WASATHIYYAH ISLAM DALAM TALAK DAN RUJUK



Wasathiyyah Islam dalam Talak dan Rujuk: Menjaga Keutuhan Rumah Tangga dengan Syariat yang Adil

Islam adalah agama yang mengajarkan wasathiyyah (sikap pertengahan), termasuk dalam mengatur kehidupan rumah tangga. Syariat Islam tidak menutup pintu perceraian ketika pernikahan tidak lagi dapat dipertahankan, tetapi juga tidak menjadikan talak sebagai perkara yang boleh dilakukan secara serampangan. Melalui aturan talak dan rujuk, Islam memadukan upaya menjaga keutuhan keluarga dengan pemberian jalan keluar yang adil ketika perpisahan menjadi pilihan terbaik.

Bagaimana prinsip pertengahan ini tercermin dalam hukum talak dan rujuk? Apa perbedaan sikap Islam dengan pandangan agama lain dalam persoalan perceraian? Simak penjelasan Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Sofwan, Lc. dalam rangkaian tulisan Khittah: Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut ini, yang menguraikan salah satu bentuk wasathiyyah dalam syariat Islam berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan hikmah di balik ketetapan Allah ﷻ.

Salah satu bentuk nyata wasathiyyah dalam syariat Islam tampak dalam hukum talak dan rujuk. Islam tidak mempersulit manusia dengan menutup jalan keluar ketika kehidupan rumah tangga tidak lagi dapat dipertahankan, dan tidak pula mempermudah perceraian hingga merusak keutuhan keluarga. Syariat Islam memadukan antara menjaga ikatan pernikahan dan memberikan solusi ketika perceraian menjadi jalan terbaik.

Allah l berfirman:

ٱلطَّلَٰقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَٰنٍ

“Talak (yang masih dapat dirujuki) itu dua kali. Setelah itu boleh rujuk dengan cara yang baik atau melepaskan dengan cara yang baik.” (Al-Qur'an Surat Al-Baqarah: 229)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memberikan kesempatan kepada suami dan istri untuk memperbaiki hubungan mereka sebelum perceraian benar-benar menjadi keputusan akhir.

1.     Sikap Yahudi

Para ulama menjelaskan bahwa dalam syariat Yahudi, perceraian dipandang bersifat final sehingga tidak dikenal sistem rujuk sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam. Setelah perceraian terjadi, hubungan suami istri dianggap telah berakhir.

2.    Sikap Nasrani

Sebaliknya, dalam ajaran Nasrani bahwa ikatan pernikahan tidak boleh diputuskan sama sekali. Menurut mereka, perceraian tidak dibenarkan dalam keadaan apa pun.

3.    Sikap Islam

Islam mengambil jalan pertengahan dalam masalah perceraian. Talak dibolehkan sebagai jalan terakhir setelah upaya perbaikan, seperti nasihat, perdamaian, dan tahkim, telah ditempuh. Pada saat yang sama, Islam menjaga keutuhan keluarga dengan memberikan kesempatan rujuk selama talak belum mencapai talak tiga dan masa idah masih berlangsung.

Syariat juga memerintahkan agar talak dan rujuk dilakukan dengan cara yang baik, tanpa kezaliman dan tanpa menjadikannya sarana menyakiti pasangan. Dengan demikian, Islam memadukan antara menjaga keutuhan rumah tangga dan memberikan solusi ketika tujuan pernikahan tidak lagi dapat diwujudkan. Inilah bentuk wasathiyyah dalam syariat Islam: tidak mengharamkan perceraian secara mutlak dan tidak pula membiarkannya tanpa aturan, tetapi mengaturnya sesuai hikmah, keadilan, dan kemaslahatan. Islam menetapkan talak dan rujuk sesuai dengan hikmah, keadilan, dan kemaslahatan yang dikehendaki Allah l.

Tim Redaksi

Author