WASATHIYYAH ISLAM DI ANTARA YAHUDI DAN NASRANI
Allah l menjadikan Islam sebagai agama yang berada di atas jalan pertengahan (wasathiyyah), jauh dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw) maupun meremehkan (tafrith). Pertengahan dalam Islam bukan berarti mengambil jalan kompromi terhadap kebenaran, melainkan istiqamah di atas wahyu yang diturunkan Allah l kepada Rasul-Nya ﷺ. Oleh karena itu, dalam berbagai persoalan akidah maupun syariat, Islam selalu menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya, tanpa melampaui batas dan tanpa menguranginya.
Allah l berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Demikianlah Kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang pertengahan.” (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 143)
Salah satu contoh nyata wasathiyyah Islam tampak dalam menyikapi Nabi Isa p. Yahudi merendahkan beliau, sedangkan Nasrani mengangkat beliau melebihi kedudukannya. Islam berada di tengah di antara kedua penyimpangan tersebut.
1. Sikap Yahudi
Yahudi adalah agama yang sering dikaitkan dengan Nabi Musa p. Agama yang dibawa oleh Nabi Musa pada asalnya adalah agama Islam (ketauhidan) dan termasuk agama samawi dan berlaku bagi kaumnya hingga diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul terakhir. Namun, setelah beliau meninggal dunia, ajaran tersebut diselewengkan oleh para pengikutnya hingga berkembang menjadi agama Yahudi. Setelah itu, syariat Yahudi telah dihapus (mansukh). Di antara penyimpangan besar kaum Yahudi adalah tuduhan mereka bahwa Maryam w berzina dan Nabi Isa p adalah anak hasil zina.
Allah l berfirman:
وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَىٰ مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا
“Dan karena kekafiran mereka serta tuduhan yang sangat keji terhadap Maryam.” (Al-Qur’an Surat An-Nisa': 156)
Mereka tidak mengakui kerasulan Nabi Isa p, bahkan menuduh beliau sebagai anak hasil perzinaan. Sikap ini merupakan bentuk tafrith (meremehkan) terhadap seorang nabi yang diutus Allah l.
2. Sikap Nasrani
Agama Nasrani juga merupakan agama samawi yang berasal dari risalah Nabi Isa p Berbeda dengan Yahudi yang merendahkan beliau, kaum Nasrani justru terjatuh ke dalam sikap ghuluw (berlebihan) terhadap Nabi Isa p hingga mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai seorang rasul. Allah l berfirman:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
“Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam.”
(Al-Qur’an Surat Al-Ma'idah: 17)
Allah l juga mengambil perjanjian dari seluruh nabi agar beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ apabila beliau diutus ketika mereka masih hidup. Namun, kaum Nasrani terjatuh ke dalam sikap ghuluw terhadap Nabi Isa p. Mereka mengangkat beliau melebihi kedudukannya sebagai seorang rasul. Allah l mengabarkan ucapan mereka:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
“Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam.”
(Al-Qur’an Surat Al-Ma'idah: 17)
Dan firman-Nya:
وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ
“Orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih adalah anak Allah.'“ (Al-Qur’an Surat At-Taubah: 30)
Bahkan pada hari kiamat Allah l akan bertanya kepada Nabi Isa p:
ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ
“Adakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” (Al-Qur’an Surat Al-Ma'idah: 116)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa kaum Nasrani telah melampaui batas dalam memuliakan Nabi Isa p hingga menisbatkan sifat-sifat ketuhanan kepada beliau.
3. Sikap Islam
Islam berada di tengah di antara dua penyimpangan tersebut. Islam tidak merendahkan Nabi Isa p sebagaimana dilakukan Yahudi, dan tidak pula mengangkat beliau menjadi Tuhan sebagaimana dilakukan Nasrani. Allah l berfirman:
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ
“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Ibunya seorang yang sangat benar. Keduanya biasa memakan makanan.” (Al-Qur’an Surat Al-Ma'idah: 75)
Nabi Isa p sendiri menegaskan kedudukannya sebagai seorang rasul. Allah l berfirman:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ
“Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian.” (Al-Qur’an Surat Ash-Shaff: 6)
Islam menetapkan bahwa Nabi Isa p adalah salah seorang rasul ulul azmi, lahir tanpa ayah sebagai mukjizat dari Allah l, dan termasuk hamba Allah yang paling mulia. Beliau bukan anak Allah, bukan Tuhan yang disembah, dan bukan pula manusia biasa yang boleh dihina atau didustakan.
[1] Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, Islam antara Sikap Berlebihan, Kasar, Ifrath, dan Tafrith (Dar Al-Qasim, 1417 H/1996 M).
Sumber: Ustadz Abu Nida’ Chomsaha Sofwan. Khittah Wasathiyah (Moderasi). Cet. 1. Yogyakarta: Pustaka Atturots, 2026,hlm. 2-6
Tim Redaksi
Author