imam
Bukhari, Imam Muslim dan lain-lain)
Imam Fudhail
bin Iyadh t berkata, โSeandainya kami mempunyai doa yang
maqbul, maka akan kami pakai untuk mendoakan para pemimpin kami.โ Lalu
ditanya kenapa ya Fudhail? Jawabnya:
ยงย ย
Jika pemimpin
baik, maka kebaikannya bisa dipakai/dirasakan oleh umatnya.
ยงย ย Tapi kalau doa untuk kita, maka kebaikannya hanya untuk kita dan keluarga saja.โ
***
[1] Amru Abdul Munโim Salim, ุงูู ููุฌ ุงูุณููู ุนูููุฏู ุงูุดูุฎ ูุงุตุฑ ุงูุฏูู ุงูุงูุจุงูู, 2008.
Sumber: Khittah Wathaniyah (Kebangsaan): Dasar Politik Islam dalam Berbangsa dan Bernegara, karya Ustadz Abu Nidaโ Chomsaha Sofwan Lc,ย ย cet. ke-2 (Yogyakarta: Pustaka At-Turots, Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy, 1448 H/2026 M), hlm. 7-8.
Abu Bassam
Author