WASATHIYYAH AHLUS SUNNAH DALAM MENYIKAPI KESALAHAN ULAMA
Tidak semua kesalahan ulama menghapus kemuliaan dan jasa
mereka. Lantas, bagaimana Ahlus Sunnah wal Jamaah menyikapi kekeliruan para
ulama tanpa kehilangan sikap adil dan adab terhadap mereka?
Simak penjelasan Ustadz Abu Nida` Chomsaha Sofwan, Lc
tentang prinsip Ahlus Sunnah dalam menyikapi kesalahan ulama, agar kita mampu
membedakan antara menerima kebenaran, mengoreksi kekeliruan, dan tetap menjaga
kehormatan para ulama.
Ahlus Sunnah wal Jamaah bersikap adil terhadap para ulama.
Mereka tidak menganggap ulama ma'shum dari kesalahan, namun juga tidak
menjatuhkan kehormatan mereka karena beberapa kekeliruan. Kesalahan yang lahir
dari ijtihad tidak menghapus jasa, keutamaan, dan manfaat seorang ulama bagi
umat. Karena itu, kebenarannya tetap diterima dan dimanfaatkan, sedangkan
kesalahannya dijelaskan dengan adab dan berdasarkan dalil ketika masih hidup.
Inilah manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi kesalahan para ulama.
Prinsip Ahlus
Sunnah dalam Menyikapi Kesalahan Ulama
Apabila seorang ulama melakukan kesalahan, maka yang
dikritik adalah pendapatnya, bukan kehormatannya. Kesalahan tersebut dijelaskan
berdasarkan dalil, namun tetap disertai penghormatan terhadap ilmu dan
jasa-jasanya. Syaikh Abdul Muhsin al-'Abbad hafizhahullah menjelaskan
bahwa apabila seorang ulama telah wafat, sementara diketahui memiliki
beberapa pendapat yang keliru, maka kaum muslimin tetap mengambil manfaat dari
ilmu-ilmunya. Pendapat yang benar diterima, sedangkan pendapat yang keliru
ditinggalkan. Di samping itu, kaum muslimin tetap mendoakan agar Allah l
merahmatinya dan mengampuni kekeliruannya.
Adapun apabila ulama tersebut masih hidup, maka kesalahannya dinasihatkan
dengan cara yang lembut, penuh adab, dan berdasarkan dalil, dengan harapan ia
kembali kepada kebenaran. Dengan demikian, tujuan mengoreksi kesalahan bukanlah
untuk menjatuhkan kedudukan seorang ulama, melainkan sebagai bentuk nasihat
dalam agama.
Contoh Sikap Para
Ulama terhadap Ulama yang Memiliki Sebagian Kekeliruan
Prinsip keadilan dalam menilai seseorang tampak pada sikap para ulama
terhadap sejumlah imam besar yang memiliki jasa dan kontribusi besar bagi
Islam. Di antara mereka adalah Imam Al-Baihaqi t, Imam An-Nawawi t, dan
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani t. Meskipun sebagian pendapat mereka dalam
pembahasan akidah dikoreksi oleh para ulama Ahlus Sunnah, karya-karya mereka
tetap menjadi rujukan penting dan memberikan manfaat besar bagi kaum muslimin
hingga hari ini.
Sikap ini menunjukkan bahwa kesalahan seorang ulama tidak serta-merta
menghapus seluruh kebaikan, jasa, dan manfaat ilmunya. Kebaikan dan kesalahan
harus ditimbang secara adil, sehingga umat tetap dapat mengambil manfaat dari
karya-karyanya sambil berhati-hati terhadap pendapat yang dinilai keliru.
1. Imam Al-Baihaqi t
Imam Al-Baihaqi t mendapat pujian tinggi dari Imam Adz-Dzahabi t sebagai
imam besar, hafizh hadits, ahli fikih, dan tokoh terkemuka umat Islam. Beliau
memiliki banyak karya ilmiah yang penuh keberkahan, di antaranya As-Sunan
Al-Kubra. Disebutkan bahwa jumlah karya beliau hampir mencapai seribu
juz, mencerminkan keluasan ilmunya dalam bidang hadits, fikih, serta pembahasan
โillat[1] hadits. Karena besarnya manfaat
karya-karya tersebut, para ulama menganjurkan umat Islam untuk mengambil faedah
darinya (Siyar A'lam An-Nubala').
