MANHAJ YANG SUMBER UTAMANYA AL-QURAN DAN HADITS


Dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam, seorang Muslim tidak cukup hanya berpegang pada semangat beragama, tetapi juga perlu memiliki landasan pemahaman yang benar. Sebab, cara seseorang memahami sumber ajaran Islam akan sangat menentukan bagaimana ia mengenal agamanya, menjalankan ibadah, serta menyikapi berbagai persoalan kehidupan.

Al-Qur’an dan Hadits merupakan dua sumber utama ajaran Islam yang menjadi pedoman bagi setiap Muslim. Namun, bagaimana keduanya dipahami dan diamalkan? Mengapa pemahaman para sahabat Nabi ﷺ memiliki kedudukan penting dalam memahami agama? Dan prinsip-prinsip apa saja yang menjadi pijakan dalam Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengantarkan kita untuk mengenal lebih jauh tentang manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, khususnya prinsip yang menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber utama dalam beragama.

Melalui tulisan berikut, Ustadz Abu Nida` Chomsaha Sofwan, Lc menguraikan sejumlah prinsip penting Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang patut diketahui dan dipahami oleh setiap Muslim. Selamat membaca.

Manhaj hlus sunnah wal Jama’ah atau Manhaj Salaf memiliki beberapa prinsip utama yang menjadi landasan dalam pemahaman dan praktik keagamaannya. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

1.      Al-Quran dan Hadits Sebagai Sumber Utama.

Ahlus sunnah wal Jama’ah mengakui Al-Quran sebagai kitab suci yang diturunkan oleh Allah k dan Hadits sebagai sumber hukum kedua yang berisi perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad ﷺ. Mereka meyakini bahwa Al-Quran dan Hadits merupakan panduan pokok/utama dalam menjalankan ibadah dan menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim. Mereka mengikuti tafsir dan pemahaman dari ulama yang mu’tabar yang dikenal secara luas oleh umat Islam.

2.    Mengikuti Pemahaman para Sahabat Nabi Muhammad ﷺ.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa para sahabat Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan dalam mengamalkan ajaran Islam; mereka menghormati serta mengikuti pemahaman para sahabat dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari, dan berpendapat bahwa para sahabat adalah orang-orang adil yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ dengan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam karena mereka adalah murid-murid Rasulullah ﷺ.

3.    Meyakini Bahwa Iman dan Perbuatan Saling Berkaitan.

Ahlus sunnah wal Jama’ah menganggap bahwa iman yang benar harus diikuti dengan amal perbuatan yang baik, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

4.    Menjaga Persatuan dan Kerukunan Umat Muslim.

Ahlus sunnah wal Jama’ah sangat mengutamakan persatuan dan kerukunan umat Muslim. Mereka berupaya agar tidak terjadu perpecahan dan mempromosikan sikap toleransi terhadap perbedaan pendapat dalam hal-hal yang tidak mendasar (furu’iyah). Ahlus sunnah wal Jama’ah percaya bahwa persatuan umat Muslim adalah kunci kekuatan dan kemajuan umat Islam.

5.    Menolak Bid’ah dan Ekstremisme.

Ahlus sunnah wal Jama’ah menolak segala bentuk bid’ah (inovasi ajaran agama) yang tidak memiliki dasar dalam Al-Quran dan Hadits. Mereka juga menentang ekstremisme dan kekerasan dalam menyebarkan agama. Ahlus sunnah wal Jama’ah mengajarkan umat Muslim untuk menjalani kehidupan yang seimbang, menghormati hak-hak manusia, dan mempromosikan perdamaian di dunia.

 

Catatan kaki:

[1] Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad, عَقِيدَةُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ: مَفْهُومُهَا، خَصَائِصُهَا، وَخَصَائِصُ أَهْلِهَا, Edisi ke-2 (Riyadh: Dar Ibnu Khuzaimah, 1998).

Sumber: Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Sofwan, Lc., Khittah: Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Bab Manhaj Jilid 1). Cetakan ke-2. Bantul: Pustaka At-Turots, 2026.hlm. 7-8.

Tim Redaksi

Author