2. Imam An-Nawawi t
Imam An-Nawawi t juga mendapat pujian tinggi dari Imam Adz-Dzahabi t
sebagai imam besar, hafizh hadits, teladan umat, serta sosok yang dikenal
dengan sifat waraโ dan kesungguhannya dalam beribadah. Beliau merupakan
ulama terkemuka dalam bidang hadits dan salah satu tokoh terbesar mazhab
Syafiโi. Meskipun sebagian ulama mengoreksi beberapa pendapat beliau dalam
masalah akidah, karya-karyanya tetap menjadi rujukan penting dan memberikan
manfaat besar bagi kaum muslimin hingga saat ini.
Dalam masalah ini berlaku kaidah yang sangat masyhur dari Imam Malik t:
ููููู
ููุคูุฎูุฐู ู
ููู ูููููููู ููููุฑูุฏูู ุฅููููุง ุตูุงุญูุจู ููุฐูุง ุงููููุจูุฑู
โSetiap orang dapat diambil maupun ditolak pendapatnya, kecuali penghuni
kubur ini.โ
Imam Malik t mengisyaratkan kubur Rasulullah ๏ทบ. Kaidah ini menunjukkan bahwa
tidak ada seorang pun yang terbebas dari kemungkinan salah selain Rasulullah ๏ทบย ย ย yang mendapat
wahyu dari Allah.
Menimbang Kebaikan
dan Kesalahan
Sebagai penutup, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah menukil perkataan
Abdullah bin Al-Mubarak t:
ุฅูุฐูุง
ุบูููุจูุชู ู
ูุญูุงุณููู ุงูุฑููุฌููู ุนูููู ู
ูุณูุงููููู ููู
ู ุชูุฐูููุฑู ู
ูุณูุงูููููุ ููุฅูุฐูุง
ุบูููุจูุชู ู
ูุณูุงููููู ุนูููู ู
ูุญูุงุณููููู ููู
ู ุชูุฐูููุฑู ู
ูุญูุงุณููููู
โApabila kebaikan seseorang lebih banyak daripada
keburukannya, maka keburukannya tidak perlu disebut-sebut. Sebaliknya, apabila
keburukannya lebih dominan daripada kebaikannya, maka kebaikannya tidak perlu
disebut-sebut.โ (Siyar Aโlam An
Nubalaโ karya Adz-Dzahabi, VIII/352, cetakan pertama)
Perkataan ini menunjukkan pentingnya bersikap adil dalam menilai manusia. Seorang muslim tidak boleh menghapus seluruh kebaikan seseorang karena satu kesalahan, dan tidak pula menutup mata terhadap kesalahannya karena banyaknya kebaikan yang dimiliki. Ahlus Sunnah menempatkan setiap orang sesuai dengan kedudukannya; menerima kebenaran yang dibawanya, menolak kesalahannya, serta tetap menjaga adab dan kehormatan para ulama.
Catatan kaki:
ย
ย Al-Badr, Abdul Muhsin bin Hamad al-Abbad. Rifqan
Ahlas-Sunnah bi-Ahlih. Kairo: Darul Minhaj, 2005.
ย
Sumber: Ustadz Abu Nidaโ Chomsaha Sofwan. Khittah
Wasathiyah (Moderasi). Cet. 1. Yogyakarta: Pustaka Atturots, 2026.hlm. 41-44
ย
KOLEKSI BUKU KARYA USTADZ ABU NIDA` CHOMSAHA
SOFWAN, Lc
Dapatkan berbagai buku karya Ustadz
Abu Nida` Chomsaha Sofwan, Lc yang membahas beragam tema keislaman, mulai dari
akidah, manhaj, ibadah, akhlak, pendidikan Islam, keluarga, hingga wawasan
kebangsaan.
Jadikan buku-buku ini sebagai
referensi untuk menambah ilmu, memperdalam pemahaman agama, dan mengambil
manfaat dari khazanah keilmuan Islam.
Temukan koleksi lengkap dan pesan
buku melalui Pustaka Atturots:
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.
Tim Redaksi
Author